DUNIA tinju Indonesia berduka atas kepergian salah satu tokoh terbaiknya. Wongso Suseno, mantan petinju legendaris asal Jawa Timur, meninggal dunia pada Senin (17/11/2025) pukul 04.30 WIB di RS RKZ Malang.
Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-80, kabar duka ini menyebar cepat dan membangkitkan gelombang belasungkawa dari berbagai kalangan olahraga nasional.
Kepergian Wongso meninggalkan luka mendalam bagi para tokoh olahraga, mantan atlet, hingga para pecinta tinju.
Dikenal sebagai sosok yang rendah hati, Wongso merupakan figur penting dalam perkembangan tinju Indonesia sejak era 1960-an.
Namanya mulai dikenal luas setelah sukses meraih medali emas pada PON 1969. Prestasi itu menjadi gerbang menuju karier profesional, di mana Wongso kemudian mencatatkan berbagai torehan bersejarah dan mengukuhkan dirinya sebagai salah satu ikon tinju Tanah Air.
Pada 1975, Wongso sukses menjadi petinju Indonesia pertama yang merebut gelar bergengsi di tingkat internasional dengan memenangkan sabuk OPBF.
Gelar itu bahkan dipertahankan dua kali, menjadikannya ikon sekaligus simbol kebangkitan tinju nasional.
Banyak petinju muda menjadikan Wongso sebagai panutan karena keteguhan mental dan kedisiplinannya yang luar biasa.
Duel klasiknya melawan Thomas Americo masih sering disebut para penggemar sebagai salah satu pertarungan terbaik yang pernah dilakukan petinju Indonesia.
Meski berlangsung puluhan tahun silam, laga itu dikenang karena keberanian Wongso menghadapi lawan yang juga berstatus petarung tangguh.
Bagi banyak orang, pertarungan itu menjadi bukti bahwa Wongso adalah petarung sejati yang tidak pernah mundur.
Keluarga menyampaikan bahwa Wongso menjalani perawatan intensif sebelum berpulang.
Mereka berterima kasih atas doa dan dukungan dari masyarakat, terutama dari keluarga besar tinju yang selama ini memberi tempat khusus bagi almarhum.
Selamat jalan, Wongso Suseno. Terima kasih atas dedikasi dan inspirasi besar yang telah diberikan bagi dunia tinju Indonesia.
Legenda itu kini berhenti bertarung, tapi namanya tetap hidup dalam sejarah. (jpg)
Editor : Ayu Oktaviana