Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Katanya Harga Bersaing, Kok?? Kopdes Merah Putih Ambil Sembako di Gudang Indomaret

Agus Pramono • Senin, 18 Mei 2026 | 14:40 WIB
Truk Kopdes di Surabaya belanja kebutuhan sembako di gudang Indomaret. TikTok/@anas_tralala
Truk Kopdes di Surabaya belanja kebutuhan sembako di gudang Indomaret. TikTok/@anas_tralala

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Media sosial kembali dihebohkan dengan beredarnya video sebuah truk bertuliskan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) yang terlihat mengambil stok sembako dari gudang milik PT Indomarco Prismatama, perusahaan pengelola jaringan ritel Indomaret.

Video yang diunggah akun TikTok anas_tralala itu langsung memicu perdebatan publik. Banyak warganet mempertanyakan arah konsep koperasi desa yang sebelumnya digadang-gadang menjadi solusi penguatan UMKM lokal dan kemandirian ekonomi desa.

Baca Juga: Pengadaan 20.600 Truk untuk Kopdes Merah Putih, Dugaan Kontraknya Senilai Rp10,83 Triliun

“Di mana letak membantu UMKM-nya?” tulis salah satu netizen, Senin (18/5/2026).
Komentar lain juga menyoroti ketergantungan koperasi terhadap distributor besar.

“Katanya bantu UKM, kok belanja barangnya di pabrik milik grup besar,” tulis pengguna media sosial lainnya.

Dalam video viral tersebut, terlihat sejumlah armada truk beratribut koperasi desa antre mengambil stok barang kebutuhan pokok di gudang PT Indomarco Prismatama di kawasan Surabaya, Jawa Timur.

Baca Juga: Viral Dugaan “Main Fee” Kopdes Merah Putih di Kediri, Dandim Buka Suara dan Bantah Jual Beli Proyek

Sorotan publik pun semakin menguat lantaran konsep koperasi desa selama ini identik dengan penampungan hasil pertanian warga, simpan pinjam masyarakat, hingga penguatan ekonomi berbasis produksi lokal desa.

Baca Juga: Rekrutmen 30 Ribu Manajer Koperasi Desa Merah Putih, Tersedia Kuota untuk Kalteng

Kini, sebagian masyarakat mempertanyakan apakah Kopdes Merah Putih benar-benar mampu menjadi motor ekonomi mandiri desa jika distribusi barang pokok masih bergantung pada jaringan perusahaan ritel besar.

“Kalau koperasi desa masih bergantung penuh pada distributor besar untuk suplai barang pokok, masyarakat jadi bertanya di mana letak kemandiriannya. Publik ingin ada keberpihakan nyata kepada UMKM desa,” ujar Yuwono, salah satu warganet.

Meski demikian, tidak sedikit pula masyarakat yang menilai langkah koperasi mengambil stok dari distributor besar merupakan hal wajar dalam sistem distribusi modern.

Baca Juga: Gaji 35 Ribu Pegawai Koperasi Dipertanyakan, Menkeu Purbaya: Saya Belum Tahu Sumber Anggarannya

Menurut mereka, kerja sama dengan distributor besar diperlukan untuk menjaga ketersediaan barang sekaligus memastikan harga kebutuhan pokok tetap stabil di tingkat desa.

Di atas kertas, program Kopdes Merah Putih memang disebut hadir untuk membantu pelaku usaha kecil di desa melalui akses permodalan, distribusi produk, hingga penguatan pemasaran berbasis komunitas.

Menanggapi polemik tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tidak bertujuan menyaingi usaha ritel modern seperti Alfamart maupun Indomaret.

Ia mengaku telah bertemu dengan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto untuk membahas skema pengembangan koperasi desa tersebut.

Menurut Budi, tujuan utama KDMP adalah mendekatkan jalur distribusi barang kepada masyarakat desa sekaligus memberdayakan ekonomi lokal.

Baca Juga: Kopdeskel Merah Putih Siap Berkontribusi Majukan Ekonomi Desa

“Ingin lebih dekat distribusinya kepada konsumen yang ada di desa. Ini kesempatan bagus untuk berkolaborasi dengan minimarket, distributor untuk menyalurkan produknya melalui KDMP,” ujar Budi, Kamis (26/2/2026).

Ia menilai pola kemitraan tersebut sebenarnya mirip dengan sistem yang selama ini dijalankan toko kelontong, di mana distributor maupun ritel modern menyuplai barang kebutuhan pokok untuk dijual kembali ke masyarakat.

“KDMP sangat bagus, bisa berfungsi sebagai minimarket dengan variasi produk lebih banyak. Menyediakan produk alat pertanian, pupuk, obat-obatan,” tambahnya.

Meski begitu, perdebatan di tengah masyarakat masih terus bergulir. Sebagian publik berharap koperasi desa ke depan tidak hanya menjadi perpanjangan distribusi perusahaan besar, tetapi juga mampu membuka ruang lebih luas bagi produk dan usaha lokal desa untuk berkembang.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
#pt indomarco prismatama #kdmp #umkm #Koperasi Desa #kebutuhan pokok