PALANGKA RAYA – Kabupaten Murung Raya kembali menegaskan dominasinya dalam lomba sepak sawut Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 setelah keluar sebagai juara usai menaklukkan Barito Utara dalam laga final dramatis, Rabu malam (21/5/2026).
Kemenangan ini menambah koleksi gelar Murung Raya setelah sebelumnya juga menjadi juara pada 2023 dan 2025.
Baca Juga: Putri Aqila Salim, Anak Pemalu yang Menaklukkan Panggung Stand Up Comedy
Partai final antara Murung Raya dan Barito Utara berlangsung sengit sejak menit awal. Dalam pertandingan dua babak masing-masing 10 menit itu, kedua tim tampil ngotot dan sama-sama menolak menyerah.
Serangan demi serangan terus dibangun menggunakan bola api yang menyala terang di tengah lapangan. Namun hingga peluit akhir dibunyikan, tidak ada satu pun gol tercipta.
Pertandingan pun harus ditentukan lewat adu penalti yang membuat suasana arena semakin menegangkan.
Tendangan demi tendangan dilakukan para pemain dengan sorak penonton yang terus menggema di sekitar arena. Pada penalti ketiga, Barito Utara sempat unggul lebih dulu setelah berhasil mencetak gol pembuka.
Namun Murung Raya langsung membalas dan membuat kedudukan kembali imbang 1-1.
Ketegangan memuncak saat penendang keempat Barito Utara gagal memanfaatkan peluang setelah tendangannya meleset dari gawang.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Murung Raya. Eksekutor Murung Raya sukses menaklukkan penjaga gawang lawan dan membalikkan keadaan menjadi 2-1.
Harapan terakhir Barito Utara berada di kaki penendang kelima. Namun tendangan penentu itu kembali gagal menembus pertahanan Murung Raya.
Seketika arena pecah oleh teriakan kemenangan suporter Murung Raya. Para pemain berhamburan di lapangan merayakan kemenangan, sementara Bupati Murung Raya Heriyus Midel Yoseph ikut turun langsung ke lapangan menghampiri dan memeluk para atletnya.
Di sisi lain, raut kecewa tampak jelas dari para pemain Barito Utara yang nyaris mematahkan dominasi Murung Raya tahun ini.
Bupati Murung Raya Heriyus Midel Yoseph mengapresiasi seluruh atlet yang bertanding dan menilai sportivitas menjadi hal paling penting dalam perlombaan tradisional tersebut.
“Saya menyaksikan langsung kegiatan ini dan melihat seluruh atlet menjunjung tinggi sportivitas yang luar biasa. Soal juara satu, dua, atau tiga itu nomor dua. Yang penting kita semua bersahabat,” ujarnya.
Menurut Heriyus, sepak sawut bukan sekadar perlombaan, tetapi juga ajang silaturahmi dan kebersamaan antardaerah dalam semangat Isen Mulang.
“Kami sangat mendukung. Mereka sudah beberapa hari latihan dan malam ini saya hadir langsung untuk memberikan dukungan,” katanya.
Saat ditanya mengenai hadiah khusus dari Pemerintah Kabupaten Murung Raya bagi tim juara, Heriyus memberi jawaban diplomatis.
“Tentu hadiah utama sudah dari panitia. Kalau dari pemerintah daerah itu rahasia kami. Tapi pasti ada bentuk ucapan terima kasih kepada mereka,” ucapnya sambil tersenyum.
Menurutnya, keberhasilan Murung Raya mempertahankan dominasi di sepak sawut tidak lepas dari semangat, kekompakan, dan kebersamaan seluruh tim.
“Yang paling penting itu semangat, kebersamaan, dan kekompakan,” tegasnya.
Sementara itu, Kapten Tim Murung Raya Paul Gonzales (25) mengatakan persiapan tim dilakukan sejak setengah bulan sebelum pertandingan. Seluruh pemain yang dibawa bahkan berasal dari satu kampung sehingga kekompakan tim sudah terbangun sejak lama.
“Persiapan kami sejak setengah bulan lalu. Setelah sampai di Palangka Raya juga tetap pemanasan kecil seperti mini soccer dan jogging ringan supaya otot siap,” ujarnya.
Paul mengaku pengalaman sebagai juara bertahan membuat para pemain lebih siap menghadapi panasnya bola api dalam pertandingan sepak sawut.
“Takut pasti ada, tapi kami sudah punya pengalaman,” katanya.
Untuk mengurangi rasa panas saat menendang bola api, para pemain biasanya menggunakan odol dan hand body.
“Pakai odol karena rasanya dingin, jadi waktu menendang bola tidak terlalu terasa panas,” ungkapnya.
Meski tergolong permainan ekstrem, Paul mengaku dirinya belum pernah mengalami cedera serius selama tiga tahun bermain sepak sawut.
Ia menilai sepak sawut memiliki makna lebih dari sekadar kompetisi, yakni menjaga tradisi dan budaya daerah agar tetap dikenal generasi muda.
“Bukan cuma soal pertandingan, tapi menjaga budaya dan tradisi supaya tetap dikenal. Selain itu mempererat kebersamaan dan keberanian,” pungkasnya.
Adapun hasil akhir lomba sepak sawut FBIM 2026 yakni:
1. Murung Raya
2. Barito Utara
3. Sukamara
4. Pulang Pisau
5. Palangka Raya
6. Lamandau. (*)