Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Program MBG di Palangka Raya Dikeluhkan, Persentase Sisa Makan 60 Persen Dibantah SPPG

Ayu Oktaviana • Rabu, 27 Agustus 2025 | 11:06 WIB
Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran memberikan paket makan bergizi kepada siswa di SMAN 3 Palangka Raya, Rabu (20/8/2025). ARIEF PRATHAMA/KALTENG PO
Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran memberikan paket makan bergizi kepada siswa di SMAN 3 Palangka Raya, Rabu (20/8/2025). ARIEF PRATHAMA/KALTENG PO

 

PALANGKA RAYA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Kota Palangka Raya menuai keluhan dari para orang tua murid.

Sejumlah warganet mengungkapkan kekecewaannya di media sosial, menilai sejumlah makanan yang dibagikan tidak layak konsumsi dan berisiko membahayakan kesehatan anak-anak.

Seorang warganet dengan akun @ibnuzagin menuliskan bahwa banyak nasi yang dibagikan di sekolah dasar (SD) sudah dalam kondisi basi, berlendir, dan berbau.

“Banyak nasi yang dibagikan sudah tidak layak dimakan (basi, berlendir, bau) di sekolah dasar dan bisa membuat anak sakit perut,” tulisnya.

Pengalaman kurang menyenangkan juga diungkapkan akun @lisnameiriana. Ia menyebut anaknya sempat menerima lauk ayam dalam kondisi busuk pada hari pertama program.

“Hari Selasa hari pertama di sekolah anakku dapat ayam bau busuk,” tulisnya.

Program MBG kembali menjadi sorotan publik. Hal ini menyusul pernyataan Asisten Setda Kalteng Bidang Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Herson B Aden yang sempat menyebut adanya sisa makanan hingga 60 persen.

Namun, pernyataan tersebut akhirnya diluruskan oleh Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Provinsi Kalteng, Elisa Agustino.

Menurut Elisa, angka 60 persen itu merupakan bentuk peringatan agar tidak sampai terjadi pemborosan makanan dalam program MBG.

“Pernyataan Pak Asisten itu sebenarnya bukan penilaian, melainkan antisipasi. Maksud beliau, jangan sampai ada sisa makanan sampai 60 persen. Itu kami sudah konfirmasi ke beliau. Beliau mau klarifikasi bahwa maksud beliau itu bukan 60 persen sisa makanan. Tapi itu sebenarnya antisipasi, jangan sampai terjadi sisa makanan sampai 60 persen," jelas Elisa kepada Kalteng Pos, Selasa (26/8/2025).

Elisa mengungkapkan, saat ini di Kalteng sudah terdapat 30 SPPG yang aktif beroperasi. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring dengan proses percepatan pembangunan yang sedang dilakukan.

“Awalnya 28, kemudian bertambah dua lagi, yakni di Palangka Raya dan Murung Raya. Jadi per hari ini (26/8/2025) sudah genap 30 SPPG,” jelasnya.

Ia menambahkan, selain 30 SPPG yang aktif, masih ada 80 SPPG dalam tahap persiapan.

Jika seluruhnya rampung, Kalteng diperkirakan bisa mendekati target 200 SPPG dari total 264 yang ditetapkan pemerintah pusat.

“Setiap hari hampir selalu ada tambahan yang diverifikasi. Bahkan semalam sudah keluar surat keputusan kepala SPPG yang baru,” ujarnya.

Dari total 30 SPPG yang sudah ada, sebagian belum beroperasi karena menunggu pencairan dana dari pemerintah pusat. Sementara itu, sejumlah pemerintah daerah juga sedang mengusulkan titik pembangunan SPPG baru.

“Setiap kabupaten/kota bisa mengajukan tiga titik. Saat ini tim sedang melakukan survei ke daerah-daerah. Lahan yang diusulkan juga harus memenuhi syarat, seperti bebas sengketa, tidak berdekatan dengan pembuangan sampah atau kandang ternak, serta memiliki kondisi tanah yang layak,” jelas Elisa.

Terkait dengan kualitas makanan, Elisa menegaskan SPPG selalu mengutamakan bahan baku dari pemasok resmi yang memiliki legalitas dan sertifikasi, termasuk sertifikat halal.

