Fakta-Fakta Keracunan MBG di Karo: Ditemukan Sejumlah Bakteri, Febiola Alami Gangguan Ingatan 

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 18:45 WIB
Korban yang mengalami gangguan ingatan adalah Febiola Purba.
Korban yang mengalami gangguan ingatan adalah Febiola Purba.

 

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tengah mendapat sorotan.

Sedikitnya 361 siswa dari lima sekolah mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari satu dapur penyedia MBG. Bahkan seorang siswi dilaporkan diduga mengalami gangguan ingatan setelah menjalani perawatan.

Berikut fakta-fakta keracunan MBG di Karo yang dirangkum dari berbagai sumber dan artikel;

Korban yang mengalami gangguan ingatan adalah Febiola Purba (16). Ia adalah siswi SMK Swasta Bersama Berastagi. Setelah sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit, Febiola kini masih menjalani rawat jalan di RSUP H Adam Malik, Medan.

Orang tua Febiola, Elvinus Lusiana Sitanggang (49), mengatakan kondisi putrinya berubah setelah pulang dari rumah sakit. Awalnya, Febiola masih dalam kondisi normal. Namun, setelah berada di rumah, ia mengalami kejang dan kembali dibawa ke RS Haji.

“Pas awal dirawat itu belum (ada gangguan ingatan). Selama pulang dari Rumah Sakit Umum masih biasa, normal. Tapi setelah sampai di rumah, dia kejang, kami bawa ke RS Haji, di situlah dia mulai omongannya udah kayak anak-anak,” ujar Elvinus, Senin (7/9/2026). 

Gangguan tersebut membuat Febiola bahkan sempat tidak mengenali orang-orang terdekatnya, termasuk anggota keluarga dan teman sekolah.

“Contohnya ibaratnya keluarga. Bibinya kalau datang, ‘Ini siapa?’ katanya. Jadi kami kasih tahu, ‘Ini Bibi.’ ‘Oh, Bibi.’ ‘Ini siapa?’ Suami bibinya, ‘Ini Kila ndu, nakku,’ kami bilang. ‘Oh, Kila.’ Ya gitu-gitu aja ingatannya gitu,” tuturnya.

Elvinus mengaku baru mendapat penjelasan mengenai kondisi otak putrinya ketika Febiola dirawat di RS Haji. Menurut informasi yang diterimanya dari rumah sakit, otak Febiola diduga terdampak racun.

“Cuman di Rumah Sakit Haji hari itu gini katanya kan pindah ruangan, dibilangnya otaknya itu memang ada (terkena) gara-gara racun itu, katanya. Jadi sebenarnya ini dari ruang PICU juga udah ada, kenapa nggak dilaporkan sama kami. Jadi, ya kami mana tahu,” katanya.

Padahal, sebelum kejadian tersebut, Febiola dikenal sebagai siswi berprestasi. Ia disebut selalu meraih peringkat pertama sejak kelas satu dan dipercaya menjadi Wakil Ketua OSIS di sekolahnya.

Kini, kondisi itu membuat Febiola harus menunda keinginannya untuk kembali belajar di sekolah.

“Selama ini belajar dia juara satu. Mulai dari kelas satu dia semester awal, dia juara satu. Terus dia wakil ketua OSIS di sekolahnya. Makanya dia selalu bilang, ‘Aku mau sekolah, aku mau sekolah,’” ungkapnya.

Kondisinya pun belum sepenuhnya pulih. Selain gangguan ingatan, Elvinus mengatakan lidah putrinya sedikit tertarik ke dalam sehingga mengalami kesulitan berbicara.

“Kondisinya sekarang itu tadi, lidahnya agak masuk ke dalam. Terus tadi kami datang ke poli psikiatri, dibilang kalau besok neurologi ngasih obat,” ujarnya.

“Maunya anakku ini dikasihlah pengobatan yang tepat, biar jangan anakku ini kembali lagi bolak-balik ke rumah sakit. Kami pun capek kayak gini, selalu bawa-bawa dia berobat. Itu aja. Dikasihlah, tolonglah dikasih obatnya yang tepat buat anakku ini,” pungkasnya.

