KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Panggilan masuk tanpa suara yang tiba-tiba terputus kini makin sering dialami pengguna ponsel. Fenomena ini dikenal sebagai call hening dan disebut berpotensi menjadi bagian dari pola penipuan digital.
Kementerian Komunikasi dan Digital menilai praktik panggilan mencurigakan masih menjadi salah satu cara yang kerap digunakan pelaku kejahatan untuk menjaring korban.
Biasanya, pelaku menyamar sebagai pihak tertentu agar calon korban percaya dan mau merespons.
“Sebagai langkah pencegahan, masyarakat juga didorong untuk melaporkan setiap upaya penipuan yang diterima. Laporan terkait scam call dan nomor mencurigakan dapat disampaikan melalui platform aduannomor.id guna mendukung upaya perlindungan ruang digital yang aman dan tepercaya,” tulis Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi dalam laman resminya.
Dalam praktik call hening, pelaku umumnya hanya melakukan panggilan singkat tanpa suara. Tujuannya untuk memastikan nomor yang dituju aktif. Setelah itu, korban diharapkan terpancing untuk menelepon balik, yang bisa membuka celah pencurian data.
Mengutip Detikcom, Kamis (23/4/2026), Dosen Ilmu Komputer IPB University, Heru Sukoco, mengingatkan agar masyarakat tidak menanggapi panggilan semacam ini. Ia menyarankan agar nomor asing diabaikan, tidak diangkat, apalagi dihubungi kembali.
“Jangan angkat, jangan telepon balik, blokir dan abaikan karena panggilan tersebut merupakan tahapan awal dari penipuan berbasis telepon,” ujarnya.
Ia menjelaskan, jika panggilan tersebut direspons, korban bisa diarahkan ke tahap lanjutan, seperti permintaan kode OTP, phishing, hingga jebakan panggilan berbiaya tinggi.
“Tindakan ini adalah yang paling sering menjebak, karena banyak scam menggunakan teknik ‘missed call bait’,” imbuhnya.
Selain itu, jika panggilan sudah terlanjur dijawab, masyarakat diminta berhati-hati dalam merespons. Mengucapkan kata sederhana seperti “ya” pun berisiko disalahgunakan oleh pelaku.
“Suara (kita) tersebut dapat direkam dan disalahgunakan untuk manipulasi data pribadi seperti OTP, NIK, atau informasi perbankan,” sarannya.
Untuk mengurangi risiko, pengguna disarankan memanfaatkan fitur keamanan pada ponsel seperti pemblokiran nomor tidak dikenal, serta memasang aplikasi pendeteksi spam. Edukasi juga dinilai penting, terutama bagi kelompok rentan seperti orang tua dan anak-anak agar tidak mudah terjebak modus serupa.(*)
Editor : Ayu Oktaviana