PALANGKA RAYA–Sopan santun dalam berbahasa menjadi modal utama dalam berkomunikasi baik di lingkungan keluarga, sekolah dan di lingkungan masyarakat di Palangka Raya.
Sayangnya, kesantunan dalam berbahasa tersebut kian tergerus. Fenomena anak-anak yang terbiasa menggunakan kata-kata kasar dan kotor dalam komunikasi sehari-hari kian memprihatinkan.
Kebiasaan tersebut dinilai tidak bisa dianggap sepele, apalagi jika mulai dinormalisasi di lingkungan pergaulan maupun ruang digital.
Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalteng, Widiya Kumala Wati, menegaskan bahwa penggunaan bahasa kasar pada anak merupakan perilaku yang tidak baik dan berpotensi menjadi indikator adanya persoalan yang lebih dalam.
“Fomo menggunakan kata kasar adalah hal yang tidak baik dan seyogyanya tidak dinormalisasi,” ujar Widiya, Jumat (6/2/2026).
Menurutnya, ada sejumlah faktor yang mendorong anak terbiasa melontarkan kata-kata kasar. Salah satunya adalah pola asuh yang kurang tepat di lingkungan keluarga.
BAHASA KASAR DAN BAHASA GAUL PADA ANAK
• Anak-anak makin sering menggunakan kata kasar
• Terpengaruh lingkungan, FOMO, media sosial, dan gawai
• Dianggap tren dalam pergaulan
Risiko bagi Karakter Anak
• Mengikis adab dan sopan santun
• Membentuk pola komunikasi agresif
• Menjadi indikator masalah lingkungan dan emosional
• Anak sering belum sadar kata yang diucapkan tidak pantas
Mengapa Anak Mudah Meniru Bahasa Kasar?
• Pola asuh keluarga
• Lingkungan pergaulan
• Media sosial & gim daring
• Tontonan mengandung kekerasan verbal
• Kesulitan mengatur emosi
Mencegah Normalisasi Bahasa Kasar
Peran Orang Tua
• Teladan bahasa santun
• Pendampingan saat anak memakai gadget
• Disiplin dengan konsekuensi positif
Peran Sekolah
• Pembinaan karakter
• Edukasi berbahasa
• Kerja sama dengan orang tua
Selain itu, faktor ikut-ikutan atau fear of missing out (Fomo) juga berperan besar, di mana anak merasa harus berbicara kasar agar dianggap keren atau diterima dalam lingkaran pertemanannya.
“Pembiasaan di rumah juga sangat berpengaruh. Jika orang tua atau lingkungan terdekat sering menggunakan kata-kata kasar, anak akan terstimulasi menirunya,” jelasnya.
Wanita yang kerap disapa Yaya itu menilai kondisi ini cukup miris jika terus dibiarkan. Sebab, dalam jangka panjang, kebiasaan berbahasa kasar dapat mengikis nilai adab dan sopan santun anak-anak. Ironisnya, banyak anak belum memahami bahwa kata-kata yang mereka ucapkan termasuk tidak pantas atau bersifat kasar.
“Anak-anak sebenarnya banyak yang belum paham bahwa kata yang diucapkan itu tidak baik. Karena itu mereka perlu diberi pemahaman sejak dini,” tambahnya.
Yaya juga menyoroti besarnya pengaruh media sosial, konten digital, dan gim daring terhadap pembentukan perilaku anak.
Tanpa pendampingan orang tua, anak-anak dengan mudah menyerap bahasa kasar yang mereka dengar saat bermain gawai.
“Media sosial sangat berpengaruh terhadap pola perilaku anak-anak, apalagi jika saat menggunakan gadget tidak ada pendampingan atau pemahaman dari orang tua,” tegasnya.
Untuk mencegah dan menghentikan kebiasaan tersebut, ia menekankan pentingnya peran keluarga, khususnya orang tua.
Pendidikan karakter di rumah dinilai menjadi kunci utama, disertai dengan penguatan ikatan emosional antara orang tua dan anak.
“Pendisiplinan juga perlu, misalnya dengan memberikan konsekuensi yang positif jika anak berkata kasar, agar anak tahu bahwa setiap pelanggaran ada dampaknya,” katanya.
Selain itu, penguatan pendidikan agama juga dianggap penting untuk membentuk pribadi anak yang berakhlak dan bertakwa. Meski demikian, Yaya mengingatkan bahwa proses membentuk perilaku anak tidak instan dan membutuhkan kesabaran.
“Semua itu perlu proses. Jangan pernah berhenti menasihati anak dan memberikan pemahaman agar mereka tidak berkata kasar,” tegasnya.(zia/ram)
Editor : Ayu Oktaviana