PALANGKA RAYA – Nilai toleransi dan rasa saling menghargai perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak, baik di rumah maupun di sekolah. Hal ini disampaikan oleh Bendahara Emergency Response Palangka Raya (ERP), Widya Kumala Wati.
Ia menilai bahwa pendidikan karakter berbasis kebhinnekaan menjadi pondasi penting dalam membentuk generasi muda yang berakhlak dan berjiwa Pancasila.
Menurut Widya, orang tua memiliki peran besar dalam memperkenalkan makna perbedaan kepada anak-anak agar tumbuh menjadi pribadi yang terbuka dan menghormati sesama.
“Orang tua di rumah harus menjelaskan arti dari sebuah perbedaan agar tercipta toleransi antar sesama generasi muda. Salah satunya dengan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila,” ujar Widya di Palangka Raya, Minggu (26/10/2025).
Ia menegaskan bahwa untuk menghargai perbedaan, pembiasaan harus dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga. Bila sejak kecil anak sudah terbiasa memahami perbedaan, maka di masyarakat mereka akan tumbuh menjadi individu yang toleran dan menghormati keberagaman.
Selain itu, Widya juga menyoroti pentingnya penegakan aturan dan kedisiplinan di lingkungan sekolah. Ia menyayangkan masih adanya anggapan bahwa guru tidak boleh memberikan hukuman kepada siswa, padahal undang-undang justru memperbolehkan pemberian hukuman positif sebagai bentuk pendidikan karakter.
“Hukuman positif bisa seperti membersihkan toilet, hormat bendera, atau menghafalkan Pancasila. Itu bagian dari pendidikan karakter, bukan hukuman fisik,” jelasnya.
Widya juga mengingatkan bahwa sekolah memiliki daftar aturan dan tata tertib yang telah disepakati oleh orang tua siswa saat pendaftaran. Sehingga penerapannya harus konsisten. “Ketika siswa melanggar aturan, ya harus ditegakkan. Jangan hanya jadi tulisan di atas kertas,” ujarnya.
Dalam upaya menekan kenakalan remaja, ERP turut aktif mengadakan kegiatan edukatif di sekolah, seperti outbound, kunjungan ke taman baca, hingga penyuluhan tentang perlindungan anak.
“Kami rutin melakukan edukasi di sekolah-sekolah dan berbagai kegiatan pembinaan karakter. Ini bagian dari cara kami membentuk anak-anak agar lebih disiplin dan peduli,” terangnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa ERP berkomitmen menolak segala bentuk intoleransi, radikalisme, dan terorisme, serta terus mendorong semangat kebhinnekaan di kalangan generasi muda.
“ERP menolak segala bentuk intoleransi dan radikalisme. Indonesia ini kaya akan suku, ras, dan agama. Justru di situlah letak kekuatannya, disatukan oleh semangat persatuan,” tutup Widya.(ham/ram)
Editor : Ayu Oktaviana