KALTENGPOS.JAWAPOS.COM- Kondisi SDN Mboeng di Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah menjadi sorotan. Pasalnya, sekolah itu memiliki bangunan rusak berat.
Namun bukannya pembenahan, pihak sekolah justru mendapat bantuan perangkat digitalisasi pembelajaran berupa Papan Interaktif Digital (PID) berupa TV layar sentuh.
Kondisi itu dibagikan oleh konten kreator Alwi Johan Yogatama di akun Instagramnya. Ia menggambarkan kondisi bangunan sekolah yang dindingnya dari bambu dan lantainya dari tanah.
“Lihat dindingnya subah berlubang di segala sudut,” ujarnya mengutip video itu, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, sejak berdiri tahun 2008, sekolah itu tak pernah direnovasi. Yang lebih parah, listrik diketahui belum masuk di desa tempat sekolah tersebut berdiri.
“Listrik di desa ini belum ada, tapi TV sebesar ini sudah terparkir manis di ruang guru,” jelasnya.
“Para guru sudah mencoba menyalakan TV ini dengan pakai generator diesel. Tapi gak mau nyala juga karena daya TV terlalu besar,” lanjutnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan SDN Mboeng masuk dalam daftar sekolah yang diprioritaskan untuk direvitalisasi pada 2026.
“SDN Mboeng akan direvitalisasi. Dan bukan hanya satu sekolah, 1.487 satuan pendidikan di NTT menjadi sasaran revitalisasi pada 2026,” tulis keterangan akun Instagram resmi Kemendikdasmen.
Kemendikdasmen sebelumnya telah mengecek langsung kondisi sekolah yang melayani 84 murid tersebut. Para siswa terbagi dalam enam rombel dan didukung 10 guru serta tenaga kependidikan.
Keterbatasan ruang belajar membuat sekolah menggunakan empat ruang kelas darurat. Sebagian fasilitas tersebut bahkan dibangun secara swadaya oleh orang tua murid.
“Kondisi ini membutuhkan perhatian dan tindak lanjut,” aku Kemendikdasmen.
Untuk mengatasi persoalan sarana fisik, pemerintah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp1,2 triliun pada 2026 untuk merevitalisasi 1.487 satuan pendidikan di NTT.
Program tersebut mencakup berbagai jenjang dan bentuk satuan pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, SKB, hingga PKBM.
Anggaran revitalisasi itu melanjutkan program serupa pada 2025. Saat itu, pemerintah mengalokasikan lebih dari Rp600 miliar untuk memperbaiki 580 satuan pendidikan di NTT.
Sementara itu, pemberian perangkat digital kepada sekolah merupakan bagian dari program yang berbeda. Kemendikdasmen menjelaskan digitalisasi pembelajaran ditujukan untuk mendukung proses belajar-mengajar, sedangkan persoalan bangunan ditangani melalui program revitalisasi.
Di NTT, program digitalisasi pembelajaran pada 2025 telah menjangkau 8.985 satuan pendidikan dengan anggaran lebih dari Rp297 miliar.
Kemendikdasmen menegaskan kedua program tersebut tetap berjalan untuk menjawab kebutuhan pendidikan, termasuk memastikan siswa belajar di lingkungan yang aman dan layak.
“Perhatian masyarakat adalah pengingat bagi kita untuk terus memperbaiki layanan pendidikan,” kata Kemendikdasmen.
Pemerintah menyatakan perbaikan sarana sekolah dan peningkatan kualitas pembelajaran akan terus dilakukan agar akses pendidikan semakin merata dan kebutuhan belajar siswa dapat terpenuhi.(*)
Editor : Ayu Oktaviana