PALANGKA RAYA– Di tengah tantangan krisis pangan global dan perubahan iklim, peran petani kembali disorot sebagai pilar utama kedaulatan negara.
Hal itu ditegaskan Gapoktan Gema Tani yang menyerukan pentingnya menjaga ketahanan pangan mulai dari pekarangan.
Baca Juga: Penyelewengan 8 Ton Pupuk Berdampak ke Petani di Kecamatan Teluk Sampit
Pengurus Gapoktan Gema Tani, Mariman, mengatakan ketahanan pangan bukan sekadar urusan perut, melainkan benteng terakhir kedaulatan sebuah bangsa.
"Jaga kedaulatan negara melalui ketahanan pangan. Kalau kita tidak berdaulat atas pangan, kita akan mudah didikte negara lain," tegas Mariman saat ditemui di sela kegiatan kelompok tani, Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, petani harus diposisikan sebagai profesi strategis. Negara yang kuat pangan, kata dia, adalah negara yang tidak mudah digoyang krisis.
"Petani hebat, negara berdaulat. Itu bukan sekadar slogan. Kalau petani sejahtera dan produktif, otomatis kedaulatan kita terjaga," tambahnya.
Baca Juga: BMKG Sarankan Petani Pilih Varietas Tahan Kering, Antisipasi Kemarau Panjang
Anggota Gapoktan Gema Tani, Mardi Pranoto, menambahkan bahwa regenerasi petani jadi kunci. Ia mendorong anak muda desa untuk tidak malu bertani dan melihat pertanian sebagai sektor masa depan.
"Selama ini pertanian dianggap kuno. Padahal dengan teknologi, bertani bisa modern dan menguntungkan. Kalau anak muda mau turun, ketahanan pangan kita pasti kuat," ujar Mardi.
Mardi juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah, mulai dari akses pupuk, bibit unggul, hingga jaminan harga saat panen raya. Tanpa itu, semangat petani bisa luntur.
edaulatan pangan dimulai dari satu petak sawah. Kalau semua desa bergerak, Indonesia tidak akan takut krisis pangan," tutupnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana