PALANGKA RAYA – Komunitas alumni Universitas Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) Kalimantan Tengah menggelar aksi sosial peduli bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan POS Polisi Bundaran Besar Palangka Raya, Jumat (2/10/2026) sore.
Dalam aksi tersebut, puluhan alumni turun langsung ke jalan untuk membagikan paket bantuan kesehatan kepada pengguna jalan dan masyarakat sekitar yang terdampak paparan asap tebal. Bantuan tersebut disalurkan sebagai bentuk kepedulian nyata akademisi terhadap kondisi lingkungan daerah.
Ketua Panitia Kegiatan Aksi Sosial ILUNI UI Kalteng, Dr. Mandarin Guntur, menjelaskan bahwa aksi ini bermula dari kegelisahan bersama para alumni melihat dampak karhutla yang kian berkepanjangan dan mengganggu stabilitas kehidupan masyarakat di Kalimantan Tengah.
"Ini adalah aksi nyata dari sipitas akademika dan alumni UI. Kami berinisiasi mendorong pemerintah daerah agar melihat bahwa masalah karhutla ini sudah berkepanjangan. Perlu ada langkah bersama dari seluruh elemen pemerintah, swasta, dan masyarakat," ujar Dr. Mandarin Guntur di sela-sela kegiatan.
Baca Juga: PUSHAM FH UPR Bagikan 300 Masker dan Paket Kesehatan
Ia merincikan, dalam aksi sosial perdana ini pihak panitia membagikan sedikitnya 500 paket bantuan kesehatan. Bantuan tersebut dikemas khusus untuk menunjang daya tahan tubuh masyarakat di tengah buruknya kualitas udara.
"Ada sekitar 500 paket yang kami bagikan. Isinya bukan hanya masker KN95, tetapi juga dilengkapi dengan vitamin C, vitamin D, susu, dan makanan ringan (snek) untuk membantu menjaga imunitas warga," jelasnya.
Terkait keberadaan alumni di wilayah Kalteng, Dr. Mandarin mengungkapkan bahwa saat ini proses pendataan keanggotaan baru saja dimulai. Dari pendataan awal, tercatat ada ratusan alumni yang tersebar di berbagai daerah di Kalteng, sementara yang terlibat langsung dalam aksi di lapangan berjumlah puluhan orang.
"Saat ini yang terdaftar di grup WhatsApp kami ada 144 orang alumni UI di Kalteng, dan masih banyak yang belum terdata karena ini baru tahap permulaan. Untuk aksi pembagian masker hari ini, ada sekitar 25 orang alumni yang hadir langsung di Bundaran Besar," tambahnya.
Lebih lanjut, Dr. Mandarin menegaskan motivasi utama diselenggarakannya aksi ini adalah kepedulian sosial terhadap dampak multisektoral karhutla yang merugikan masyarakat luas, mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi harian.
Selain penanganan dampak, ILUNI UI Kalteng juga menyoroti pentingnya evaluasi tata ruang dan tindakan preventif secara tegas. Pihaknya mendesak pemerintah daerah untuk meninjau kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) terutama terkait kawasan zonasi lahan gambut, serta menuntut tanggung jawab korporasi swasta di bidang perkebunan dan pertambangan yang beroperasi di Kalimantan Tengah.
Dari pandangan medis, Pakar Kesehatan Paru, Dr. Eviriana Simarmata, Sp.P(K)Onk., yang turut hadir dalam aksi tersebut memaparkan bahaya laten dari paparan asap karhutla. Menurutnya, partikel berbahaya dalam asap dapat membawa dampak akut maupun kronis yang serius bagi organ pernapasan dan jantung.
"Komponen asap karhutla mengandung gas beracun seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur oksida, serta particulate matter (PM) hingga ukuran ultrafine 0,1 mikrometer. Partikel mikro ini sangat berbahaya karena bisa masuk hingga ke saluran napas paling dalam (alveolus) dan memicu sesak napas berat, gangguan metabolik, hingga masalah kardiovaskular," papar Dr. Eviriana.
Guna meminimalisasi risiko kesehatan, Dr. Eviriana menghimbau masyarakat untuk menerapkan langkah proteksi diri atau pencegahan primer secara tepat, salah satunya dengan tidak sembarangan memilih jenis masker saat beraktivitas di luar rumah.
"Untuk pencegahan primer, kami sangat menganjurkan penggunaan masker standar KN95 atau FFP94 yang menutup rapat area wajah. Jangan hanya mengandalkan masker kain atau masker bedah biasa karena daya saring terhadap partikulat meter sangat rendah.
Selain itu, warga diimbau menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan membatasi sirkulasi udara luar dan menghindari aktivitas memicu asap seperti merokok atau membakar sampah," pungkasnya.(*)
Editor : Agus Pramono