PALANGKA RAYA-Penggunaan bahasa kasar pada anak tidak bisa dipandang sebagai perilaku sepele. Psikolog Anak, Rensi, menegaskan bahwa cara anak berbicara sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang, termasuk pola komunikasi di rumah, sekolah, hingga pergaulan sosialnya.
Menurutnya, dalam psikologi perkembangan anak, lingkungan memiliki peran kuat sebagai role model atau contoh yang secara tidak langsung ditiru anak. Anak belajar melalui apa yang ia dengar dan lihat setiap hari, sehingga bahasa yang digunakan orang-orang di sekitarnya akan membentuk cara anak berkomunikasi.
“Kalau anak menggunakan bahasa kasar, itu bisa menjadi indikator adanya masalah di lingkungan atau pergaulannya. Anak menyerap pola komunikasi dari rumah, sekolah, dan lingkungan sosial pertemanannya,” ujarnya, Sabtu (7/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa pola asuh orang tua juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku verbal anak. Pola asuh yang terlalu permisif tanpa batasan yang jelas, atau sebaliknya pola asuh yang keras dengan bentakan dan kata-kata kasar, dapat membuat anak menganggap bahasa kasar sebagai hal yang normal.
“Ketika anak terbiasa mendengar bentakan dan kata-kata kasar, maka itu menjadi sesuatu yang wajar bagi mereka dan akhirnya diulang dalam komunikasi sehari-hari,” katanya.
Selain itu, paparan kekerasan verbal juga dapat berasal dari tontonan, media sosial, maupun konflik orang dewasa yang disaksikan anak. Konten digital yang mengandung ujaran kasar atau kekerasan verbal turut berkontribusi membentuk kebiasaan anak dalam mengekspresikan emosi dan pikirannya.
Rensi menambahkan bahwa kebiasaan berbicara kasar juga bisa berkaitan dengan hambatan regulasi emosi pada anak.
Anak yang kesulitan mengekspresikan perasaan atau emosi cenderung menggunakan kata-kata yang ia kenal dari lingkungannya, termasuk kata-kata kasar.
“Namun kita tidak boleh langsung menghakimi anak. Bisa jadi anak menggunakan bahasa kasar karena keterbatasan dalam mengekspresikan emosi atau perasaan, sehingga kata-kata yang sering ia dengar itulah yang digunakan,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang sehat dan pola pengasuhan yang positif, baik di rumah maupun di sekolah. Lingkungan yang suportif, komunikasi yang baik, serta contoh perilaku verbal yang santun dinilai sangat berpengaruh dalam membentuk cara anak mengekspresikan emosi secara sehat.
“Lingkungan yang positif dan pola asuh yang tepat akan membantu anak belajar mengekspresikan emosi dan perasaan dengan cara yang baik dan tidak kasar,” pungkasnya. (zia/ala)
Editor : Ayu Oktaviana