PMII Kalteng Angkat Tema Agraria, Fikri Haikal: Rakyat Butuh Bukti Bukan Janji
Novia• Selasa, 28 April 2026 | 17:00 WIB
Ketua PKC PMII Kalteng, Fikri Haikal suarakan isu agraria. Arief Prathama/Kalteng Pos
PALANGKA RAYA-Ketua PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kalteng, Fikri Haikal, menegaskan bahwa usia 66 tahun merupakan momentum kedewasaan organisasi untuk menghadirkan aksi nyata.
Harlah diisi dengan dialog publik yang mengangkat tema “Gerakan Agraria Menuju Keadilan Sosial dan Kedaulatan Ruang Hidup Masyarakat Kalimantan Tengah.”
Ia menekankan, kader PMII sebagai mahasiswa harus menjadikan ilmu pengetahuan sebagai senjata utama, melawan hoaks, serta menjaga ruang publik dari narasi yang memecah belah.
“Indonesia hari ini tidak hanya butuh narasi. Indonesia butuh solusi. Rakyat tidak butuh janji, tetapi bukti,” katanya, Minggu (26/4/2026).
PMII, lanjutnya, harus hadir di tengah masyarakat sebagai penyambung lidah rakyat dalam menghadapi kemiskinan, ketidakadilan, dan kerusakan lingkungan.
Ia juga mendorong kader untuk berani turun langsung ke lapangan maupun masuk ke ruang-ruang strategis dalam mendorong perubahan kebijakan.
Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran mengatakan, persoalan agraria bukan hanya soal tanah, tetapi menyangkut keadilan, kesejahteraan, dan keberlanjutan hidup masyarakat, terutama masyarakat adat dan lokal.
“Kalimantan Tengah kaya sumber daya alam, tetapi kita juga menghadapi tantangan konflik lahan, ketimpangan penguasaan tanah, dan ancaman terhadap ruang hidup masyarakat,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Kapolda Kalteng Irjen Pol. Djoko Poerwanto menyoroti persoalan agraria dari sisi keamanan. Ia mengapresiasi kontribusi PMII dalam menjaga stabilitas daerah dan mendorong diskursus kritis yang produktif.
Menurutnya, konflik agraria di Kalteng kerap menimbulkan tindak kriminalitas bahkan korban jiwa. Jika tidak dikelola dengan baik, konflik tersebut bisa berkembang menjadi konflik berbasis identitas sosial, baik antar golongan maupun antar suku.
Ketua PWNU Kalteng, Dr. H. Wahyudie F. Dirun, menyebut peringatan Harlah sebagai momentum introspeksi dan muhasabah. Ia menegaskan PMII merupakan bagian dari rumah besar Nahdlatul Ulama bersama badan otonom lainnya.
"Hari lahir ini adalah momentum introspeksi dan muhasabah bagi kita semua. Kita harus mengevaluasi kembali perjuangan dan program kemaslahatan yang sudah kita lakukan,” ujarnya.
Ia mengibaratkan NU seperti Rumah Betang dalam filosofi Dayak, tempat berbagai latar belakang hidup bersama dalam satu atap dengan semangat persatuan.
Wahyudie berpesan agar kader PMII menjaga proses kaderisasi sebagai mesin perjuangan dan meluruskan niat dalam berorganisasi sebagai bagian dari pengabdian. (*)