PALANGKA RAYA-Upaya pelestarian budaya lokal Kalimantan Tengah (Kalteng) memasuki babak penting menyusul berakhirnya Focus Group Discussion (FGD) Ruang Dialog Pengayaan Literasi Daerah Penulisan Buku Bertema Budaya, yang digelar di Aula Dispusip Kalteng, Rabu (26/11/2025).
Kegiatan kolaborasi antara Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kalimantan Tengah dan Yayasan Betang Lestari Institute ini menghasilkan pengayaan untuk tujuh naskah buku yang mengangkat kekayaan budaya Dayak dari berbagai sisi, mulai seni bela diri, ritual, hingga legenda.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispursip) Kalteng, Adiah Chandra Sari, dalam sambutannya melalui Zoom menegaskan bahwa penguatan literasi budaya adalah kerja peradaban yang tak boleh terputus.
“Literasi budaya merupakan fondasi penting dalam membentuk masyarakat berkarakter kuat dan beridentitas kokoh di tengah derasnya arus globalisasi. Pemahaman terhadap sejarah, bahasa, nilai moral, tradisi, hingga kearifan lokal adalah modal utama agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya,” ujarnya.
Ia menambahkan, kekayaan budaya Dayak yang sarat makna menuntut langkah sistematis untuk merekam dan menyebarluaskan pengetahuan tersebut.
“Dispursip Kalteng menegaskan komitmen menghadirkan sumber literasi daerah yang tak hanya informatif, tetapi menjadi rujukan utama pelestarian budaya. Melalui buku-buku ini, kita ingin mendorong generasi muda mencintai dan mengenali jati diri budayanya melalui bacaan yang berkualitas,” tuturnya.
Tujuh Buku Dibedah
FGD ini membedah tujuh naskah buku budaya Dayak yang disusun para penulis lokal, yakni Nyawhang T. Masyn, dan Marta D. Matan, melalui Yayasan Betang Lestari Institute yang dipimpin oleh Nicko Haryadi.
Tiga di antaranya dibahas pada hari terakhir FGD. Pertama, “Mengenal Kutau, Sikat Tradisional Suku Dayak di Kalimantan Tengah”. Buku ini menggali seni bela diri main sebagai warisan pengetahuan leluhur Dayak Ngaju, termasuk sejarah serta teknik tujuh aliran utama Bangkui, Kuntau, Batawi, Cabang, Tuya, Sanganan, dan Sending. Selain teknik, buku ini menguraikan nilai filosofis seperti kehormatan, disiplin batin, dan hubungan manusia dengan alam.
Lalu yang kedua, “Keunikan Patah dan Pasah Keramat di Kalimantan Tengah”
Buku ini mengulas bangunan sakral pasah keramat dan pasah patahu sebagai pusat spiritual masyarakat Dayak Ngaju, dilengkapi dokumentasi ritual seperti bahajat dan malaput hajat.
Selanjutnya yang ketiga, “Salutup, Tutup Kepala Suku Dayak Kalimantan Tengah”
Berisi penjelasan empat bentuk penutup kepala Dayak Ngaju, lawung dan sumping, sandurung, salutup, hingga tanggui beserta filosofi, teknologi ekologis, dan sejarahnya.
Empat buku lain yang telah lebih dulu dibahas mencakup Kesah Bue I: Legenda dari Pedalaman Kalimantan Tengah, Kesah Bue II: Cerita Rakyat Kalimantan Tengah, Mengenal Ritual Batenung dan Manajah Antang, serta Mengenal Jenis-Jenis Balanai Suku Dayak di Kalimantan Tengah.
Penulis sekaligus budayawan Marta D. Matan menegaskan bahwa banyak topik dalam tujuh buku tersebut sebelumnya belum pernah dibukukan secara rinci.
“Kalau tulisan-tulisan pendek di koran atau Facebook memang ada, tetapi dalam bentuk buku khusus seperti ini belum pernah. Tujuannya untuk mendokumentasikan sastra lisan banyak sudah hilang, banyak yang tidak tahu lagi bagaimana praktiknya,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar mengumpulkan data, tetapi mencari bukti fisik pelaku yang masih dapat mempraktikkan gerak atau ritual tertentu.
“Mencari orang yang bisa memainkan gerakan seperti cabang, tuyak, sanding, atau batawi itu sulit. Banyak pelakunya sudah tidak ada. Dokumentasi foto gerakan asli sangat penting agar tidak hilang,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa masukan FGD sangat membantu penyempurnaan naskah, sebelum nantinya masuk proses cetak dan publikasi oleh Dispursip Kalteng.
Budayawan sekaligus peserta FGD, Kuwu Senilawati, memberikan apresiasi atas penyusunan tujuh buku ini.
“Kita memang kekurangan literasi tentang budaya Dayak yang terdokumentasi secara baik, baik dalam bentuk fisik maupun digital. Buku-buku ini sangat dinanti masyarakat umum dan generasi muda kita,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya proses check and recheck sebelum peluncuran agar isi buku mendekati bentuk asli dari warisan budaya yang dituturkan.
“Tidak ada buku yang sempurna, tapi kita berusaha mendekati apa yang sebenarnya diwariskan leluhur. Banyak dokumen dan pelaku budaya yang sudah tidak ada, sehingga dokumentasi ulang menjadi sangat penting,” katanya.
Kuwu berharap hadirnya tujuh buku ini menjadi pemantik lahirnya lebih banyak penulis yang mengangkat kekayaan budaya Dayak.
“Harapan saya, buku ini jadi pemicu bagi penulis-penulis lain untuk menulis lebih banyak karya budaya Dayak ke depan,” ujarnya. (ovi/b/ram)
Editor : Ayu Oktaviana