PALANGKA RAYA-Wisuda seharusnya menjadi titik awal bagi seseorang untuk memasuki dunia profesional. Namun, bagi sebagian lulusan baru di Kalimantan Tengah, ijazah yang telah diperoleh belum serta-merta berujung pada pekerjaan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Kalimantan Tengah pada 2025 mencapai 58.612 orang.
Di balik angka tersebut, lulusan baru atau fresh graduate disebut menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak mengisi angka pengangguran karena masih berada dalam masa transisi dari bangku pendidikan menuju dunia kerja.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kalteng, Farid Wajdi, mengatakan kondisi tersebut merupakan sesuatu yang lazim terjadi. Setelah menyelesaikan pendidikan, seseorang tidak selalu langsung memperoleh pekerjaan.
Baca Juga: KP2MI Ungkap Puluhan Ribu Lowong Kerja Program SMK Go Global
“Fresh graduate, karena begitu lulus kan belum tentu langsung bekerja. Misalnya ada seribu orang yang diwisuda, mungkin yang sudah memiliki pekerjaan hanya sekitar seratus orang. Sisanya masih mencari pekerjaan selama satu, dua, bahkan tiga bulan,” ujarnya, Selasa (11/8/2026).
Menurut Farid, selama lulusan baru tersebut masih aktif mencari pekerjaan, mereka masuk dalam kategori pengangguran. Artinya, bertambahnya angka pengangguran tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang tidak memiliki kemampuan atau tidak tersedia lapangan pekerjaan sama sekali.
Momentum kelulusan bahkan dapat membuat jumlah pencari kerja meningkat dalam waktu relatif bersamaan. Ribuan lulusan baru memasuki pasar kerja, sementara proses rekrutmen perusahaan membutuhkan waktu dan tidak seluruh posisi yang tersedia dapat langsung sesuai dengan latar belakang maupun kompetensi mereka.
Baca Juga: 2,15 Juta Penduduk Kalteng Memasuki Usia Kerja, Bagaimana Cara Pemerintah Ciptakan Lapangan Kerja?
Karena itu, angka pengangguran dapat mengalami dinamika seiring dengan siklus pendidikan dan penyerapan tenaga kerja.
Angka Pengangguran Per Daerah
Kotawaringin Timur : 10.114 orang
Palangka Raya : 8.175
Kapuas : 7.986
Kotawaringin Barat : 6.546
Barito Utara : 4.211
Katingan : 4.035
Seruyan : 3.180
Barito Selatan : 2.972
Gunung Mas : 2.461
Barito Timur : 2.267
Lamandau : 1.771
Pulang Pisau : 1.757
Sukamara : 1.638
Murung Raya : 1.499
"Besarnya angka pengangguran di suatu daerah bukan berarti minimnya lapangan pekerjaan. Ada sejumlah faktor yang memengaruhi seseorang belum terserap ke dunia kerja," ungkapnya.
Farid mengatakan sebagian pengangguran terjadi karena adanya ketidaksesuaian atau mismatch antara kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan.
Di sisi lain, terdapat pula lowongan pekerjaan yang sebenarnya tersedia, tetapi tidak diminati pencari kerja karena berbagai pertimbangan, termasuk lokasi pekerjaan yang jauh.
“Ada lowongan, tetapi tidak diminati karena lokasinya jauh. Ada juga lowongan yang tersedia tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan atau kompetensi pencari kerja,” jelasnya.
Persoalan tersebut membuat hubungan antara pencari kerja dan perusahaan tidak selalu sederhana. Di satu sisi, perusahaan membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. Di sisi lain, pencari kerja memiliki latar belakang pendidikan, keterampilan, dan preferensi pekerjaan yang belum tentu sesuai dengan posisi yang tersedia.
Kondisi ini menjadi salah satu tantangan dalam proses penyerapan tenaga kerja, khususnya bagi lulusan baru yang belum memiliki pengalaman kerja.
Farid menyebut mayoritas pengangguran di Kalteng juga berasal dari kelompok usia produktif. Hal tersebut berkaitan dengan definisi pengangguran yang digunakan dalam statistik ketenagakerjaan, yakni penduduk yang termasuk dalam angkatan kerja dan sedang aktif mencari pekerjaan.
Meski angka pengangguran mencapai puluhan ribu orang, Farid menilai kondisi ketenagakerjaan Kalteng secara umum masih relatif baik. Tingkat pengangguran terbuka di provinsi ini masih berada di bawah empat persen.
“Sebagian besar sebenarnya sudah terserap di lapangan kerja. Tingkat pengangguran kita relatif kecil karena masih di bawah empat persen,” katanya.
Untuk mengurangi kesenjangan antara pencari kerja dan kebutuhan dunia usaha, Disnakertrans Kalteng terus mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja.
Pelatihan berbasis kompetensi menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk membantu pencari kerja meningkatkan keterampilan sesuai kebutuhan pasar. Selain itu, pemerintah juga menggelar bursa kerja atau job fair untuk mempertemukan perusahaan dengan para pencari kerja secara langsung.
Koordinasi dengan dunia usaha juga terus diperkuat agar perusahaan lebih aktif membuka sekaligus mengumumkan kebutuhan tenaga kerja yang tersedia.
"Upaya ini penting karena persoalan pengangguran tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah jumlah lowongan. Kesesuaian antara kebutuhan perusahaan dan kompetensi tenaga kerja juga harus menjadi perhatian," tegasnya.
Terlebih, setiap tahun pasar kerja kembali menerima lulusan baru dari berbagai jenjang pendidikan. Tanpa kesiapan kompetensi dan informasi yang memadai mengenai kebutuhan industri, lulusan tersebut berpotensi kembali masuk dalam antrean pencari kerja.(*)
Editor : Agus Pramono