PALANGKA RAYA – Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR) akhirnya buka suara terkait pelaksanaan wisuda di Kampus II yang menuai kritik dari mahasiswa.
Rektor UMPR, Dr. H. Muhamad Yusuf, menyebut kebijakan tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan, bukan semata persoalan teknis lokasi.
Baca Juga: Biaya dan Lokasi Wisuda Mahasiswa UMPR Disorot, Wakil Rektor Angkat Bicara, Berikut Penjelasannya
Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab membekali lulusan agar mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi di lapangan, termasuk situasi yang tidak selalu ideal.
“Kita punya beban bagaimana lulusan ini bisa beradaptasi di luar. Kalau hari ini harus menghadapi panas, itu bagian dari realitas yang nanti mereka temui,” ujarnya, Kamis (23/4).
Ia menegaskan, pengalaman selama wisuda juga menjadi bagian pembelajaran, agar mahasiswa terbiasa menghadapi kondisi nyata di masyarakat.
“Di luar itu tidak selalu nyaman. Banyak hal yang harus dihadapi dan diatasi. Jadi sejak awal kita dorong mereka untuk bisa beradaptasi,” katanya.
Yusuf menambahkan, pola pembelajaran di UMPR selama ini memang mengedepankan keseimbangan antara teori di ruang kelas dan praktik di lapangan.
“Pembelajaran kita selalu mengimbangkan antara teori dan empiris, antara ruangan dan lapangan,” tegasnya.
Sebelumnya, pelaksanaan wisuda UMPR mendapat sorotan dari mahasiswa, terutama terkait biaya yang dinilai cukup tinggi, yakni Rp2 juta untuk S1 dan Rp3 juta untuk S2.
Kritik juga muncul terhadap kualitas pelaksanaan yang dianggap belum sepadan dengan biaya, termasuk penggunaan tenda dan fasilitas yang dinilai sederhana.
Mahasiswa juga mempertanyakan transparansi penggunaan dana wisuda yang hingga kini belum dijelaskan secara rinci oleh pihak kampus.
Sejumlah mahasiswa berharap, selain memberikan pemahaman filosofis, pihak kampus juga dapat membuka informasi secara lebih transparan serta meningkatkan kualitas pelaksanaan wisuda ke depan.(*)
Editor : Ayu Oktaviana