KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto melaporkan perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera dan Kalimantan kepada Presiden pada Rabu (23/9/2026).
Dalam laporan itu, kepala BNPB menyebut meski kabut asap masih cukup tebal di sejumlah daerah, aktivitas masyarakat disebut tetap berjalan normal. Data itu ia sampaikan usai melakukan kunjungan ke Kalimantan Tengah awal pekan tadi.
Dia mengakui bahwa kondisi asap masih persoalan, khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang belum maksimal menyebabkan asap di dua wilayah tersebut masih cukup tebal.
“Karena OMC, terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, tidak dapat dilaksanakan secara maksimal, sehingga mengakibatkan asapnya cukup tebal,” katanya, mengutip Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga: Siswi SMK di Cempaga Hulu Tewas Kecelakaan saat ke Sekolah Berselimut Kabut Asap Tebal
Kondisi tersebut berdampak terhadap sejumlah aktivitas transportasi, termasuk penerbangan komersial, operasi udara, dan kegiatan water bombing. Meski demikian, Kepala BNPB memastikan kegiatan masyarakat sehari-hari tetap berlangsung.
“Tapi kami pastikan roda kehidupan masyarakat ini berjalan normal. Jadi, lalu lintas, toko-toko, rumah makan, dan lain sebagainya juga biasa. Tidak ada yang terganggu,” tegasnya.
Menurutnya, gangguan lebih terasa pada aktivitas keluar-masuk wilayah, terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Sementara itu, aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat di dalam daerah tersebut masih berjalan seperti biasa.
Dalam paparannya, Kepala BNPB menyampaikan bahwa luas lahan yang terbakar pada hari sebelumnya mencapai 1.212,52 hektare. Dari jumlah tersebut, tim penanganan karhutla berhasil memadamkan sekitar 1.002,74 hektare pada Selasa (22/9/2026).
“Sehingga yang tadi pagi sampai siang sampai sore ini sedang dipadamkan jumlahnya 209,78 hektare,” katanya.
Dari total lahan yang masih dalam proses pemadaman tersebut, wilayah dengan luasan terbesar berada di Kalimantan Selatan, yakni 63,16 hektare. Sementara itu, luasan terkecil tercatat di Kalimantan Barat, yakni 11,74 hektare.
Kepala BNPB mengatakan, penanganan karhutla terus dipantau dari hari ke hari. Upaya pemadaman dilakukan secara maksimal agar luasan kebakaran dapat terus ditekan dan tidak bertambah akibat munculnya titik api baru.
“Kami ikuti terus hari per hari sehingga kami upayakan setiap hari yang dipadamkan itu besar, sehingga kebakaran baru tidak membuat setiap hari meningkat terus untuk yang terbakar,” ujarnya.
Kepala BNPB memperkirakan persoalan karhutla dan kabut asap dapat berakhir paling cepat pada pertengahan Oktober 2026 atau paling lambat pada minggu ketiga November 2026. Pemerintah bersama seluruh unsur penanganan bencana akan terus melakukan upaya pemadaman dan pengendalian kebakaran. (*)
Editor : Agus Pramono