PALANGKA RAYA— Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran, S.Kom menegaskan pentingnya penguatan literasi yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal sebagai upaya membangun karakter dan memperkokoh semangat kebangsaan. Hal itu disampaikan saat menerima secara simbolis buku berjudul “Huma Betang dan Rumah Gadang: Simpul Ekspresi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kearifan Lokal” karya Prof. Dr. H. Ibnu Elmi A.S. Pelu, S.H., M.H., Reza Noor Ihsan, S.H., M.H., dan Jefry Tarantang, S.Sy., S.H., M.H., dalam acara yang digelar di Istana Isen Mulang, Palangka Raya, Minggu (2/11/2025).
Buku tersebut menghadirkan kajian komparatif antara falsafah Huma Betang masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah dan filosofi Rumah Gadang masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Keduanya menjadi simbol kearifan lokal yang mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila, seperti gotong royong, musyawarah, toleransi, dan persatuan dalam keberagaman.
Dalam sambutannya, Gubernur H. Agustiar Sabran menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas karya para akademisi Kalimantan Tengah yang telah menghadirkan literasi berorientasi pada kearifan budaya daerah.
“Huma Betang bukan hanya rumah adat, melainkan simbol kehidupan bersama yang penuh kebersamaan dan saling menghargai. Buku ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa nilai-nilai Pancasila hidup dan tumbuh dari budaya bangsa sendiri. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah tentu akan terus mendukung gerakan literasi yang menggali kekayaan lokal,” ujar gubernur.
Gubernur juga menekankan bahwa literasi berbasis kearifan lokal menjadi salah satu cara strategis menjaga identitas daerah di tengah arus globalisasi. Ia berharap buku tersebut dapat menjadi rujukan penting bagi kalangan akademik, pelajar, dan masyarakat luas.
Acara penyerahan buku di Istana Isen Mulang tersebut turut dihadiri oleh pejabat pemerintah provinsi, tokoh adat Dayak, akademisi, serta komunitas literasi Kalteng yang berkomitmen melestarikan nilai-nilai luhur Huma Betang sebagai filosofi kehidupan masyarakat.(hms)