PALANGKA RAYA - Upaya pelestarian orangutan Kalimantan kembali mendapat sorotan dunia. Jumat (7/11), di Pulau Bangamat, area konservasi orangutan di Kecamatan Bukitbatu, tiga individu orangutan hasil rehabilitasi dilepas ke pulau pra-pelepasliaran sebagai tahap akhir sebelum benar-benar dikembalikan ke hutan liar.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Tengah, dan pengelola Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR).
Momen penting ini turut disaksikan langsung oleh Duta Besar Kerajaan Denmark sekaligus Ambassador, Sten Frimondt Nielsen, beserta istrinya, Pamela Alberta Mondino.
Kehadiran mereka menegaskan dukungan internasional terhadap kerja-kerja konservasi yang dilakukan di jantung Kalimantan.
Tiga individu orangutan yang dilepas kali ini bernama Malika, Paulinus, dan Angkasa. Mereka merupakan hasil program panjang rehabilitasi yang dijalankan BOSF di bawah pengawasan BKSDA.
Sebelum benar-benar dilepaskan ke hutan lepas, ketiganya harus menjalani tahap soft release di Pulau Kosong, salah satu pulau pra-pelepasliaran yakni Pulau Bangamat. Dari tempat inilah, perjalanan menuju kebebasan sesungguhnya dimulai.
Kepala BKSDA Kalteng, Andi Kadafi, menjelaskan bahwa soft release menjadi tahapan penting sebelum orangutan benar-benar dilepaskan di alam liar.
Dalam tahap ini, hewan belajar hidup mandiri di lingkungan yang lebih alami namun tetap dalam pengawasan terbatas.
Setelah beberapa waktu, mereka akan dibawa ke lokasi hard release di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), di mana mereka akan hidup sepenuhnya di alam.
"Proses ini tidak sekadar membuka kandang, melainkan melalui prosedur ketat. Sebelum dipindahkan, dilakukan pemeriksaan kesehatan dan pembiusan agar hewan tidak stres selama perjalanan," ucapnya.
Malam hari dipilih untuk pengangkutan agar suhu lebih sejuk dan kondisi lebih tenang. Setelah dilepaskan, tim monitoring akan terus mengawasi perilaku, kemampuan mencari makan, serta adaptasi mereka terhadap lingkungan barunya.
Dihadiri Dubes Denmark
Sementara itu, Menurut CEO BOS Foundation, Jamatin Sihite, program rehabilitasi orangutan dirancang seperti sistem pendidikan berjenjang. Setelah diselamatkan dari kondisi penangkaran atau perdagangan, orangutan menjalani masa pemulihan fisik dan mental di “sekolah hutan.” Di tempat ini, mereka belajar keterampilan dasar untuk hidup mandiri, seperti memanjat, membuat sarang, mencari makanan alami, hingga menghindari bahaya.
"Bila menunjukkan kemajuan yang baik, orangutan akan naik ke tahap berikutnya pulau pra-pelepasliaran. Di sinilah interaksi dengan manusia mulai dibatasi. Mereka hanya diberi makan dua kali sehari, pagi dan sore, dengan porsi kecil agar terdorong mencari pakan sendiri di hutan pulau tersebut," katanya.
Tahap ini menjadi fase penting untuk menilai sejauh mana kemampuan adaptasi mereka berkembang. Hasil pemantauan di pulau inilah yang menentukan apakah individu siap dilepas ke habitat liar sesungguhnya. Biasanya proses ini memakan waktu dua hingga tiga tahun, tergantung tingkat kecakapan dan usia saat pertama kali direhabilitasi.
Namun, Jamatin mencontohkan, ada juga kasus khusus seperti orangutan Kapuan, yang berasal dari Thailand dan membutuhkan waktu hampir 19 tahun sebelum benar-benar siap dilepas. Faktor usia dan lamanya hidup dalam penangkaran membuat proses pembelajaran di sekolah hutan jauh lebih panjang.
Kehadiran Duta Besar Denmark dalam momen tersebut menambah makna tersendiri bagi kegiatan ini. Ia tampak terkesan melihat langsung proses pelepasliaran dan interaksi orangutan di habitat semi-alam.
Dalam pernyataannya, Sten Frimondt Nielsen menilai upaya BOSF sebagai proyek konservasi yang luar biasa. Ia menekankan pentingnya tahap demi tahap yang dijalankan dalam proses pemulihan satwa liar, mulai dari pendidikan, rehabilitasi, hingga pelepasliaran akhir di hutan.
"Denmark merasa bangga dapat turut mendukung melalui kerja sama dan dukungan internasional terhadap konservasi di Indonesia," tuturnya.
Pemerintah Provinsi Kalteng turut hadir mendukung kegiatan tersebut melalui Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng. Kepala Dinas Kehutanan, Agustan Saining, menyampaikan bahwa Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran, memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya konservasi ini.
"Keberadaan orangutan merupakan indikator penting keseimbangan ekosistem hutan tropis. Pemerintah daerah memandang kegiatan pelepasliaran ini bukan sekadar aksi simbolik, melainkan bagian nyata dari komitmen melestarikan biodiversitas Kalimantan yang sangat berharga," ucapnya.
Kalimantan Tengah, kata Agustan, memiliki populasi orangutan yang tergolong besar dibanding wilayah lain. Upaya rehabilitasi dan pelepasliaran yang dilakukan BOSF bersama BKSDA menjadi bentuk kolaborasi nyata antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga internasional untuk menjaga keberlanjutan spesies yang kini semakin langka ini.
Dalam program pelepasliaran di kawasan TNBBBR, sebanyak 222 individu orangutan telah berhasil dikembalikan ke alam liar. Dengan tambahan pelepasliaran yang berlangsung pekan ini, jumlah tersebut akan meningkat menjadi 229 individu.
Menjaga masa depan satwa
Lebih lanjut, Kepala BKSDA Kalteng menegaskan bahwa tujuan akhir dari seluruh program rehabilitasi ini bukan sekadar melepas orangutan sebanyak-banyaknya, tetapi memastikan tidak ada lagi orangutan yang harus direhabilitasi di masa depan.
Hal itu hanya bisa tercapai jika kesadaran masyarakat meningkat, perburuan dan perdagangan satwa dihentikan, serta habitat alami dijaga dari perambahan dan kebakaran hutan. Ia berharap, semakin sedikit orangutan yang diselamatkan dari penangkaran manusia, berarti semakin baik kondisi ekosistem Kalimantan.
Kegiatan ini menjadi simbol dari kerja sama lintas bangsa dan lembaga dalam menjaga masa depan satwa khas Indonesia. Dari lembaga internasional hingga pemerintah daerah, dari ilmuwan hingga masyarakat lokal, semuanya berperan dalam memastikan orangutan dapat kembali hidup bebas di habitat alaminya.
Di bawah langit tanah Borneo yang lembap dan hijau, tiga individu orangutan yang dulu kehilangan hutan dan keluarga kini menapaki babak baru kehidupan.
Mereka memanjat pepohonan, mencium udara bebas, dan perlahan menemukan kembali naluri liarnya, simbol harapan bagi orangutan lain yang menunggu giliran untuk pulang. (ovi/ram)