Secercah Harapan dari Smartwatch Kopilot ATR 42-500 yang Jatuh di Maros
Heron• Selasa, 20 Januari 2026 | 17:15 WIB
Serpihan pesawat ATR 42-500 ditemukan Tim Basarnas Gabungan di lereng puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Basarnas)
Tim SAR Sudah Temukan Dua Jenazah Korban
MAROS - Kabar penuh harapan datang dari keluarga kopilot pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan.
Harapan itu muncul setelah ponsel milik kopilot bernama Farhan Gunawan ditemukan Tim SAR Gabungan pada Minggu (18/1).
Dari perangkat tersebut, terungkap data langkah kaki yang terus bertambah dan diduga berasal dari smartwatch yang dikenakan Farhan.
Informasi yang beredar luas di media sosial menyebutkan, pada pukul 18.53 WITA tercatat sebanyak 9.013 langkah, lalu meningkat signifikan menjadi 13.647 langkah pada pukul 22.46 WITA di hari yang sama.
Meski belum ada pernyataan resmi dari Tim SAR terkait kondisi Farhan, data tersebut memunculkan secercah optimisme di tengah pencarian yang masih berlangsung.
Seorang perempuan yang mengaku sebagai kerabat Farhan menyampaikan hal tersebut melalui video yang beredar di media sosial.
Dengan suara bergetar menahan tangis, ia menjelaskan bahwa adiknya, Dian—yang merupakan kekasih Farhan selama lima tahun—belum sanggup menghadapi media karena masih mengalami syok berat.
Ia juga menjelaskan bahwa pesawat yang diawaki Farhan dilaporkan hilang kontak pada Sabtu siang (17/1).
Keesokan harinya, Tim SAR Gabungan mengonfirmasi pesawat tersebut jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep. Ponsel Farhan kemudian ditemukan dalam proses pencarian dan kini berada di tangan pihak keluarga.
Ponsel tersebut terhubung dengan smartwatch yang merekam aktivitas langkah kaki, yang terdeteksi bergerak dari sekitar pukul 18.00 hingga lewat pukul 22.00 WITA.
Temuan ini membuat keluarga berharap Farhan masih bertahan dan dapat segera ditemukan.
Memasuki hari ketiga pencarian, pihak keluarga pun memohon perhatian dan dukungan maksimal dari pemerintah. Mereka berharap jumlah personel SAR dapat ditambah serta melibatkan bantuan helikopter untuk memperluas jangkauan pencarian di area hutan yang sulit diakses.
Berdasarkan data manifest, pesawat ATR 42-500 tersebut dipiloti oleh Kapten Andy Dahananto dengan Farhan Gunawan sebagai kopilot.
Awak pesawat lainnya terdiri dari Hariadi, Restu Adi P, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita S. Sementara penumpang di dalam pesawat adalah Deden, Ferry, dan Yoga yang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Tim SAR Sudah Temukan Dua Jenazah Korban
Sementara itu dalam Operasi SAR pada Minggu (18/1) dan Senin (19/1), Tim SAR Gabungan menemukan 2 jenazah korban kecelakaan Pesawat ATR 42-500.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan bahwa posisi korban lain diperkirakan berada di bawah tebing curam dengan kedalaman mencapai 500 meter.
Syafii menjelaskan, sampai saat ini proses evakuasi masih terus berlangsung. Pencarian terhadap korban juga akan terus dilakukan dengan memaksimalkan tim rescue darat yang telah mengenal dan menguasai jalur.
Mereka terus berupaya menembus medan untuk menjangkau seluruh titik yang diduga menjadi lokasi korban.
”Seluruh personel SAR gabungan bekerja dengan penuh dedikasi, kehati-hatian, dan semangat kebersamaan. Kami mohon doa dari seluruh masyarakat agar operasi ini diberikan kelancaran dan keselamatan,” ujarnya.