PALANGKA RAYA – Napas putri Eni Pujiwati yang baru berusia tiga setengah tahun semakin berat setelah hampir sepekan mengalami gangguan pernapasan. Dua hari terakhir menjadi titik terburuk. Di tengah kabut asap yang semakin pekat, Eni akhirnya membawa sang anak ke Rumah Aman Asap untuk mendapatkan pertolongan.
Minggu (30/8/2026) menjadi hari yang membuat Eni semakin panik. Napas anak bungsunya sudah sangat berat hingga tidak lagi kuat bertahan di rumah.
Baca Juga: Kabut Asap Palangka Raya: Balita Sesak Napas Terbantu Dengan Tim Rumah Aman Asap
“Sebenarnya sudah hampir seminggu dia tidak enak, napasnya berat. Tapi benar-benar sakitnya itu dua hari ini. Hari ini mungkin puncaknya, napasnya sudah sangat-sangat berat, sudah tidak kuat lagi,” tutur Eni saat ditemui di Rumah Aman Asap.
Rumah Aman Asap yang dikelola jaringan Respon Asap Karhutla Kalimantan Tengah (RAKAT) pun menjadi salah satu tempat warga mencari pertolongan ketika kualitas udara memburuk.
Koordinator Posko RAKAT Agung Sesa mengatakan, hingga saat ini sekitar 110 orang telah mendatangi Rumah Aman Asap. Mereka datang dengan beragam keluhan yang diduga berkaitan dengan paparan asap, mulai dari gangguan pernapasan hingga sesak yang membutuhkan nebulisasi.
“Yang paling banyak itu anak-anak. Ada yang usia lima, enam, tujuh tahun. Mereka datang karena sudah merasa tidak sanggup menahan sesak,” kata Agung di Rumah Aman Asap, Jalan Badak XVI Nomor 5, Kelurahan Bukit Tunggal.
Pertama Kali Anak Eni Sesak Separah Ini
Eni tinggal bersama ketiga anaknya di kawasan Rajawali, Palangka Raya. Rumahnya yang relatif dekat dengan Rumah Aman Asap membuat ia bisa segera membawa putrinya ketika kondisi pernapasan mulai mengkhawatirkan.
Baca Juga: Ada 22 Rumah dan Ruang Oksigen yang Tersebar di Palangka Raya
Bagi Eni, kondisi yang dialami anak bungsunya bukan sesuatu yang biasa.
Selama ini, sang anak tidak pernah mengalami gangguan pernapasan separah tersebut.
“Baru ini. Pertama kali seperti ini,” ujarnya.
Dua anak Eni lainnya yang telah berusia remaja masih dalam kondisi relatif sehat. Namun, keberadaan anak yang masih balita membuatnya semakin waspada ketika asap mulai menebal di sekitar tempat tinggal.
Menurut Eni, kualitas udara dalam beberapa hari terakhir terasa semakin buruk. Bahkan, jarak pandang di sekitar rumahnya sempat sangat terbatas.
“Kalau yang paling parah kayaknya sudah dua hari ini. Kemarin pagi dari depan gang saja tidak kelihatan sama sekali. Hari ini lebih parah sekali,” katanya.
Trauma Kabut Asap 2015 Kembali Terasa
Kekhawatiran Eni terhadap dampak kabut asap juga dipengaruhi pengalaman keluarganya pada 2015.
Ayah Eni memiliki riwayat penyakit jantung dan merupakan perokok berat. Saat kabut asap melanda pada 2015, kondisi kesehatan sang ayah memburuk.
Baca Juga: Kabut Asap Berulang dan Ancaman Kesehatan Generasional
Keluarga Eni bahkan sempat mengungsi ke Jawa untuk menghindari paparan asap.
Menurut Eni, kondisi asap saat itu turut memperburuk kesehatan ayahnya sebelum akhirnya meninggal dunia.
Pengalaman tersebut membuat kabut asap bagi Eni bukan sekadar persoalan jarak pandang atau terganggunya aktivitas sehari-hari.
Setiap kali asap kembali pekat, kekhawatiran terhadap kesehatan keluarganya ikut muncul. Terlebih, kini ia harus menjaga anak-anaknya yang masih kecil.
Bukan hanya anaknya yang mengalami gangguan pernapasan. Eni mengaku sempat merasakan napas berat ketika berada di tengah kondisi udara yang buruk.
Di Rumah Aman Asap, ia mendapatkan oksigen dan merasakan kondisi pernapasannya mulai membaik.
“Awalnya saya juga berat napas. Sekarang lumayan lega setelah dapat oksigen,” ucapnya.
Baca Juga: Maulana Adi Saputra Lolos dari Kobaran Api Karhutla, Luka Bakar di Tubuhnya
Menurut Eni, keberadaan Rumah Aman Asap sangat membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan awal ketika kualitas udara memburuk.
Apalagi, kondisi fasilitas kesehatan yang ramai membuat keberadaan tempat pertolongan seperti Rumah Aman Asap dinilai dapat menjadi pilihan awal bagi warga yang mengalami keluhan akibat paparan asap.
“Kalau pertama-tama ke rumah sakit, sekarang penuh banget. Jangan sampai ke rumah sakit. Yang utama ini sangat membantu,” katanya.
Pengalaman membawa anaknya mencari pertolongan membuat Eni berharap fasilitas serupa tidak hanya tersedia di satu atau dua lokasi.
Ia ingin pemerintah memperbanyak rumah aman asap agar masyarakat memiliki tempat untuk mendapatkan pertolongan ketika kabut asap kembali memburuk.
Baca Juga: Pertamina Beberkan Penyebab Antrean BBM Mengular di SPBU yang Ada di Palangka Raya
“Harapannya lebih banyak seperti ini, supaya lebih membantu masyarakat. Karena seperti saya pribadi, anak-anak ini sangat-sangat berat sekali,” ujarnya.
Bagi Eni, persoalan kabut asap kali ini bukan hanya tentang udara yang terlihat pekat atau aktivitas yang terganggu.
Ada kekhawatiran yang jauh lebih besar: bagaimana jika kondisi serupa kembali terjadi, sementara anak-anak masih harus tinggal dan beraktivitas di tengah udara yang tercemar?
“Nanti kalau seperti ini lagi, kalau kabut lagi, napasnya sesak lagi. Anak-anak kita masih kecil-kecil, rentan sekali,” pungkasnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana