Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Harga Plastik Melonjak, Ketua DPR RI Dorong UMKM Gunakan Daun Pisang dan Kemasan Ramah Lingkungan

Miftahul Ilma • Jumat, 17 April 2026 | 11:00 WIB
Daun pisang pengganti plastik.Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com
Daun pisang pengganti plastik.Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com
 
 
KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Kenaikan harga plastik yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mendapat sorotan dari Ketua DPR RI Puan Maharani.
 
Lonjakan harga yang mencapai 30 hingga 80 persen dinilai memberi tekanan serius, terutama bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada kemasan sekali pakai.
 
Baca Juga: Harga Plastik Naik, Pemprov Kalteng Fokus Edukasi soal Ketergantungan dan Pantau Pergerakan 
 
Menurut Puan, situasi ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai beban, tetapi juga peluang untuk beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan.
 
“Meskipun plastik dibutuhkan karena kepraktisannya, beban ekologinya sangat tinggi. Maka, kenaikan harga plastik ini bisa menjadi momentum untuk kita beralih ke ekonomi hijau,” ujar Puan dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
 
Kenaikan harga plastik sendiri dipicu oleh gangguan rantai pasok global akibat konflik geopolitik. Di sisi lain, industri dalam negeri masih sangat bergantung pada bahan baku impor yang porsinya mencapai sekitar 60 persen.
 
Kondisi ini membuat pelaku UMKM, khususnya di sektor makanan dan minuman, harus menanggung beban produksi yang semakin tinggi.
 
Baca Juga: Gubernur Agustiar Sabran Sarankan Warga Gunakan Daun Pisang atau Bahan Tradisional untuk Bungkus di Tengah Kenaikan Harga Plastik
 
“Harga plastik yang melonjak hingga berkali-kali lipat dan pasokan mulai sulit diperoleh menyebabkan pelaku usaha kecil yang selama ini bekerja dengan keuntungan terbatas semakin kesulitan dari sisi ekonomi,” paparnya.
 
Sebagai jalan keluar, Puan mengajak pelaku usaha untuk kembali memanfaatkan bahan kemasan tradisional yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
 
“Di pendahulu kita dulu, penggunaan kemasan dari bahan alami seperti daun menjadi alternatif utama. Pedagang makanan atau pangan bisa kembali memanfaatkan kemasan ramah lingkungan seperti itu,” tuturnya.
 
Ia menilai penggunaan daun pisang atau daun jati bukan hanya menekan biaya, tetapi juga memberi nilai tambah pada produk, baik dari sisi daya tahan maupun aroma makanan.
 
“Dengan memakai kemasan dari bahan organik, pelaku usaha tak hanya bisa menghindari tekanan ekonomi karena tingginya bahan baku dari impor, tapi juga bisa menambah nilai jual,” ungkap Puan.
 
Baca Juga: Pandangan Pengamat Ekonomi soal Kenaikan Harga Plastik, Indonesia Belum Lepas dari Ketergantungan
 
“Termasuk dari segi keunikannya yang buat beberapa kalangan masyarakat bisa menjadi daya tarik untuk membeli,” sambungnya.
 
Selain berdampak pada ekonomi, langkah tersebut juga dinilai sejalan dengan upaya pengurangan sampah plastik yang terus meningkat setiap tahun.
 
“Kemasan organik yang sarat terhadap kearifan lokal juga merupakan inovasi ekonomi kreatif. Selain mendukung warisan budaya Indonesia, kita juga turut mengkampanyekan gerakan ramah lingkungan,” ujar Puan.
 
Meski demikian, ia mengakui perubahan kebiasaan tidak bisa terjadi secara instan. Ia menyarankan langkah awal bisa dimulai dari sektor usaha kuliner.
 
“Mungkin bisa dimulai dari rumah makan untuk tidak memakai wadah plastik sekali pakai saat menyajikan makanan dan minuman untuk pembelian makan di tempat,” kata Puan.
 
Ia juga menekankan perlunya dukungan pemerintah dalam memfasilitasi peralihan tersebut, mulai dari regulasi hingga penyediaan alternatif kemasan bagi masyarakat dan pelaku usaha.
 
Baca Juga: Curhatan Pedagang di Palangka Raya Ketika Harga Plastik Terus Melejit, Banyak Pelanggan Mengeluh
 
“Dan tentunya memang harus ada dukungan juga bagi Pemerintah untuk transisi penggantian kemasan dari bahan plastik ke kemasan berbahan alami,” lanjut Puan.
 
Puan optimistis, jika sistem dan kebijakan mendukung, penggunaan kemasan organik dapat kembali menjadi pilihan utama di tengah masyarakat.
 
“Pada dasarnya masyarakat akan menyesuaikan kebiasaan yang ada. Apabila sistemnya mendukung, saya yakin bukan tidak mungkin bahan organik bisa menggantikan kemasan plastik sekali pakai,” ucap Puan.
 
“Pemerintah perlu memberikan support dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat terhadap alternatif kemasan, khususnya bagi para pelaku usaha dan konsumen. Kami di DPR akan ikut melakukan pengawasan sesuai tugas dan kewenangan dewan,” tutupnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana
#harga plastik #Ketua DPR RI Puan Maharani #kemasan ramah lingkungan #konflik geopolitik #kemasan tradisional