Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Waspada! Jejaring Teroris Mulai Rekrut Anak-Anak Lewat Medsos dan Game Online

Anisa Bahril Wahdah • Rabu, 19 November 2025 | 14:35 WIB
Ilustrasi terorisme.
Ilustrasi terorisme.

 

JEJARING teroris di Indonesia kini merambah ruang digital dan menyasar anak-anak melalui berbagai platform, mulai dari media sosial hingga game online.

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror mengungkap bahwa hingga November tahun ini, terdapat 110 anak Indonesia berusia 10–18 tahun yang teridentifikasi terpapar upaya rekrutmen kelompok teroris di ruang digital tersebut.

Tidak hanya memanfaatkan media sosial dan gim daring, jaringan teroris juga bergerak melalui aplikasi pesan instan serta berbagai laman tertutup.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menyebut kelompok teroris semakin agresif dan kerap memanfaatkan kerentanan psikologis anak sebagai pintu masuk untuk menanamkan paham radikalisme dan terorisme.

”Platform digital menjadi pintu masuk utama. Mereka memulai dari ruang terbuka seperti media sosial dan game online, lalu menarik korban ke komunikasi pribadi untuk membangun kedekatan emosional sebelum menanamkan ideologi,” ungkap Trunoyudo kepada awak media di Jakarta.

Sejauh ini, Densus 88 Antiteror sudah menangkap 5 orang tersangka yang diduga berperan kuat sebagai perekrut dan pengendali anak-anak.

Para tersangka itu terdiri atas FB alias YT (Medan), LN (Banggai), PB alias BNS (Sleman), NSPO (Tegal), JJS alias BS (Agam). Terbaru, polisi menangkap 2 tersangka pada 17 November lalu.

Keduanya ditangkap di Sumatera Barat dan Jawa Tengah. Trunoyudo menyatakan bahwa mereka berperan sebagai perekrut inti.

Para tersangka terbukti melakukan pendekatan sistematis untuk mempengaruhi anak-anak agar bersedia bergabung dalam jaringan terorisme, bahkan tersangka mendorong mereka melakukan aksi teror.

”Video pendek, animasi, meme, bahkan musik dijadikan alat untuk menarik perhatian. Mereka memanfaatkan rasa ingin tahu, kondisi bullying, broken home, hingga pencarian jati diri anak-anak,” terang dia.

Jenderal bintang satu Polri itu menyampaikan bahwa jejaring teroris itu biasanya menebar jala melalui platform umum seperti Facebook, Instagram, dan game online.

Setelah itu, mereka membawa target yang sudah terjaring masuk dalam komunikasi pribadi melalui WhatsApp atau Telegram. Dia memastikan, pola yang sudah terbaca itu akan terus diawasi untuk melindungi anak-anak Indonesia. (jpg)

Editor : Ayu Oktaviana
#teroris #jaringan terorisme #psikologis anak #bullying #broken home #kelompok teroris #paham radikalisme #Detasemen Khusus #game online #facebook #ideologi