Baca Juga: Selama Ada MBG, Jalur Kereta Api Kalimantan Tak Akan Terealisasi
Sementara di Kalimantan, pemerintah didorong segera mempersiapkan pembangunan jaringan kereta api yang dapat memperkuat konektivitas antardaerah sekaligus mendukung pergerakan masyarakat dan logistik.
Arahan tersebut disampaikan Prabowo saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026).
Trans-Kalimantan Jadi Penguat Konektivitas IKN
Pembangunan Kereta Api Trans-Kalimantan menjadi salah satu proyek yang diproyeksikan memperkuat konektivitas wilayah Kalimantan sekaligus mendukung pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Baca Juga: Inilah 2 Alternatif Jalur Kereta Api di Kalteng Jika Proyek Ini Terealisasi
Dengan panjang rencana jaringan mencapai 2.772 kilometer, proyek ini diharapkan mampu menghubungkan berbagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kalimantan.
Konektivitas tersebut juga diarahkan untuk memperkuat hubungan antara kawasan inti IKN dengan wilayah penyangga dan daerah-daerah lain di Kalimantan.
Masuknya kembali proyek Trans-Kalimantan dalam agenda pembangunan nasional hingga 2045 menunjukkan Kalimantan tetap menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian dalam strategi pemerataan pembangunan.
Jaringan rel lintas Kalimantan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan mobilitas masyarakat, tetapi juga membuka peluang integrasi ekonomi antardaerah yang selama ini menghadapi tantangan konektivitas.
Pemerintah Tekankan Pembangunan Tak Boleh Jawa-Sentris
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebelumnya menegaskan pembangunan infrastruktur nasional tidak boleh hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Baca Juga: Proyek Kereta Api Kalteng Masih Tahap Perencanaan, Belum Ada Investor Tertarik
Menurut AHY, karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan pendekatan pembangunan konektivitas yang berbeda dengan negara-negara kontinental.
“Pembangunan tidak boleh Jawa-sentris. Kita bukan negara kontinental, sehingga pembangunan konektivitas tidak bisa menggunakan resep negara-negara kontinental,” kata AHY dalam acara Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (Ikastara) di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Pernyataan tersebut mempertegas pentingnya pembangunan infrastruktur konektivitas di luar Jawa, termasuk Kalimantan yang kini memiliki posisi strategis seiring pengembangan IKN.
Trans-Kalimantan Diproyeksikan Tekan Biaya Logistik
Selain angkutan penumpang, Kereta Api Trans-Kalimantan diproyeksikan memiliki peran besar dalam distribusi logistik.
Jaringan rel lintas pulau tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu tulang punggung pengangkutan komoditas dari sentra produksi menuju kawasan industri, pelabuhan, dan pusat ekonomi.
Baca Juga: Sinyal Positif! Kadishub Yulindra Dedy Beberkan Perkembangan Kajian Proyek Kereta Api Kalteng-Kalsel
Hasil pertambangan, perkebunan, kehutanan, hingga produk industri pengolahan menjadi sejumlah komoditas yang berpotensi memanfaatkan jaringan kereta api tersebut.
Pemerintah menilai keberadaan moda transportasi berbasis rel dapat membantu menekan biaya distribusi barang.
Biaya logistik yang lebih rendah pada akhirnya diharapkan meningkatkan efisiensi perdagangan, daya saing produk, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Prabowo menegaskan kereta api memiliki posisi strategis dalam sistem transportasi dan logistik nasional.
Moda transportasi berbasis rel dinilai ekonomis dan efisien serta dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Baca Juga: Menanti Realisasi Proyek Kereta Api
Karena itu, pengembangan jaringan kereta api tidak hanya diarahkan pada kota-kota besar, tetapi juga harus menjangkau kota-kota kecil dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Dalam konteks Kalimantan, pembangunan jaringan Trans-Kalimantan diharapkan menjadi bagian dari transformasi konektivitas wilayah, memperkuat hubungan antardaerah, mendukung IKN, sekaligus membuka jalur distribusi barang yang lebih efisien.
Jika terealisasi, jaringan sepanjang 2.772 kilometer tersebut berpotensi menjadi salah satu infrastruktur strategis yang mengubah pola mobilitas dan distribusi logistik di Kalimantan, sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan di luar Pulau Jawa.(*)
Editor : Ayu Oktaviana