BNPB Gencarkan Modifikasi Cuaca untuk Meredam Karhutla di Kalteng

rifqi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 12:45 WIB
BNPB menyiagakan pesawat Cessna Caravan 208B PK-FPU di untuk operasi modifikasi cuaca di Kalteng.(BNPB)
BNPB menyiagakan pesawat Cessna Caravan 208B PK-FPU di untuk operasi modifikasi cuaca di Kalteng.(BNPB)

 

PALANGKA RAYA–Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat seiring puncak musim kemarau membuat penanganan melalui jalur udara terus diperkuat. Dua pesawat masih disiagakan untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan patroli udara di Kalteng.

Pusat pelaksanaan operasi berada di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. Dari pangkalan tersebut, pesawat diterbangkan menuju wilayah yang memiliki pertumbuhan awan potensial untuk melakukan penyemaian bahan semai berupa garam atau Natrium Klorida (NaCl), dengan tujuan meningkatkan peluang turunnya hujan.

Baca Juga: Cegah Karhutla, DPRD Kalteng Dorong Lahan Gambut Rawan Terbakar Dikelola Masyarakat

Penata Penanggulangan Bencana Ahli Pertama BNPB, Dadang Rhamdani mengatakan, dari dua pesawat yang tersedia, saat ini satu unit difokuskan untuk pelaksanaan OMC. Sementara pesawat lainnya diperbantukan untuk melakukan patroli udara guna memantau perkembangan karhutla.

“Benar, sekarang tinggal satu pesawat untuk OMC karena satu lagi digunakan untuk patroli. Patroli dilakukan untuk pemantauan hotspot, asap, dan area yang terbakar. Untuk posko dan pangkalan ada di Bandara Tjilik Riwut,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).

Dalam setiap penerbangan OMC, pesawat dapat mengangkut sekitar 1.000 kilogram (kg) bahan semai. NaCl tersebut kemudian disebarkan pada awan yang memenuhi kriteria untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran.

Upaya tersebut dilakukan untuk membantu membasahi kawasan yang mulai mengering sekaligus mendukung penanganan karhutla di daerah yang berpotensi maupun telah mengalami kebakaran.

Berdasarkan data BNPB, pelaksanaan OMC pada periode 16 hingga 30 Juni 2026 menggunakan pesawat Cessna Grand Caravan 208B dengan registrasi PK-FPU yang dioperasikan PT Arjuna Cakrawala Perkasa.

Baca Juga: Anggaran BTT Rp70 Miliar Siap Digunakan Menanggulangi Karhutla, DPRD Kalteng Beri Wanti-Wanti

Dalam periode tersebut, pesawat melaksanakan sebanyak 31 sortie dengan akumulasi waktu penerbangan mencapai 63 jam 18 menit. Sebanyak 31.000 kg NaCl telah disebarkan selama operasi.

Operasi menggunakan pesawat yang sama kemudian kembali dilaksanakan pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026. Dalam periode itu, tercatat sebanyak lima sortie dengan total waktu penerbangan 10 jam 13 menit dan penggunaan 5.000 kg bahan semai.

Setelah menyelesaikan rangkaian tersebut, pesawat PK-FPU kemudian diperbantukan untuk melakukan patroli udara. “Saat ini pesawat diperbantukan untuk patroli pemantauan,” kata Dadang.

Sementara itu, pesawat Cessna Grand Caravan 208B dengan registrasi PK-SNG yang dioperasikan PT Makson Sukses Pratama mulai menjalankan OMC sejak 31 Juli 2026.

Hingga Selasa (4/8/2026), pesawat tersebut telah melaksanakan tiga sortie dengan total waktu terbang mencapai 7 jam 2 menit. Bahan semai yang telah digunakan mencapai 3.000 kg NaCl dan operasinya masih terus berjalan.

“Sekali penerbangan, pesawat bisa membawa 1.000 kg bahan semai,” jelasnya.

Baca Juga: Mengkhawatirkan! Kasus ISPA Dampak Karhutla di Kota Palangka Raya Tembus 12 Ribu 

Jika diakumulasi, operasi udara untuk mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Tengah telah mencatat 39 sortie dengan total 80 jam 33 menit penerbangan. Bahan semai yang digunakan mencapai 39.000 kg NaCl.

Pelaksanaan OMC tidak dilakukan secara sembarangan. Intensitas dan lokasi penerbangan menyesuaikan kondisi atmosfer serta keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Pesawat diarahkan menuju wilayah yang dinilai memenuhi kondisi untuk dilakukan penyemaian.

Selain memanfaatkan OMC, patroli udara juga menjadi bagian dari penanganan karhutla. Pemantauan dari udara digunakan untuk melihat keberadaan hotspot, kepulan asap hingga kawasan yang mengalami kebakaran.

Informasi tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan dalam menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan lebih intensif di lapangan. Dengan kombinasi penyemaian awan dan patroli udara, upaya penanganan diharapkan dapat membantu membasahi kawasan rawan sekaligus mempercepat pemantauan terhadap munculnya kebakaran selama musim kemarau di Kalteng.(*)

Editor : Agus Pramono
bnpb modifikasi cuaca karhutla kalteng modifikasi cuaca