Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Langit Kalteng Dilewati Gerhana Bulan Total, Tiga Kabupaten Diprediksi Jadi Lokasi Pengamatan Terbaik

Agus Pramono • Selasa, 3 Maret 2026 | 16:20 WIB

Gerhana bulan. BMKG
Gerhana bulan. BMKG

PALANGKA RAYA – Masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) berkesempatan menyaksikan fenomena astronomi langka, Gerhana Bulan Total, yang terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026.

Fenomena ini dapat diamati sejak awal fase totalitas pada pukul 18.03 WIB, dengan puncak gerhana berlangsung pukul 18.33 WIB, dan berakhir pada pukul 21.24 WIB.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Neng Arini Nur P., memastikan bahwa seluruh wilayah Kalteng berpotensi menyaksikan fase totalitas gerhana, termasuk Kota Palangka Raya dan sekitarnya, selama kondisi cuaca mendukung.

“Seluruh wilayah Kalimantan Tengah dapat mengamati Gerhana Bulan Total sejak fase gerhana total dimulai, yaitu pukul 18.03 WIB, dengan puncak pada pukul 18.33 WIB. Gerhana Bulan ini berlangsung hingga pukul 21.24 WIB,” ujarnya kepada Kalteng Pos, Selasa (3/3/2026).

Meski demikian, visibilitas sangat bergantung pada kondisi cuaca di masing-masing daerah. Berdasarkan prakiraan cuaca terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalteng, sejumlah wilayah diprediksi mengalami hujan ringan pada sore hari.

“Untuk sore hari, diprakirakan terjadi hujan ringan di wilayah Kabupaten Kapuas bagian utara, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, dan Barito Timur. Kemudian pada malam hari berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah,” jelasnya.

Sementara itu, tiga kabupaten diprediksi memiliki peluang pengamatan yang lebih baik.

“Kabupaten Seruyan, Kotawaringin Barat, dan Lamandau diprakirakan berawan pada malam hari. Sehingga berdasarkan prakiraan tersebut, wilayah-wilayah tersebut berpotensi memiliki kondisi pengamatan terbaik,” kata Neng Arini.

Ia menambahkan, meskipun hanya berawan, kondisi awan tebal atau hujan lokal tetap dapat mengganggu pengamatan gerhana.

Selain menjadi fenomena astronomi yang menarik, gerhana bulan juga berpengaruh terhadap kondisi pasang surut air laut. Menurut Neng Arini, fenomena ini dapat memengaruhi ketinggian muka air, khususnya di wilayah pesisir selatan Kalteng serta daerah hilir sungai besar yang terhubung langsung dengan laut, seperti Daerah Aliran Sungai (DAS) Kahayan dan Barito.

“Fenomena gerhana bulan ini mempengaruhi ketinggian air laut, sehingga di wilayah lautan atau pesisir selatan Kalimantan Tengah dan sungai di bagian hilir yang terhubung langsung dengan laut mungkin akan terjadi peningkatan ketinggian air,” ungkapnya.

Namun demikian, berdasarkan prediksi BMKG, kondisi tersebut masih dalam kategori aman. Tinggi gelombang diprakirakan berada pada kisaran 0,5 hingga 2,0 meter atau kategori rendah hingga sedang.

“Berdasarkan pantauan data water level dan prediksi pasang surut, wilayah Kalimantan Tengah tidak berpotensi terjadi banjir pesisir atau rob akibat fenomena ini,” tegasnya.

Berbeda dengan gerhana matahari yang memerlukan alat bantu khusus untuk menghindari dampak pada mata, pengamatan Gerhana Bulan Total dapat dilakukan secara langsung tanpa perlindungan khusus.

“Untuk mengamati Gerhana Bulan tidak diperlukan alat khusus seperti saat mengamati Gerhana Matahari. Cukup dengan melihat ke langit yang cerah di mana posisi Bulan berada, maka gerhana dapat diamati dengan baik dan jelas,” ujarnya.

BMKG Kalteng sendiri tidak menggelar kegiatan nonton bareng atau pengamatan bersama pada peristiwa kali ini. Masyarakat diimbau untuk menyaksikan dari kediaman masing-masing.

“Dari BMKG Kalteng tidak menggelar agenda nonton bareng untuk gerhana malam ini. Masyarakat bisa menyaksikan fenomena Gerhana Bulan dari rumah masing-masing, asal kondisi cuaca mendukung,” jelasnya.

Neng Arini juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengaitkan gerhana bulan dengan mitos yang berkembang di tengah masyarakat. Secara ilmiah, Gerhana Bulan Total terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus, sehingga cahaya Matahari terhalang oleh Bumi dan tidak seluruhnya mencapai permukaan Bulan.

“Gerhana Bulan adalah peristiwa terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan. Gerhana Bulan Total terjadi saat posisi Matahari-Bumi-Bulan sejajar. Sehingga tidak berkaitan dengan mitos-mitos yang dipercaya masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan, BMKG sebagai institusi yang bertugas memantau aspek meteorologi, klimatologi, dan geofisika, juga melakukan pemantauan terhadap fenomena astronomi tertentu seperti pengamatan hilal dan gerhana.

“BMKG memantau peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan meteorologi, klimatologi, dan geofisika. Fenomena astronomi yang dapat diketahui dan diprediksi seperti pengamatan hilal dan gerhana juga kami informasikan kepada masyarakat,” tutupnya.

Dengan peluang pengamatan yang cukup terbuka di sejumlah wilayah, masyarakat Kalteng diharapkan dapat memanfaatkan momen ini sebagai sarana edukasi sekaligus menikmati keindahan fenomena langit yang jarang terjadi. (ovi)

Editor : Ayu Oktaviana
#banjir pesisir #fenomena astronomi #gerhana #edukasi #hilal #kalimantan tengah #fenomena langit #Awan tebal #gerhana bulan #hujan ringan #cuaca hari ini #Daerah Aliran Sungai (DAS) #gerhana bulan total #BMKG Kalteng