PALANGKA RAYA—Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 17 Februari 2026 menandai dimulainya Tahun Kuda Api, sebuah fase penting dalam siklus penanggalan lunar Tionghoa yang sarat makna pergerakan, semangat, dan keberanian mengambil langkah.
Di tengah dinamika sosial serta tantangan ekonomi global, Tahun Kuda Api dipandang sebagai momentum untuk bangkit, bergerak aktif, dan memperkuat harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketua Yayasan Tionghoa Kalimantan Barat–Kalimantan Tengah (YTKK), Renko Kiongoro Raharjo, mengatakan bahwa perayaan Imlek 2026 secara nasional mengusung tema “Harmoni Membangun Persatuan dalam Keberagaman.” Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang majemuk.
"Indonesia ini terdiri dari berbagai suku bangsa, budaya, bahasa, dan adat istiadat. Tema harmoni ini mengajak kita semua untuk hidup beriringan, saling menghargai, dan membangun persatuan dari keberagaman yang ada,” ujar Renko, Jumat (13/2/2026).
Ia menegaskan, harmoni bukan hanya simbol perayaan, melainkan nilai yang harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjaga toleransi antarumat beragama.
Renko menilai, toleransi di Kalteng selama ini telah berjalan dengan baik. Perayaan Imlek pun menjadi salah satu contoh bagaimana budaya dapat menjadi perekat sosial.
“Di Kalimantan Tengah, antarumat beragama saling menghargai dan saling menjaga. Imlek ini bukan hanya milik satu kelompok, tapi menjadi bagian dari kebersamaan,” katanya.
Dalam rangka menyemarakkan Imlek, YTKK turut mendekorasi kawasan Bundaran Besar di Palangka Raya hingga perayaan Cap Go Meh. Selain itu, direncanakan pula kegiatan Imlek Bersama pada 1 Maret 2026 yang akan diisi dengan hiburan musik dan pertunjukan barongsai.
Di balik kemeriahan Imlek, perhatian masyarakat juga tertuju pada makna astrologi Tahun Kuda Api. Sekretaris YTKK, Sulistio atau akrab disapa Koh Apin, menjelaskan bahwa shio dalam tradisi Tionghoa bukan sekadar simbol tahunan, melainkan sistem filosofi yang dipercaya memengaruhi berbagai aspek kehidupan.
“Shio itu memengaruhi kehidupan kita, mulai dari rezeki, karier, relasi, sampai jodoh. Tapi shio tidak berdiri sendiri, masih ada unsur dan waktu lahir yang sangat menentukan,” jelas Koh Apin, Jumat (13/2).
Astrologi Tionghoa mengenal 12 shio yang berputar setiap 12 tahun, yakni Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, dan Babi. Selain itu, terdapat lima unsur yang menyertai shio, yakni Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air.
Perpaduan shio dan unsur inilah yang membentuk karakter energi setiap tahun dan membedakan sifat individu meski memiliki shio yang sama.
“Misalnya sama-sama shio Kuda, belum tentu elemennya sama. Bisa Kuda Api, Kuda Air, Kuda Logam, Kuda Kayu, atau Kuda Tanah. Jadi sifat dan keberuntungannya bisa berbeda,” ujarnya.
Shio Kuda dikenal memiliki karakter mandiri, dinamis, tidak suka diam, serta berani mengambil keputusan. Unsur Api memperkuat karakter tersebut dengan energi gairah, semangat, dan aktivitas tinggi.
“Kuda itu identik dengan kebebasan dan tindakan. Api itu melambangkan aktivitas dan gairah. Jadi Tahun Kuda Api ini mengajarkan kita untuk lebih banyak bergerak, tidak pasif, supaya bisa maju,” kata Koh Apin.
Ia menilai, energi Tahun Kuda Api sangat relevan dengan kondisi 2026 yang menuntut masyarakat lebih adaptif dan berani mengambil peluang di tengah tantangan. Tahun ini juga menjadi momentum menguji nyali pelaku usaha untuk membuka usaha maupun mengembangkan bisnisnya.
Berdasarkan bacaan dan pandangan para ahli feng shui, Koh Apin menyebutkan sejumlah shio yang dinilai memiliki peluang hoki atau keberuntungan lebih besar di Tahun Kuda Api 2026, antara lain Shio Kuda (1966, 1978, 1990, 2002, 2014, 2026), Shio Macan (1962, 1974, 1986, 1998, 2010, 2022), Shio Kerbau (1925, 1937, 1949, 1961, 1973, 1985, 1997, 2009, 2021), Shio Kambing (1955, 1967, 1979, 1991, 2003, 2015, 2027), Shio Ular (1941, 1953, 1965, 1977, 1989, 2001, 2013, 2025), Shio Tikus (1960, 1972, 1984, 1996, 2008, 2020).
"Bagi teman-teman yang shionya termasuk ini (shio berpeluang hoki 2026), kalau mau mulai usaha atau mengembangkan bisnis, peluangnya dinilai lebih tinggi di tahun Kuda Api,” ungkapnya.
Khusus bagi Shio Kuda, keberuntungan juga dikaitkan dengan angka 2 dan 7, arah tenggara, serta warna merah, merah muda, dan ungu yang dipercaya dapat memperkuat energi positif.
Meski demikian, Koh Apin menegaskan bahwa tidak ada shio yang sepenuhnya buruk. Beberapa shio hanya diminta untuk lebih berhati-hati, terutama dalam hal keuangan, relasi, dan usaha.
“Kalau di tradisi kami ada istilah ‘poun’, semacam tolak bala. Itu biasanya dilakukan bagi shio yang kurang beruntung,” katanya.
Menurutnya, poun bukan dimaknai secara mistis, melainkan diwujudkan melalui tindakan positif.
“Caranya dengan banyak berbagi, bakti sosial, membantu orang yang kurang mampu, memperhatikan panti asuhan. Tindakan-tindakan positif itu dipercaya bisa membantu melancarkan rezeki,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa keberuntungan seseorang tidak hanya ditentukan oleh shio, tetapi juga oleh tanggal, bulan, dan jam kelahiran.
Koh menyatakan bahwa Tahun Kuda Api harus dijadikan momentum untuk memperkuat persatuan, etos kerja, dan semangat kebersamaan.
“Kami selalu mengingatkan generasi muda untuk tetap rukun, saling menghargai, dan bekerja sama membangun Indonesia. Jangan sampai kita sibuk memecah belah,” ucapnya.
Koh Apin menambahkan, energi Kuda Api seharusnya dimanfaatkan generasi muda untuk lebih aktif, kreatif, dan inovatif.
“Tahun Kuda Api ini mengajarkan kita satu hal, jangan diam. Bergeraklah, ambil peluang, tetap positif, dan terus berusaha,” pungkasnya. (ovi/ala)
Editor : Ayu Oktaviana