Pemadaman Listrik Ancam Produksi Peternak Ayam Potong, DPRD Palangka Raya Minta Solusi Cepat

Dea Umilati • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 09:05 WIB
Peternak Ayam potong merugikan akibat pemadaman.(Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com)
Peternak Ayam potong merugikan akibat pemadaman.(Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com)

PALANGKA RAYA – Pemadaman listrik bergilir yang masih terjadi di Kota Palangka Raya tidak hanya berdampak pada aktivitas rumah tangga dan dunia usaha, tetapi juga mulai mengancam sektor peternakan.

Kondisi ini dikhawatirkan berimbas pada menurunnya produksi ayam ras pedaging atau ayam potong hingga memengaruhi ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan di pasaran.

Kekhawatiran tersebut disampaikan Sekretaris Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Sumadi, setelah menerima laporan dari sejumlah peternak ayam ras pedaging yang mengeluhkan gangguan operasional kandang akibat pasokan listrik yang tidak stabil.

Baca Juga: Peternak Ayam Merugi, PLN UP3 Palangka Raya Pastikan Keluhan Pemadaman Bergilir Disampaikan ke Manajemen

Menurutnya, persoalan ini harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun PT PLN agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.

"Laporan yang kami terima dari para peternak menunjukkan bahwa pemadaman listrik mulai mengganggu proses produksi. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi produksi hingga berdampak pada pasokan dan harga ayam di pasaran," ujarnya, Rabu (29/7/2026).

Ia menjelaskan, listrik merupakan komponen vital dalam sistem peternakan modern. Hampir seluruh aktivitas di kandang bergantung pada pasokan listrik, mulai dari menggerakkan kipas atau sistem ventilasi untuk menjaga suhu kandang, penerangan, pompa air minum, hingga berbagai peralatan penunjang lainnya.

Apabila aliran listrik terputus dalam waktu yang cukup lama, kondisi di dalam kandang dapat berubah drastis. Suhu yang meningkat berpotensi menyebabkan ayam mengalami stres, mengganggu pertumbuhan, bahkan meningkatkan risiko kematian, terutama pada ayam yang masih berada dalam masa pemeliharaan.

Menurut Sumadi, kerugian yang dialami peternak tidak hanya dirasakan dari sisi produksi. Gangguan yang terus berulang juga dapat memengaruhi rantai distribusi pangan karena berkurangnya pasokan ayam ke pasar. 

Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, bukan tidak mungkin harga daging ayam akan mengalami kenaikan dan pada akhirnya membebani masyarakat sebagai konsumen.

Karena itu, ia meminta pemerintah daerah bersama instansi terkait segera mengantisipasi potensi gangguan pasokan pangan dengan melakukan langkah-langkah mitigasi sejak dini.

Stabilitas harga bahan pangan, khususnya daging ayam yang menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat, menurutnya harus tetap menjadi prioritas.

"Kami berharap PT PLN dapat melakukan upaya maksimal untuk meminimalkan durasi pemadaman listrik, terutama di wilayah yang menjadi sentra peternakan ayam. Dengan demikian, aktivitas produksi dapat tetap berjalan dan risiko kerugian yang dialami peternak bisa ditekan," ungkapnya.

Selain peningkatan keandalan jaringan listrik, ia menilai diperlukan koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah daerah, PLN, dan pelaku usaha peternakan.

Melalui komunikasi yang baik, berbagai kendala di lapangan dapat segera diidentifikasi sehingga solusi yang diambil lebih cepat dan tepat sasaran.

Ia mengatakan, sektor peternakan memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Oleh sebab itu, berbagai persoalan yang berpotensi menghambat produksi harus segera ditangani agar tidak berdampak pada masyarakat secara luas.

"Kami berharap pasokan daging ayam di Kota Palangka Raya tetap aman dan harga di tingkat konsumen tetap stabil meskipun menghadapi tantangan musim kemarau dan gangguan kelistrikan. Sinergi antara pemerintah, PLN, dan pelaku usaha sangat diperlukan agar sektor peternakan tetap mampu berproduksi secara optimal," pungkasnya.(*)

Editor : Agus Pramono
peternak ayam rugi produksi ayam pemadaman listrik harga ayam