KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Polemik pelaporan terhadap Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, terus bergulir. Menanggapi hal tersebut, juru bicara JK, Husain Abdullah, memberikan klarifikasi terkait isi ceramah yang disampaikan di Universitas Gadjah Mada.
Husain menilai, reaksi yang muncul di publik perlu disikapi secara bijak dengan melihat konteks utuh dari pernyataan tersebut. Ia menyebut, potongan video yang beredar luas di media sosial tidak menggambarkan keseluruhan pesan yang ingin disampaikan JK.
Baca Juga: Jusuf Kalla Dilaporkan ke Polda Metro Jaya Atas Dugaan Penistaan Agama saat Ceramah di UGM
“Inti pesan yang disampaikan Pak JK saat ceramah di UGM adalah semacam pembelajaran bagaimana mendamaikan dua pihak yang bertikai,” katanya, mengutip Suara.com, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, dalam ceramah itu JK tidak sedang menyampaikan pandangan pribadi yang membenarkan kekerasan. Sebaliknya, ia menggambarkan kondisi sosial yang terjadi saat konflik di Poso dan Ambon berlangsung.
“Bukan pendapat pribadi Pak JK. Realitasnya saat itu, kedua pihak yang berkonflik (Islam dan Kristen) menggunakan jargon agama untuk saling membunuh,” ujarnya.
Husain menjelaskan, pada masa konflik tersebut, muncul keyakinan di antara pihak-pihak yang bertikai bahwa tindakan kekerasan atas nama agama akan berujung pada ganjaran surga.
Baca Juga: Jokowi Merespons Santai Usai Jusuf Kalla Memintanya Menunjukkan Ijazah
“Pemahaman mereka atau mereka beranggapan, baik yang Islam maupun yang Kristen jika membunuh lawan atau terbunuh akan masuk surga,” imbuhnya.
Ia menambahkan, konflik di Poso dan Ambon merupakan konflik kompleks yang sarat nuansa SARA dan sulit dihentikan, dengan korban jiwa dalam jumlah besar.
“Konflik Poso dan Ambon disebut konflik bernuansa SARA yang sulit dihentikan. Memakan korban jiwa ribuan orang. 2000 orang tewas di Poso, sedangkan di Ambon mencapai 5000 orang tewas,” jelasnya.
Lebih lanjut, Husain menegaskan bahwa pesan utama dalam ceramah tersebut justru untuk meluruskan pemahaman keliru yang berkembang di tengah konflik. JK, kata dia, ingin menunjukkan bahwa tidak ada ajaran agama yang membenarkan pembunuhan.
“Untuk mengatasinya, kata Pak JK saat ceramah di UGM, pemahaman kelompok yang bertikai ini harus diluruskan. Karena keduanya telah melakukan kekeliruan menyimpang dari ajaran agama. Maka Pak JK mengatakan anda semua akan masuk neraka jika saling membunuh bukan masuk surga. Karena tidak ada agama yg mengajarkan untuk bertindak demikian,” tambahnya.
Di akhir penjelasannya, Husain menekankan bahwa apa yang disampaikan JK merupakan refleksi pengalaman dalam upaya mendamaikan konflik, bukan pernyataan normatif yang berdiri sendiri.
“Pak JK menyampaikan lesson learned. Mengisahkan pendekatan yang ia lakukan ketika hendak mendamaikan pihak yang bertikai di Poso maupun di Ambon, dengan terlebih dahulu mengubah paradigma yang memotivasi mereka saat berkonflik,” tandasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana