PALANGKA RAYA – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Tengah memberangkatkan sekitar 137 peserta untuk mengikuti Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur.
Kalteng memiliki 15 suara yang akan berkontribusi dalam proses pemilihan, terdiri dari suara PWNU dan PCNU.
Ketua Tanfidziyah PWNU Kalteng, Dr HM Wahyudie F. Dirun, mengatakan pelepasan peserta Muktamar sebelumnya dilakukan secara sederhana usai pelaksanaan Salat Istisqa.
“Karena sifatnya dadakan dan acaranya juga sederhana setelah salat istisqa, saya yakin tidak ter-cover oleh media. Karena itu, kami mengundang lagi khusus media pada hari ini,” ujar Wahyudie di Sekretariat PWNU Kalteng, Senin (24/8).
Wahyudie juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah mendukung keberangkatan peserta, khususnya Pemerintah Provinsi Kalteng dan Polda Kalteng.
Menurutnya, dukungan hibah dari Pemprov Kalteng memberikan manfaat bagi keikutsertaan PWNU Kalteng dalam Muktamar.
Wahyudie menerangkan, peserta resmi Muktamar dari unsur PWNU maupun PCNU sebenarnya terbatas. Berdasarkan ketetapan hasil pleno PBNU, peserta resmi terdiri dari Rais Syuriah, Katib Syuriah, Ketua Tanfidziyah, serta Sekretaris wilayah atau sekretaris cabang.
Namun, Muktamar juga membuka ruang bagi peserta peninjau yang ingin mengikuti berbagai rangkaian kegiatan lain, seperti bedah kitab, bedah buku, agenda PBNU, serta kegiatan organisasi lainnya.
Karena itu, jumlah peserta dari Kalteng menjadi cukup banyak. Khusus PWNU Kalteng, sebanyak 30 orang diberangkatkan. Kemudian dari PCNU Kota Palangka Raya terdapat peninjau yang ikut serta, ditambah peserta tetap.
“Secara keseluruhan, jumlah yang berangkat mencapai sekitar 137 orang. Karena ini seperti hari raya bagi warga NU, banyak yang ikut. Semua pengurus kami undang untuk ikut, termasuk para kiai yang ingin hadir,” jelasnya.
Kembali ke basis sejarah NU Muktamar ke-35 NU sendiri digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang. Wahyudie menilai lokasi tersebut memiliki nilai historis karena berkaitan erat dengan sejarah berdirinya NU. Bahrul Ulum merupakan pesantren yang didirikan KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU sekaligus pencipta lagu Ya Lal Wathan.
Sementara mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU masih akan dibahas dalam Komisi Organisasi. Jika mengacu pada Muktamar sebelumnya, pemilihan menggunakan sistem one man one vote. Namun, terdapat opsi penggunaan mekanisme AHWA yang juga akan dibahas dalam forum tersebut.
Muktamar juga akan membahas berbagai persoalan organisasi melalui sejumlah komisi. Salah satunya Bahtsul Masail yang terbagi menjadi Komisi Maudhu’iyah, Qanuniyah dan Waqi’iyah.
Selain itu terdapat Komisi Program Kerja, Komisi Organisasi dan Komisi Rekomendasi. Terkait pemilihan Ketua Umum PBNU, Wahyudie mengatakan PWNU Kalteng belum menentukan kandidat yang akan didukung.
Sejumlah nama disebut telah muncul, namun pihaknya masih melihat dinamika yang berkembang menjelang Muktamar.
“Kami belum memiliki pilihan yang jelas dan belum memutuskan. Nanti kita lihat perkembangannya,” katanya.
Ia menyebut Kalteng memiliki 15 suara yang akan berkontribusi dalam proses pemilihan, terdiri dari suara PWNU dan PCNU.
Wahyudie berharap kepemimpinan PBNU mendatang tidak hanya berorientasi pada persoalan nasional, tetapi juga memberi perhatian terhadap kebutuhan NU di daerah.
“Harapan kami, kandidat yang akan datang adalah orang-orang yang tidak hanya memikirkan persoalan nasional. Walaupun secara nasional memang perlu, tetapi juga harus memperhatikan daerah,” tegasnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana