Pedagang Bendera di Sampit Hadapi Penjualan yang Makin Seret

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 16:30 WIB
Pedagang bendera di Sampit mengaku sepi pembeli.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Pedagang bendera di Sampit mengaku sepi pembeli.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT – Pedagang musiman perlengkapan kemerdekaan di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), harus menghadapi penurunan permintaan menjelang perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia. 

Sejumlah pedagang mengaku omzet mereka tahun ini merosot hingga lebih dari separuh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Padahal, pertengahan Agustus biasanya menjadi waktu tersibuk bagi penjual bendera, umbul-umbul dan berbagai pernak-pernik merah putih. Namun, kondisi lapak di sejumlah ruas jalan Sampit justru belum menunjukkan geliat penjualan yang signifikan.

Anton, pedagang atribut kemerdekaan di kawasan Jalan A Yani dekat Taman Ikon Jelawat, mengatakan daya beli masyarakat tahun ini terasa jauh berbeda. Setelah lebih dari satu dekade menjalani usaha musiman tersebut, ia menilai penjualan pada Agustus kali ini menjadi salah satu yang paling sulit.

“Kalau biasanya mendekati tanggal 17 pembeli mulai ramai, sekarang pergerakannya masih lambat. Selama saya berjualan lebih dari 10 tahun, penurunan seperti tahun ini cukup terasa, bahkan bisa lebih dari separuh,” ujar Anton, Sabtu (15/8/2026).

Ia mengatakan perubahan kebiasaan konsumen ikut memengaruhi kondisi tersebut. Masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan untuk membeli perlengkapan kemerdekaan, terutama melalui platform perdagangan daring.

Menurut Anton, persaingan harga juga membuat pedagang yang mengandalkan penjualan langsung harus bekerja lebih keras. Pembeli dapat membandingkan harga dan jenis barang melalui telepon genggam tanpa perlu mendatangi lapak.

“Sekarang pembeli bisa melihat banyak pilihan dari rumah. Kalau harga di internet dianggap lebih murah, mereka tentu memilih pesan secara online. Pedagang seperti kami akhirnya hanya menunggu pembeli yang memang ingin melihat barang secara langsung,” katanya.

Sepinya pembeli membuat transaksi harian Anton tidak menentu. Pada hari-hari tertentu, barang yang terjual hanya satu atau dua produk.

Kondisi serupa dirasakan Farida, pedagang lainnya. Menurut dia, penjualan sempat bergerak naik pada awal Agustus, tetapi tidak bertahan hingga mendekati hari kemerdekaan.

“Awal bulan memang sempat ada peningkatan, tetapi setelah itu kembali melandai. Saya kira tahun ini pembelinya tidak sebanyak tahun lalu,” katanya.

Dampaknya terlihat pada perolehan omzet. Hingga sekitar sepekan menjelang 17 Agustus, Farida baru mengumpulkan penjualan sekitar Rp3 juta. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, omzetnya sudah berada di kisaran Rp6 juta.

Penurunan permintaan juga membuat Farida mengubah strategi stok. Jika sebelumnya ia berani menyediakan ratusan barang untuk mengejar lonjakan pembeli, tahun ini persediaannya dikurangi menjadi puluhan unit.

“Sekarang saya tidak berani mengambil barang terlalu banyak. Kalau stok berlebihan, setelah perayaan selesai barangnya belum tentu cepat terjual lagi,” ujarnya.

Harga perlengkapan kemerdekaan yang tersedia di lapak pedagang bervariasi, mulai sekitar Rp10 ribu hingga Rp400 ribu, bergantung pada ukuran dan jenis produk. Beberapa barang juga mengalami penyesuaian harga dibandingkan tahun lalu.

Bendera yang sebelumnya dapat diperoleh sekitar Rp20 ribu, misalnya, kini berada di kisaran Rp30 ribu. Sementara harga umbul-umbul yang sebelumnya sekitar Rp25 ribu naik menjadi sekitar Rp30 ribu.

Meski penjualan belum sesuai harapan, para pedagang tetap berharap permintaan meningkat pada hari-hari terakhir sebelum perayaan 17 Agustus, ketika masyarakat maupun instansi biasanya mulai melengkapi dekorasi kemerdekaan. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
atribut kemerdekaan kemerdekaan pedagang