PALANGKA RAYA-Ritual Tiwah merupakan prosesi keagamaan umat Hindu Kaharingan yang dilaksanakan untuk mengantarkan tulang belulang dan arwah leluhur menuju tempat peristirahatan terakhir di sandung atau lewu tatau. Pada pelaksanaan kali ini, ritual dilaksanakan untuk 20 almarhum dari Keluarga Besar Upun Gawi.
Rangkaian kegiatan yang dipusatkan di Jalan G. Obos VIII tersebut telah memasuki puncak acara berupa prosesi tabuh, yakni penyembelihan hewan kurban yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut.
Tabuh pertama dilaksanakan pada Jumat (10/7/2026) dengan penyembelihan lima ekor kerbau. Selanjutnya, tabuh kedua dijadwalkan pada Minggu (12/7/2026), sedangkan tabuh ketiga berlangsung pada Senin (13/7/2026).
“Pelaksanaan Tiwah menjadi salah satu bentuk pelestarian tradisi leluhur masyarakat Dayak yang terus diwariskan dari generasi ke generasi,” kata Gubernur.
Selain memiliki makna spiritual, ritual ini juga menjadi momentum mempererat kebersamaan, semangat gotong royong, serta memperkuat identitas budaya masyarakat Kalimantan Tengah.
Di tempat yang sama, Ketua DPRD Kalimantan Tengah, Arton S. Dohong, mengatakan, Ritual Tiwah merupakan tradisi sakral dalam ajaran Hindu Kaharingan yang memiliki nilai spiritual sekaligus budaya bagi masyarakat Dayak di Kalteng.
Menurut dia, pelaksanaan Tiwah tidak hanya menjadi bentuk pengamalan ajaran keagamaan, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga warisan budaya yang diwariskan oleh para leluhur.
“Pelaksanaan Tiwah tidak hanya menjadi bagian dari pengamalan ajaran keagamaan, tetapi juga merupakan upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang,” kata Arton.
Ia menilai, keberlangsungan ritual adat seperti Tiwah perlu terus didukung karena menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Dayak. Selain memiliki makna religius, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarmasyarakat.
Arton menambahkan, pelestarian adat dan budaya merupakan tanggung jawab bersama mengingat nilai-nilai tersebut menjadi salah satu kekayaan budaya Kalteng.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan, Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Linae Victoria Aden, unsur Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, Majelis Agama Hindu Kaharingan, Keluarga Besar Upun Gawi, serta tamu undangan lainnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana