BMKG Catat 1.637 Titik Alami Hari Tanpa Hujan Ekstrem, Kalimantan Tengah Capai 97 Hari

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 12:06 WIB
Kondisi cuaca hujan. AGUS PRAMONO/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Kondisi cuaca hujan.(Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com)

 

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Periode kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.637 lokasi telah mengalami rangkaian Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari.

Kondisi tersebut masuk dalam kategori HTH ekstrem panjang. Berdasarkan pemantauan BMKG hingga 20 September 2026, sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia masih berada dalam periode kemarau.

Mengutip Instagram @InfoBMKG, Sabtu (26/9/202), wilayah selatan Indonesia menjadi kawasan yang cukup banyak mengalami periode tanpa hujan berkepanjangan. Rekor terpanjang berdasarkan pemantauan BMKG mencapai 141 hari di Daerah Istimewa Yogyakarta.

BMKG juga mencatat sejumlah provinsi dengan periode tanpa hujan ekstrem. Data tersebut menunjukkan:

 1. D.I. Yogyakarta: 141 hari.

 2. Jawa Tengah: 139 hari.

 3. Jawa Timur: 139 hari.

 4. Nusa Tenggara Timur: 128 hari.

 5. Nusa Tenggara Barat: 125 hari.

 6. Bali: 123 hari.

 7. Jawa Barat: 120 hari.

 8. Banten: 118 hari.

 9. Sulawesi Selatan: 112 hari.

 10. Maluku: 104 hari.

 11. Bangka Belitung: 103 hari.

 12. Sulawesi Tenggara: 99 hari.

 13. Gorontalo: 99 hari.

 14. Sulawesi Utara: 98 hari.

 15. Sulawesi Barat: 98 hari.

 16. Kalimantan Tengah: 97 hari.

 17. Maluku Utara: 96 hari.

BMKG menyebut kondisi atmosfer yang kering berkaitan dengan pengaruh El Niño yang masih berada pada intensitas sangat kuat. Pada dasarian pertama September, anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3,4 tercatat mencapai plus 2,76 derajat Celsius.

Fenomena tersebut diperkirakan masih memberikan pengaruh hingga awal 2027. Meski mayoritas wilayah masih mengalami kemarau, sejumlah daerah mulai memasuki musim hujan, antara lain sebagian Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung dan Kalimantan Timur.

Kemarau panjang juga berpengaruh terhadap kondisi suhu udara. Minimnya tutupan awan membuat radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi, terutama pada pagi hingga siang hari. Kondisi ini dapat mendorong peningkatan suhu maksimum.

Dalam pengamatan 24 jam mulai 23 September pukul 07.00 WIB hingga 24 September pukul 07.00 WIB, BMKG mencatat sejumlah wilayah mengalami suhu maksimum tinggi. Berikut daftarnya:

 1. Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan, Banjarbaru: 38,2°C.

 2. Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, kawasan Banjarmasin/Banjarbaru: 38,2°C.

 3. Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut, Palangka Raya: 37,9°C.

 4. Stasiun Geofisika Lampung Utara: 37,4°C.

 5. Stasiun Meteorologi Kertajati, Majalengka: 36,4°C.

 6. Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas, Semarang: 36,4°C.

 7. Stasiun Meteorologi Budiarto, Curug, Tangerang: 36,2°C.

 8. Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara, Minahasa Utara/Manado: 36,2°C.

 9. Stasiun Meteorologi Sangia Ni Bandera, Kolaka: 36,2°C.

 10. Stasiun Meteorologi di kawasan Pangkalan TNI AU Iswahjudi, Magetan: 36,2°C.

Data tersebut menggambarkan kondisi kering yang masih berlangsung di banyak wilayah Indonesia.

Masyarakat di daerah yang mengalami kemarau panjang perlu memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan kondisi suhu dari BMKG.(*)

Editor : Agus Pramono
hari tanpa hujan kalimantan tengah kemarau hujan ekstrem yogyakarta