PALANGKA RAYA – Upaya meningkatkan mutu pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus terus digelorakan. Mahasiswa Program Magister (S2) Pendidikan Khusus Universitas Negeri Malang (UM) asal Palangka Raya, Aceng Rosadi, menginisiasi pelatihan implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) bagi guru-guru Satuan Pendidikan Khusus (SPK) di Kota Palangka Raya.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari penguatan kompetensi guru dalam memberikan layanan pendidikan yang lebih adaptif dan bermakna bagi murid berkebutuhan khusus. Pelatihan berlangsung dalam lima kali pertemuan tatap muka dan menggandeng SKH Mutiara Ananda Palangka Raya sebagai tuan rumah.
Pelatihan tersebut diikuti oleh para guru dari sejumlah sekolah, yakni SKH Mutiara Ananda, SKH Gemilang, SKH Pelangi Cita, SKH Pelita Insani Kalampangan, SKH Andwiva Karuhei Tatau, serta TK Kaharap Palangka Raya.
Aceng Rosadi menjelaskan, kegiatan ini tidak sekadar agenda akademik, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap peningkatan kualitas layanan pendidikan khusus di daerah.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas mata kuliah Pengembangan Profesi Pendidikan Khusus sekaligus bentuk kontribusi akademik dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi murid berkebutuhan khusus. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 yaitu pendidikan berkualitas (quality education),” ujar Aceng.
Dalam pelatihan tersebut, para guru mendapatkan materi mengenai konsep dasar pembelajaran mendalam, strategi implementasi di kelas khusus, hingga praktik penyusunan perangkat pembelajaran yang adaptif dan fungsional sesuai karakteristik murid berkebutuhan khusus.
Pendekatan pembelajaran mendalam yang diperkenalkan menekankan pada tiga prinsip utama, yakni berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Melalui pendekatan ini, proses belajar tidak hanya diarahkan pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, peningkatan kompetensi, serta pemahaman konsep yang lebih kuat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Aceng yang juga menjabat sebagai Pengawas Sekolah Khusus pada Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah menegaskan bahwa perubahan kualitas pendidikan harus dimulai dari penguatan kapasitas guru.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap para guru dapat mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih bermakna, tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses belajar murid. Anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan pendekatan yang tepat, personal, dan kontekstual,” katanya.
Menurutnya, pembelajaran mendalam mendorong guru untuk lebih reflektif dalam merancang pembelajaran, memahami kebutuhan individual siswa, serta menciptakan suasana kelas yang inklusif dan menyenangkan.
Respons positif pun datang dari peserta pelatihan. Salah seorang guru mengungkapkan bahwa materi yang diberikan sangat relevan dengan kondisi nyata di lapangan.
“Pelatihan ini sangat membantu kami dalam memahami cara mengajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Kami jadi lebih paham bagaimana menyusun pembelajaran yang adaptif dan tidak sekadar mengikuti pola umum,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari sinergi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan praktisi pendidikan di daerah. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memastikan inovasi dan hasil kajian akademik dapat diterapkan secara nyata di sekolah, khususnya dalam meningkatkan mutu pendidikan khusus di Kota Palangka Raya.
Dengan penguatan kompetensi guru melalui pendekatan pembelajaran mendalam, kualitas layanan pendidikan bagi murid berkebutuhan khusus diharapkan semakin meningkat, sejalan dengan komitmen menghadirkan pendidikan yang inklusif, setara, dan bermutu bagi semua.(*)
Editor : Ayu Oktaviana