“Kami bekerja sama dengan supplier yang direkomendasikan pemerintah, seperti dari Pasar Kahayan dan Pasar Besar. Semua bahan yang masuk juga melalui proses sortir agar terjamin kualitasnya,” paparnya.

SPPG, lanjutnya, juga rutin melakukan evaluasi terhadap menu yang disajikan. Hal ini untuk memastikan variasi hidangan, sekaligus mencegah terjadinya food waste.

“Kami punya sistem food waste management. Setiap sisa makanan dicatat untuk mengetahui menu apa yang kurang diminati anak-anak, sehingga bisa dilakukan perbaikan.

Harapannya, tidak ada lagi makanan terbuang sia-sia,” ujarnya.

Menjawab sejumlah keluhan orang tua siswa di media sosial terkait kualitas makanan MBG, Elisa mengatakan pihaknya belum menerima laporan resmi. Menurutnya, secara umum respon masyarakat terhadap program ini positif.

“Yang saya dapat justru banyak pertanyaan, kapan anak-anak mereka bisa ikut menerima makan bergizi gratis. Jadi, secara umum tanggapannya bagus. Memang ada komentar di media sosial, tapi perlu kami cek dulu kebenarannya,” kata Elisa.

Ia mencontohkan, pernah beredar isu ada siswa muntah-muntah usai mengonsumsi makanan MBG. Setelah ditindaklanjuti, laporan itu tidak terbukti.

“Begitu ada laporan, kepala SPPG setempat langsung turun ke sekolah. Kepala sekolah memastikan tidak ada kejadian itu. Jadi, kalau ada keluhan, sebaiknya disampaikan melalui sekolah, bukan langsung diviralkan,” ujarnya.

Elisa juga menjelaskan bahwa perbedaan selera makanan sering menjadi alasan munculnya komentar negatif.

“Kadang ada anak yang tidak bisa makan ayam tapi bisa makan telur. Ada juga yang tidak makan nasi, hanya kentang. Semua itu kami akomodasi sesuai kebutuhan anak,” tambahnya.

Program MBG di Kalteng tidak hanya menyasar sekolah negeri, tetapi juga pesantren, sekolah swasta, hingga madrasah. Selain itu, kelompok ibu hamil, balita, dan menyusui (kelompok 3B) juga menjadi penerima manfaat.

“Saat ini lebih dari 50 ribu penerima manfaat di Kalteng, termasuk kelompok 3B yang menjadi perhatian khusus dari pimpinan kami,” ungkap Elisa.

Elisa menegaskan, percepatan pembangunan SPPG merupakan arahan langsung Presiden RI Prabowo Subianto, mengingat target nasional penerima manfaat program MBG mencapai 82,9 juta orang hingga akhir tahun ini.

“Karena itulah setiap hari kami lakukan verifikasi, pendampingan, dan percepatan pembangunan SPPG. Semua harus sesuai standar, tidak boleh asal-asalan, karena ini menyangkut kualitas makanan untuk anak-anak,” ucapnya.

Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran menegaskan bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah berjalan baik dan mendapat respon positif dari para siswa.

“Kami sendiri melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah, termasuk ke SMA Negeri 3, dan yang kami temukan berbeda,” kata Gubernur, Minggu (24/8/2025).

Dalam kunjungan tersebut, Agustiar sempat melakukan dialog langsung dengan para siswa.

Dari lima kelas yang diambil sebagai sampel, mayoritas siswa mengaku senang dengan adanya MBG. Namun, mereka juga menyampaikan harapan agar menu makanan bisa lebih bervariasi.

“Saya masuk ke kelas-kelas, tanya langsung. Mereka bilang senang dengan program ini, hanya minta kalau bisa menu diganti-ganti. Misalnya sayur jangan sama terus, ada variasi lain. Itu masukan yang baik dan akan kita tindak lanjuti,” ujarnya.(ovi/ham/zia/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#program mbg #presiden ri prabowo subianto #Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG #Herson B Aden #kesehatan #sertifikat halal #palangka raya #Pembangunan SPPG #klarifikasi #kualitas makanan #Makan Bergizi Gratis (MBG) #basi #Food waste