Sampel Makanan Positif Bakteri

Di tengah kondisi korban yang masih membutuhkan perawatan, hasil uji mikrobiologi terhadap sampel makanan MBG akhirnya keluar.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo mengungkap temuan tiga jenis bakteri. Bakteri tersebut ditemukan pada sejumlah sampel makanan yang diperiksa Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.

Tiga bakteri yang teridentifikasi yakni Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli (E. coli). Temuan ini menjadi perhatian karena jumlah bakteri pada sampel disebut telah melewati ambang batas yang diperbolehkan.

Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid Rizal, menjelaskan keberadaan bakteri pada makanan pada dasarnya bukan hal yang sepenuhnya tidak lazim. Namun, kondisi tersebut dapat membahayakan apabila jumlahnya melampaui standar yang telah ditetapkan.

“Bakteri itu memang secara alami ada di mana-mana, termasuk di dalam makanan. Tetapi menjadi berbahaya ketika jumlah atau volumenya sudah melebihi ambang batas atau standar yang ditentukan,” ujar Hamid mengutip Sumut Pos (grup Jawa Pos), Rabu (9/9/2026).

Berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara bernomor 008.2/4129/UPTD LABKES/VIII/2026 tertanggal 16 Agustus 2026, bakteri ditemukan pada tiga jenis sampel makanan.

Sampel nasi dinyatakan positif mengandung Bacillus cereus. Kemudian ikan dencis dengan saus dari sekolah positif mengandung Staphylococcus aureus. Sementara sampel buah melon positif mengandung E. coli.

Hamid mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan ketiga bakteri tersebut berada di atas batas yang diperbolehkan berdasarkan standar pemeriksaan makanan.

“Ketiga bakteri itu dinyatakan berbahaya karena sudah melampaui ambang batas yang ditentukan. Ada ukuran dan standar tertentu untuk menentukan kapan bakteri tersebut dapat membahayakan atau menyebabkan keracunan,” jelasnya.

Namun, Hamid tidak menjelaskan secara teknis kadar masing-masing bakteri maupun batas maksimal yang diperbolehkan. Menurut dia, penjelasan mengenai hasil uji laboratorium secara rinci merupakan kewenangan pihak yang memiliki kompetensi dalam pemeriksaan pangan.

Menurut Hamid, temuan bakteri tersebut belum dapat dilihat secara terpisah dari keseluruhan proses investigasi. Pemeriksaan harus dikaitkan dengan kondisi kesehatan para siswa serta proses penyediaan dan distribusi makanan.

Dinas Kesehatan, lanjutnya, memiliki SOP dalam menangani kejadian yang diduga berkaitan dengan keracunan makanan.

Tahapan penanganan mencakup pemeriksaan terhadap makanan sekaligus identifikasi dampak kesehatan yang dialami korban.

Hamid mengingatkan gangguan kesehatan akibat dugaan keracunan makanan tidak hanya dinilai dari gejala awal seperti mual dan muntah. Kondisi korban setelah kejadian juga perlu dipantau untuk melihat kemungkinan dampak lanjutan.

“Yang ketiga adalah mengidentifikasi dampak kesehatan lanjutan. Jadi bukan hanya melihat gejala awal seperti mual dan muntah, tetapi juga bagaimana kondisi kesehatan korban setelahnya,” katanya.

Di tengah proses pemeriksaan, Hamid menegaskan penanganan korban tetap menjadi prioritas. Investigasi terhadap makanan dan sumber gangguan kesehatan juga harus terus dilakukan secara menyeluruh.

“Yang paling penting adalah korban ditangani terlebih dahulu, kemudian pemeriksaan dilakukan dan dampak kesehatannya ditindaklanjuti. Setelah itu seluruh pihak terkait harus berkoordinasi agar persoalan ini bisa diselesaikan secara menyeluruh,” pungkasnya. (*)

Editor : Agus Pramono
smk berastagi febiola purba Mbg