Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Cap Go Meh di Vihara Avalokitesvara Palangka Raya, Lampion Merah dan Barongsai Semarakkan Malam Kebersamaan

Agus Pramono • Rabu, 4 Maret 2026 | 17:20 WIB

Pertunjukan barongsai malam perayaan Cap Go Meh di Vihara Avalokitesvara Buddhayana. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
Pertunjukan barongsai malam perayaan Cap Go Meh di Vihara Avalokitesvara Buddhayana. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS

PALANGKA RAYA - Ratusan lampion merah bergoyang pelan tertiup angin malam, aroma dupa menguar dari altar utama, sementara dentuman tambur barongsai menggema memecah langit Palangka Raya.

Perayaan Cap Go Meh di Vihara Avalokitesvara Buddhayana, Senin (2/3/2026), tak sekadar menjadi penutup rangkaian Tahun Baru Imlek, tetapi juga momentum spiritual dan kebersamaan lintas warga yang memadati halaman vihara.

Malam hari, umat Buddha dan masyarakat umum mulai berdatangan. Sebagian mengenakan busana bernuansa merah dan emas, warna yang identik dengan perayaan Imlek. Di dalam ruang ibadah, umat khusyuk mengikuti Puja Bhakti pembacaan sutra (Liam Keng) yang dipimpin rohaniawan.

Upasaka Pandita Vihara Avalokitesvara Buddhayana, U.P. Vidia Saputra Waskito, S.Ag, menjelaskan bahwa Cap Go Meh memiliki makna khusus, baik secara tradisi Tionghoa maupun dalam praktik keagamaan umat Buddha.

“Kalau untuk tradisi Tionghoa, ada beberapa umat yang datang untuk menghormati leluhur. Di sini juga ada Tephekong, itu yang kental dengan tradisinya,” ujarnya usai acara.

Ia menambahkan, perayaan tahun ini bertepatan dengan momen Uposatha, yakni hari suci umat Buddha saat bulan purnama.

“Bagi umat Buddha, ini juga kebetulan momen Uposatha, saat bulan terang. Dilakukan puja bakti dan ada umat awam yang melaksanakan Atthasila atau delapan sila. Biasanya sehari-hari menjalankan lima sila, tetapi pada hari Uposatha atau Cap Go Meh ini, sebagian umat melaksanakan delapan sila sebagai bentuk peningkatan praktik kebajikan,” jelasnya.

Menurut Vidia, Cap Go Meh menjadi penutup rangkaian Imlek yang sarat pesan moral dan spiritual. Ia mengaitkan perayaan tahun ini dengan semangat pembaruan diri.

“Pesannya menyambung dari momen Imlek kemarin, tentang semangat. Semangat untuk melaksanakan kebajikan kembali, menjalankan ajaran Sang Buddha, menjalankan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Usai ibadah, suasana berubah menjadi hangat dan penuh keakraban. Umat dan tamu yang hadir duduk bersama menikmati hidangan khas Lontong Cap Go Meh yang disajikan panitia. Menu tersebut terdiri dari lontong, opor ayam, sambal goreng ati, telur pindang, serta aneka pelengkap lainnya.

“Tradisinya memang makan bersama Lontong Cap Go Meh. Itu menandakan kebersamaan setelah puja bakti. Jadi bukan hanya ibadah, tapi juga mempererat persaudaraan,” ujar Vidia.

Di halaman vihara, pertunjukan barongsai dari Barongsai Singa Emas Grup menjadi magnet tersendiri. Dentuman tambur dan gerakan lincah dua barongsai berwarna merah dan kuning disambut tepuk tangan meriah warga. Anak-anak tampak antusias mendekat, sebagian mengabadikan momen dengan telepon genggam.

Baca Juga: Tutup Tahun 2576 Kongzili dan Menyambut Imlek 2577 Kongzili, Umat Konghucu di Sampit Panjatkan Doa di Vihara

Tidak hanya umat Buddha, masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan etnis turut hadir menyaksikan perayaan tersebut.

Salah seorang warga, Rina (32), mengaku sengaja datang bersama keluarganya untuk menyaksikan barongsai.

“Setiap tahun kalau ada Cap Go Meh saya selalu datang. Suasananya meriah, tapi tetap terasa khusyuk saat ibadahnya. Anak-anak juga senang lihat barongsai,” ujarnya.

Warga lainnya, Syarifudin (42), menilai perayaan ini menjadi simbol keberagaman yang harmonis di Kota Palangka Raya.

“Ini bukti kalau perbedaan itu indah. Kita bisa datang, menonton, ikut merasakan kebersamaannya tanpa melihat latar belakang agama. Semoga kegiatan seperti ini terus ada,” katanya.

Perayaan Cap Go Meh yang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek secara tradisional menandai berakhirnya rangkaian perayaan tahun baru masyarakat Tionghoa. Di Palangka Raya, momentum ini tidak hanya dimaknai sebagai pesta budaya, tetapi juga ruang perjumpaan sosial dan penguatan nilai kebajikan. (ovi/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#dhamma #barongsai #pesta budaya #Vihara Avalokitesvara Buddhayana #tahun baru imlek #umat buddha #cap go meh #tradisi tionghoa #tionghoa #lontong cap go meh #perayaan imlek