Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Bahasa Banjar Ambil Alih Ruang Publik di Kalteng, Budayawan Ingatkan Ancaman Hilangnya Bahasa Dayak

Agus Pramono • Jumat, 21 November 2025 | 12:00 WIB
Gauri Vidya Dhaneswara, S.Ant
Gauri Vidya Dhaneswara, S.Ant

PALANGKA RAYA-Bahasa Banjar kian menguasai percakapan sehari-hari di Kalteng, terutama di perkotaan. Menyingkirkan sedikit-demi sedikit Bahasa Dayak.

Fenomena ini dipicu oleh faktor ekonomi dan aktivitas perdagangan yang banyak menggunakan bahasa Banjar, khususnya di pasar tradisional maupun pusat perniagaan.

Hal itu disampaikan oleh Gauri Vidya Dhaneswara, S.Ant, Pamong Budaya Ahli Muda Disbudpar Kalteng, dalam wawancara bersama Kalteng Pos, Oktober 2025.

Fenomena dominasi bahasa Banjar di ruang interaksi sosial ini tidak terlepas dari peran historis dan ekonomi.

Sejak lama, para pedagang Banjar dikenal aktif berdagang di berbagai wilayah, sehingga bahasa Banjar kemudian menjadi lingua franca di pasar.

Kondisi ini berlanjut hingga kini, di mana masyarakat dari beragam latar belakang suku lebih mudah berkomunikasi menggunakan bahasa Banjar saat melakukan transaksi maupun pergaulan sehari-hari.

“Bahasa Banjar memang berkembang kuat di Kalteng karena faktor perdagangan. Pasar menjadi ruang interaksi yang sangat besar, sehingga bahasa Banjar dipakai lintas suku untuk memudahkan komunikasi. Dari situlah bahasa ini akhirnya menguasai percakapan sehari-hari di banyak tempat,” ujar Gauri.

Saat ini, dominasi bahasa Banjar semakin terasa karena arus urbanisasi dan mobilitas penduduk. Banyak masyarakat dari luar daerah yang datang ke Kalteng untuk berdagang maupun bekerja, dan mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan bahasa Banjar yang sudah lebih dahulu digunakan di pasar maupun pusat ekonomi.

Faktor media massa lokal dan pergaulan sehari-hari juga ikut memperkuat penggunaan bahasa Banjar di generasi muda.

“Bahasa Banjar sekarang makin kuat dipakai karena lebih praktis di ruang publik. Anak-anak muda juga lebih sering mendengar lewat media maupun interaksi di pasar, sehingga mereka cepat terbiasa,” lanjutnya.

Untuk menanggulangi dominasi satu bahasa saja, Gauri menekankan pentingnya pelestarian bahasa daerah lain di Kalteng, termasuk bahasa Dayak Ngaju, Ot Danum, maupun bahasa daerah lainnya. Upaya itu bisa dilakukan lewat pendidikan muatan lokal, festival bahasa dan budaya, hingga penerbitan kamus dan karya sastra berbahasa daerah.

“Kita perlu menyeimbangkan. Bahasa Banjar memang dominan karena faktor ekonomi, tapi jangan sampai bahasa Dayak dan bahasa daerah lainnya terpinggirkan. Melalui sekolah, kegiatan budaya, dan dokumentasi, bahasa-bahasa ini tetap bisa hidup berdampingan,” tegas pria asli bersuku Dayak ini.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dinilai sangat penting agar bahasa daerah di Kalteng tetap bertahan di tengah arus perkembangan zaman.

Dengan adanya kesadaran kolektif, bahasa Banjar yang kini menguasai ruang interaksi sehari-hari bisa berjalan beriringan tanpa menggerus eksistensi bahasa Dayak maupun bahasa daerah lain. Pelestarian bahasa berarti juga menjaga identitas budaya dan jati diri masyarakat Kalteng.

Gauri Vidya Dhaneswara mengatakan bahwa, karakter masyarakat Dayak yang ramah serta tidak eksklusif membuat mereka sering mempelajari bahasa lain, sehingga bahasa Banjar maupun bahasa Indonesia lebih mudah berkembang di berbagai ruang interaksi sosial.

Karakter terbuka itu membuat masyarakat Dayak tidak membatasi diri pada bahasa sendiri. Mereka cenderung cepat menyesuaikan diri dengan lawan bicara, terutama dalam konteks perdagangan maupun pergaulan.

“Orang Dayak itu bukan kelompok eksklusif. Mereka terbuka, bahkan berusaha mempelajari bahasa orang lain. Tingkat toleransi ini yang membuat bahasa luar lebih cepat menyebar di Kalimantan Tengah,” ujar Gauri.

 Orang Dayak Mampu Beradaptasi Bahasa Baru

Fenomena ini juga diperkuat dengan dinamika sosial yang terus berkembang. Kehadiran pendatang yang membawa bahasa dan budaya masing-masing membuat interaksi semakin beragam, dan masyarakat Dayak justru mampu beradaptasi dengan mempelajari bahasa mereka.

“Kenapa bisa begitu? Karena orang Dayak cenderung ingin memudahkan komunikasi. Jadi ketika ada bahasa luar masuk, mereka tidak menolak, malah ikut menggunakan supaya lebih nyambung,” tambahnya.

Untuk mengantisipasi agar bahasa Dayak tidak semakin terpinggirkan, diperlukan langkah konkret dalam pelestarian. Gauri menegaskan bahwa pendidikan muatan lokal, dokumentasi, hingga ruang kreatif bagi generasi muda bisa menjadi jalan menjaga bahasa daerah.

“Bahasa Dayak harus diberi ruang, baik di sekolah, di kegiatan budaya, maupun di media. Dengan begitu, bahasa ini tidak hanya bertahan, tetapi juga bisa berkembang mengikuti zaman,” ujarnya.

Ke depan, ia berharap ada sinergi antara pemerintah, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat untuk menjaga keseimbangan antarbahasa.

Menurutnya, keterbukaan orang Dayak terhadap bahasa luar adalah kekuatan, tetapi tetap harus diimbangi dengan kebanggaan dan praktik nyata dalam menggunakan bahasa sendiri.

Dengan begitu, interaksi sehari-hari di Kalteng tidak hanya diwarnai bahasa luar, melainkan juga mencerminkan identitas dan jati diri masyarakat Dayak. (*rif/ala)

Kegiatan ini dihadiri oleh 50 peserta yang terdiri dari siswa, guru, perangkat desa, dan anggota Asosiasi Perangkat Desa Seluruh Indonesia (ASPEL) Lombok Timur.
Kegiatan ini dihadiri oleh 50 peserta yang terdiri dari siswa, guru, perangkat desa, dan anggota Asosiasi Perangkat Desa Seluruh Indonesia (ASPEL) Lombok Timur.
Editor : Ayu Oktaviana
#aktivitas perdagangan #ruang publik #Komunitas budaya #perdagangan #dayak ngaju #karya sastra #kalteng #Pelestarian Bahasa #masyarakat dayak #Banjar #bahasa dayak #DISBUDPAR KALTENG #mobilitas penduduk