KEAJAIBAN tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Sidoarjo dialami oleh santri Al Fatih Cakrabuana.
Pelajar kelas 3 SMP itu menjadi salah satu santri beruntung karena berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat setelah terkubur selama tiga hari di bawah reruntuhan bangunan.
Peristiwa nahas itu terjadi pada Senin (29/9/2025) sore menjelang waktu salat Asar.
Musala yang selama ini digunakan para santri mendadak ambruk dan menimpa puluhan santri yang tengah berada di dalamnya.
Al Fatih menjadi salah satu korban yang terjebak reruntuhan tanpa diketahui keberadaannya.
Setelah ditemukan dalam keadaan selamat, ia memberikan pernyataan mengejutkan.
Ia mengaku sepanjang tiga hari tertimbun bangunan itu, itu justru dalam keadaan tertidur dan bermimpi.
Menurut Abdul Hanan, ayah Al Fatih, putranya memang sudah mengalami firasat sebelum kejadian. Beberapa hari sebelumnya, ia bermimpi ada gedung roboh saat masih berada di rumah sebelum kembali ke pondok.
“Dia sempat minta pulang lebih lama dan baru ingin kembali ke pondok pada Rabu. Tapi saya memaksa untuk berangkat ke pondok hari Sabtu. Dia bermimpi, ada gedung roboh, saat masih di rumah belum berangkat ke pondok (sebelum kejadian).”kata Abdul Hanan saat ditemui JawaPos.com, Kamis (2/10/2025).
Keputusan itu membuat sang istri sempat marah setelah musibah ini terjadi. Sebab, andai saja Al Fatih kembali ke pondok Rabu seperti keinginannya, mungkin tragedi itu tidak akan menimpanya.
“Makanya ketika kejadian ini mamanya marah ke saya, coba balik hari Rabu kan enggak gini.”
Meski begitu, takdir berkata lain. Musala roboh, dan Al Fatih justru selamat setelah terkubur di antara material bangunan selama tiga hari.
“Untungnya dia enggak merasa takut dan waktu kejadian itu tertidur. Tertidur 3 hari. Jadi waktu itu sebelum salat ashar tidur, dan waktu salat ashar ketiduran musala.”
Menurut penuturan Al Fatih, dirinya tak mengetahui pasti detik-detik robohnya bangunan tersebut. Saat itu, ia sudah lebih dulu tertidur sebelum salat Asar.
“Waktu itu ketiduran di musala, terus tiba-tiba ada gempa, terus lari, terus pingsan kena batu, bangun-bangun sudah gelap,” ujarnya lirih.
“Ya (waktu itu saya lari), tapi masih kena batu.”
Ia mengingat ada teman di sebelahnya ketika bangunan mulai roboh. Namun, setelah itu semua menjadi gelap, dan ia tak bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
“Waktu itu sebelah ada teman, kenapa kok gelap? Itu bangunannya roboh.”
Selama terjebak, Al Fatih mengaku seolah-olah berada dalam dunia mimpi. Ia bermimpi diberi minum melalui selang, meski pada kenyataannya tak ada yang memberinya air.
“Waktu itu tidak tahu (dikasih minum), tapi saya mimpi minum dikasih selang, kayak mimpi gitu.”
Ia juga bermimpi berjalan di sebuah tempat gelap dengan lampu mati. Dalam mimpinya, ia merasa sedang naik sebuah mobil pick up dan terus berjalan tanpa henti.
“Selain mimpi itu, mimpi jalan-jalan, jalan-jalan di tempat yang lampunya mati, saya jalan aja terus, sambil naik pick up.”
Yang membuat banyak orang terheran-heran, Al Fatih tidak merasakan ketakutan berlebihan. Meski tubuhnya terjebak di bawah pasir dan kepalanya tertutup seng, ia tetap merasa tenang.
“Jadi waktu itu tubuh tertimbun pasir, terus bagian kepala tertutup seng,” ceritanya.
“Waktu itu ada suara orang mengetok, tok, tok, tok. Lalu saya tanya, sudah bisa keluar, Pak? Dijawab sudah bisa, lalu saya keluar merangkak sedikit demi sedikit.”
Baca Juga: Bau Anyir Menyengat di Ponpes Al Khoziny, Diduga Bau Mayat yang Tertimbun
Beruntung, kondisi fisiknya relatif aman. Ia hanya mengalami luka lecet di tangan meski tubuhnya tertimbun material bangunan selama tiga hari.
“(Enggak ada yang luka-luka) cuma ini baret-baret di tangan.”
Menurut Al Fatih, ia masih mengingat ada lima temannya saat musala mulai roboh. Namun, setelah sadar penuh, ingatannya mengenai teman-temannya menjadi samar-samar.
“Saya masih inget ada 5 teman-teman saya. Tapi waktu sadar saya nggak inget apa-apa,” pungkasnya.
Kisahnya membuat keluarga dan para santri lain tak percaya. Bagaimana mungkin seorang anak bisa bertahan hidup tanpa makan dan minum selama tiga hari di bawah reruntuhan.
Ayahnya meyakini, semua itu adalah bagian dari kuasa Tuhan. Putranya selamat bukan semata-mata karena keberuntungan, melainkan juga karena perlindungan Ilahi.
Peristiwa robohnya musala Ponpes Al Khoziny sendiri menyisakan duka mendalam. Beberapa santri lain ditemukan dalam kondisi luka-luka, bahkan ada yang meninggal dunia.
Namun, cerita Al Fatih menjadi secercah harapan di tengah musibah besar tersebut. Bagaimana seorang anak bisa melewati detik-detik maut dengan cara yang luar biasa.
Kini, Al Fatih tengah menjalani pemulihan bersama keluarganya. Ia masih terlihat lemas, tapi kondisinya semakin membaik setiap harinya. Keluarga berharap kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang. Bahwa musibah bisa datang kapan saja, tapi selalu ada kuasa Tuhan di balik semua peristiwa.
Cerita tentang mimpi Al Fatih selama tiga hari juga menjadi misteri yang sulit dijelaskan. Namun, ia sendiri merasa semua yang dialaminya hanyalah bagian dari tidur panjang.
“Pokoknya saya ingatnya cuma mimpi. Bangun-bangun, sudah ada yang mengetuk dan saya bisa keluar,” katanya menutup cerita.
Kisah ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Banyak yang menyebut pengalaman Al Fatih sebagai keajaiban kecil yang menunjukkan kebesaran Allah SWT.
Peristiwa ini akan menjadi kenangan tak terlupakan, baik bagi keluarga, para santri, maupun masyarakat luas.
Sebuah kisah luar biasa tentang perjuangan hidup seorang anak yang tidur panjang di bawah puing bangunan.
Dan semua orang akan selalu mengenang kisah Al Fatih Cakrabuana. Santri yang selamat setelah tiga hari tertidur dan bermimpi di reruntuhan musala Ponpes Al Khoziny. (jpg/abw)