PALANGKA RAYA – Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Kalteng Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengingatkan masyarakat, khususnya para orang tua dan tenaga pendidik, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya aksi kekerasan yang melibatkan anak dan remaja.
Fenomena tersebut dinilai tidak terlepas dari pengaruh negatif media sosial dan game online yang dikonsumsi tanpa pengawasan memadai.
Kasatgaswil Kalteng Densus 88, Iptu Ganjar Satriyono, menjelaskan bahwa pada fase pencarian jati diri, anak-anak dan remaja memiliki kebutuhan besar akan pengakuan, validasi, dan rasa unggul di lingkungannya.
Kondisi ini membuat mereka rentan meniru perilaku menyimpang yang kerap ditemui di ruang digital, baik melalui konten media sosial maupun interaksi dalam game online.
Ia mencontohkan sebuah kasus kekerasan yang dilakukan oleh seorang anak yang dipicu oleh minimnya perhatian dan kasih sayang dari keluarga.
Kebutuhan emosional yang seharusnya dipenuhi di rumah justru dicari melalui dunia virtual, hingga berujung pada tindakan ekstrem.
“Anak tersebut melakukan kekerasan karena ingin diakui kehebatannya. Ia ingin dianggap dan dikenal melalui tindakan yang salah,” ujar Ganjar saat memberikan paparan kepqda awak redaksi Kalteng Pos, Selasa (27/1/2026).
Berdasarkan hasil wawancara, pelaku diketahui memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata.
Namun, potensi tersebut tidak berkembang secara positif akibat kurangnya pendampingan dan salah memilih lingkungan pergaulan, khususnya di ruang digital. Anak tersebut juga mengaku bergabung dalam grup percakapan online yang dikenalnya melalui teman di game, yang berisi konten kekerasan, pembunuhan, hingga materi seksual menyimpang.
“Mereka tidak terpapar paham terorisme, tetapi terjerumus dalam komunitas digital yang sarat kekerasan dan penyimpangan,” jelasnya.
Ganjar menegaskan, peran keluarga menjadi benteng utama dalam mencegah anak terseret pengaruh negatif dunia maya.
Orang tua diimbau tidak hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi juga membangun komunikasi yang hangat, memberi perhatian emosional, serta menanamkan nilai moral dan empati sejak dini.
Selain keluarga, ia juga mendorong keterlibatan sekolah, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam memperkuat literasi digital. Dengan pendampingan dan edukasi yang tepat, anak-anak diharapkan mampu menyaring konten serta tidak mudah terpengaruh ajakan negatif di dunia maya.
“Pengawasan harus dilakukan bersama. Jangan sampai anak-anak kita kehilangan arah karena salah pergaulan di ruang digital,” pungkasnya.(afa/ram)
Editor : Ayu Oktaviana