KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Kasus dugaan keracunan massal usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 6 Semarang menjadi perhatian. Hingga Minggu (2/8/2026), jumlah korban terus bertambah menjadi 707 orang, terdiri dari 693 siswa dan 14 guru.
Pemerintah melalui Dinas Kesehatan Kota Semarang dan Badan Gizi Nasional (BGN) masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut. Sementara itu, distribusi makanan dari penyelenggara dapur MBG terkait telah dihentikan sementara sebagai langkah antisipasi.
Berikut rangkuman peristiwa yang dikumpulkan dari berbagai sumber pada Senin (3/8/2026):
707 Orang Alami Gejala Diduga Keracunan
Kasus bermula setelah siswa dan guru menyantap menu MBG pada Kamis (30/7/2026). Beberapa jam kemudian, banyak penerima makanan mulai mengeluhkan mual, muntah, diare, sakit perut hingga pusing.
Awalnya pihak sekolah mencatat sekitar 690 siswa mengalami gejala melalui pendataan menggunakan Google Form. Namun, data terbaru dari Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukkan jumlah korban meningkat menjadi 707 orang, terdiri dari 693 siswa dan 14 guru.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan sebagian besar korban hanya mengalami gejala ringan, sementara belasan orang sempat menjalani perawatan.
“Jadi ada sekitar 700-an sekian, kemudian sebagian itu ada yang mual, ada yang buang air dan seterusnya. Dari sekitar 700-an itu yang dirawat, yang dirawat 13. Ada yang di rumah sakit, ada yang di puskesmas. Alhamdulillah tadi sudah kita tengok kondisinya sudah baik,” katanya.
Menu Ayam Rendang Jadi Sorotan
Sejumlah siswa mengaku mulai curiga setelah hampir seluruh teman sekelas mengalami keluhan serupa pada malam hari setelah menyantap MBG. Menu yang disajikan saat itu berupa ayam rendang dan daun singkong.
Beberapa siswa mengaku menemukan kondisi ayam yang diduga belum matang sempurna. Bahkan ada yang mengaku melihat ulat pada sayuran.
Meski demikian, dugaan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sehingga belum dapat dipastikan sebagai penyebab keracunan.
Meningkatnya jumlah siswa yang mengalami keluhan membuat pihak sekolah mengambil langkah cepat.
Pada Jumat (31/7/2026), siswa dipulangkan lebih awal setelah tim medis dari Puskesmas Halmahera bersama ambulans datang ke sekolah untuk memberikan penanganan.
Sejumlah siswa mendapat perawatan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS), sementara beberapa lainnya dirujuk ke rumah sakit karena kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
SPPG Dihentikan Sementara
Sebagai langkah kehati-hatian, Dinas Kesehatan Kota Semarang menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi yang memproduksi makanan tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam menegaskan penghentian dilakukan hingga seluruh proses investigasi selesai.
“Sebagai langkah kehati-hatian, distribusi makanan dari penyelenggara SPPG terkait dihentikan sementara hingga proses penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan,” ujarnya.
Selain menghentikan distribusi makanan, tim juga melakukan penyelidikan epidemiologi dan mengambil sampel makanan maupun spesimen korban untuk diuji di laboratorium.
“Kami belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian sebelum seluruh proses pemeriksaan laboratorium selesai. Karena itu, kami mengimbau masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu hasil pemeriksaan yang sedang berjalan,” bebernya.
BGN Duga Masalah Berasal dari Bahan Makanan dan Proses Memasak
Hasil investigasi awal Badan Gizi Nasional mengarah pada dugaan adanya persoalan pada beberapa bahan makanan maupun proses pengolahan.
Menurut Sudaryono, seluruh bahan yang diduga menjadi penyebab masih diperiksa di laboratorium sehingga belum dapat dipastikan.
“Sejauh ini investigasi yang kami terima adalah ada beberapa bahan, ya ada daun singkong, ada bumbu rendang dan lain-lain, kita lagi cek minta dari Dinas Kesehatan untuk dicek lab-nya.”
Selain itu, BGN juga menduga makanan dimasak terlalu lama sebelum didistribusikan kepada siswa.
“Kita butuh waktu paling tidak ya 7 hari, 5 hari kerja begitu untuk sampai dengan hasilnya. Kemudian kita bisa lihat hasil lab-nya. Tapi sejauh ini investigasi kita adalah dari bahan-bahan itu dan diduga memasaknya jauh lebih awal,” jelas Sudaryono.
Biaya Perawatan Ditanggung BGN
Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai pembiayaan pasien yang menjalani perawatan.
Pemberi Informasi dan Pelayanan Pengaduan (PIPP) RS Permata Medika Semarang, Bayu Widhiasmara, menjelaskan pasien rawat inap akibat dugaan keracunan tidak menggunakan pembiayaan BPJS Kesehatan.
Seluruh biaya pengobatan dialihkan dan ditanggung oleh Badan Gizi Nasional.
“Rawat inap karena keracunan ini awalnya memang tidak dijamin BPJS. Namun, dialihkan pembiayaannya oleh BGN,” katanya.
Menurut Bayu, kondisi seluruh pasien yang sempat dirawat terus membaik dan pasien rawat inap telah diperbolehkan pulang pada Minggu (2/8/2026).
Ia juga menyebut gejala tidak langsung muncul setelah makanan dikonsumsi, melainkan baru dirasakan beberapa jam kemudian.
“Info dari tim medis, berselang satu hari setelah kejadian itu kemudian diperiksa. Memang, keracunannya baru terasa setelah beberapa jam usai mengonsumsi makanan,” bebernya.
Hingga saat ini, pemerintah belum menyimpulkan penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut.
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan spesimen korban diperkirakan baru akan diketahui dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah meminta masyarakat tidak berspekulasi sebelum hasil investigasi ilmiah diumumkan secara resmi. (*)
Editor : Ayu Oktaviana