KALTENGPOS.JAWAPOS.COM- Di saat biaya pelayanan kesehatan masih menjadi beban bagi sebagian masyarakat, sebuah klinik di Cianjur menerapkan cara berbeda agar warga tetap bisa memperoleh pengobatan.
Klinik Harapan Sehat yang dipimpin dr Yusuf Nugraha membebaskan pasien menentukan sendiri kemampuan mereka untuk membayar biaya berobat melalui sistem yang dikenal sebagai konsep ijab kabul.
Dalam mekanisme tersebut, pasien terlebih dahulu menyampaikan kesanggupan membayar sebelum mendapatkan pelayanan medis. Tidak ada tarif yang dipatok secara mutlak. Besaran pembayaran sepenuhnya disesuaikan dengan kondisi ekonomi masing-masing pasien.
Mengutip akun Instagram @pandemictalks, Rabu (22/7/2026), nominal yang diberikan warga sangat beragam. Ada yang hanya mampu membayar Rp5.000 atau Rp20.000. Sebagian lainnya mengganti biaya layanan menggunakan hasil panen, makanan, barang layak pakai, bahkan botol plastik bekas.
Sementara bagi masyarakat yang benar-benar tidak memiliki kemampuan finansial, pelayanan tetap diberikan tanpa dipungut biaya.
Menurut Dokter Yusuf, gagasan tersebut muncul karena ia meyakini bahwa setiap orang berhak memperoleh layanan kesehatan tanpa dibatasi persoalan ekonomi.
“Saya ingin memastikan semua orang tetap bisa berobat tanpa terkendala biaya. Kesehatan adalah hak fundamental setiap manusia,” ujarnya.
Ia mengaku tidak ingin ada masyarakat yang memilih menanggung sakit hanya karena tidak sanggup membayar biaya pengobatan. Baginya, fasilitas kesehatan semestinya menjadi tempat mencari solusi, bukan justru menambah beban warga yang sedang menghadapi kesulitan.
Meski memberi keleluasaan kepada pasien dalam menentukan biaya berobat, operasional klinik tetap berjalan normal melalui sistem subsidi silang.
Pasien yang memiliki kemampuan ekonomi membayar sesuai tarif pelayanan sehingga dana tersebut dapat digunakan untuk membantu pembiayaan pasien lain yang kurang mampu sekaligus mendukung keberlangsungan klinik.
Model pelayanan tersebut membuktikan bahwa misi sosial dan pengelolaan fasilitas kesehatan dapat berjalan berdampingan tanpa harus saling mengorbankan.
Dokter Yusuf juga tidak khawatir pendekatan tersebut akan membuat kliniknya mengalami kerugian. Ia justru menilai perjalanan Klinik Harapan Sehat selama hampir dua dekade menjadi bukti bahwa berbagi kepada masyarakat tidak menghambat perkembangan usaha.
Klinik yang berdiri sejak 2008 itu awalnya hanya menempati bangunan sederhana berukuran sekitar 3 x 4 meter. Kini, fasilitas tersebut telah berkembang menjadi gedung dua lantai yang setiap harinya melayani sekitar 250 pasien.
Bagi Yusuf, keberhasilan itu merupakan bentuk keberkahan yang tidak selalu dapat dijelaskan dengan perhitungan bisnis semata.
“Dalam matematika manusia, 10 dikurangi 11 hasilnya minus 1. Tapi dalam matematika Allah, justru bisa menjadi sejuta,” tuturnya.
Bagi warga sekitar, konsep ijab kabul tidak hanya menghadirkan kemudahan dalam membayar biaya pengobatan, tetapi juga memberi kepastian bahwa layanan kesehatan tetap dapat diakses siapa pun tanpa memandang kondisi ekonomi.
Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa empati dan nilai kemanusiaan masih dapat menjadi fondasi utama dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. (*)
Editor : Ayu Oktaviana