Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Bahlil Terkaget-kaget Stok Batu Bara di PLN Hampir Habis Bulan Juni Ini, Pantas Listrik Padam Bergilir

Agus Pramono • Kamis, 25 Juni 2026 | 22:19 WIB
MENJALANKAN TUGAS : Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (dua dari kiri), Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo (dua dari kanan), Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Ketenagalistrikan Rizal Calvary Marimbo (kiri) dan General Manager PLN UID Kalselteng Ahmad Syauki (kanan) meninjau kesiapan GIS 150 kV Ulin di Banjarmasin, Rabu (19/03/2025).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (dua dari kiri) buka suara soal pemadaman listrik bergilir.(PLN)

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengevaluasi kinerja PT PLN (Persero) menyusul terjadinya pemadaman listrik bergilir yang sempat melanda banyak wilayah.

 Evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi stabilitas pasokan listrik nasional.

Dalam acara CNBC Energy Forum 2026 di Jakarta, Kamis (25/6/2026), Bahlil mengungkapkan bahwa stok batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik PLN mengalami penurunan signifikan hingga pertengahan tahun.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan terkait pengelolaan pasokan energi primer untuk pembangkit.

Bahlil menyebut pasokan batu bara sudah mulai tipis pada Juni 2026. Hal inilah  kemudian membuat Bahlil terheran-heran dan bertanya-tanya.

“Artinya ini dari 1 Januari sampai dengan bulan Juni, dari 154 juta kurang 141 juta, itu kan berarti tinggal 13 juta. Masa batu bara habis di bulan enam? Ini ilmu Abuleke apa lagi? Ya ini aku jujur-jujur saja nih, berarti kan ada sesuatu,” ujar Bahlil.

Setelah dilakukan pemeriksaan, Kementerian ESDM menemukan bahwa salah satu persoalan utama berasal dari kualitas batu bara yang diterima PLN.

Batu bara yang tersedia memiliki nilai kalori di bawah kebutuhan pembangkit sehingga diperlukan volume yang lebih besar untuk menghasilkan listrik dalam jumlah yang sama.

Menurut Bahlil, PLN seharusnya dapat mengantisipasi persoalan tersebut sejak awal melalui perencanaan dan pengelolaan pasokan yang lebih baik.

Ia menilai masalah seperti ini tidak semestinya baru dilaporkan setelah dampaknya mulai dirasakan masyarakat.

“Ternyata kita cek ada medium batu bara yang kalorinya di atas 5.000 untuk campur. Inilah yang dibutuhkan. Nah kalau pemerintah memberikan DMO teknisnya kan kamu (PLN), perusahaan gitu loh. Jangan air sudah di batang leher baru teriak. Nah makanya saya dua minggu terakhir ini sudah jadi project manager PLN,” tandasnya.

Sementara itu, Anggota Dewan Energi Nasional, M Fadhil Hasan, membenarkan bahwa gangguan pasokan batu bara menjadi salah satu penyebab pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah daerah dalam beberapa waktu terakhir.

Selain faktor pasokan energi, kata Fadhil, terdapat pula kendala teknis berupa perbaikan dan kerusakan pada dua unit pembangkit listrik. Namun, persoalan teknis tersebut kini telah diselesaikan.

“Pasokan batu bara dan juga adanya perbaikan ataupun kerusakan teknis dari dua pembangkit itu. Namun, dua hal yang terkait dengan perbaikan pembangkit itu sendiri sudah selesai. Sekarang pasokan batu bara sudah mulai lancar,” ujarnya.

Fadhil menjelaskan, akar persoalan tidak hanya terletak pada distribusi batu bara, tetapi juga pada mekanisme pemenuhan kebutuhan batu bara domestik atau DMO.

 Menurutnya, keterlambatan pasokan dipengaruhi dinamika harga komoditas global serta meningkatnya biaya produksi batu bara di dalam negeri.

Pemerintah berharap persoalan pasokan energi primer dapat segera diatasi agar keandalan sistem kelistrikan nasional tetap terjaga dan kejadian pemadaman listrik serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.(*)

 

Editor : Agus Pramono
#stok batu bara #pln #bahlil lahadalia #pemadaman bergilir