Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Dari Kearifan Lokal ke Algoritma Global: Perluas Ruang Aman bagi Masyarakat Adat

Yunizar Prajamufti • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 08:09 WIB

Oleh: Sani Lake

Dunia yang Melesat, Nilai yang Tertinggal

DALAM dua dekade terakhir, dunia telah berlari cepat menuju masa depan yang didorong oleh teknologi digital. Artificial Intelligence (AI), big data, dan Internet of Things menjadi mantra pembangunan baru. Tapi di tengah kegilaan itu, masyarakat adat justru makin dipinggirkan. Seolah-olah masa depan hanya bisa dibangun dengan membongkar masa lalu. Padahal, masyarakat adat menyimpan sesuatu yang dunia modern butuhkan dengan sangat mendesak: kearifan yang berakar, nilai yang lestari, dan relasi harmonis dengan alam.

Dunia Digital Butuh Nilai yang Hidup

AI adalah produk budaya, bukan makhluk netral. Ia bekerja berdasarkan nilai, kepentingan, dan data yang kita masukkan ke dalamnya. Bila dikuasai oleh korporasi dan negara yang abai pada masyarakat adat, AI akan mewarisi bias yang sama: mempercepat eksploitasi, memperbesar kesenjangan, dan mengabaikan keberlanjutan.

Tapi bagaimana jika AI diajarkan untuk belajar dari adat? Apa jadinya jika algoritma mengenali siklus tanam dan panen tradisional sebagai sistem keberlanjutan? Bagaimana jika sistem prediktif pertanian menyertakan pengetahuan lokal soal musim, hewan, dan rotasi tanah? Bisakah teknologi penginderaan satelit menyematkan status “wilayah keramat” yang tak bisa disentuh oleh alat berat?

Dalam pertanyaan-pertanyaan itulah, ruang aman bagi masyarakat adat bisa dibangun. Bukan untuk menjadikan mereka objek teknologi, tapi subjek etis yang membentuk masa depan digital.

Kearifan Lokal Bukan Barang Antik

Sayangnya, dalam banyak kebijakan, kearifan lokal masih dianggap nostalgia. Pemerintah lebih percaya pada model pertanian monokultur skala besar yang diprediksi oleh AI, ketimbang praktik agroekologi Dayak yang sudah terbukti menjaga tanah dan hasil panen selama ratusan tahun.

Padahal di balik sistem peladangan berpindah yang sering disalahpahami, tersimpan logika ekologis yang canggih, yaitu pembagian zona tanam dan konservasi, pengaturan waktu pembakaran dan reboisasi, Larangan menebang pohon keramat atau berburu di musim tertentu

Algoritma Global yang Berakar Lokal

Kita tidak menolak AI. Kita menolak AI yang tidak berpihak. Yang kita perjuangkan adalah model pembangunan digital yang: melibatkan masyarakat adat sejak awal dalam desain teknologi, Menghormati hak adat dalam regulasi teknologi, memasukkan pengetahuan lokal ke dalam sistem pendidikan dan riset AI, menjamin wilayah adat sebagai ruang aman digital maupun fisik. Kita ingin algoritma global yang punya akar lokal. Karena dunia tanpa akar akan tumbang.

Ruang Aman Itu Bernama Keadilan

Ruang aman bukan hanya soal wilayah fisik. Tapi juga ruang dalam sistem berpikir. Dalam kebijakan. Dalam data. Dalam program-program masa depan.

Saat proyek PSN, Food Estate, dan IKN menafikan masyarakat adat dari hulu hingga hilir, kita harus bertanya: untuk siapa ruang itu dibangun?

Masyarakat adat tidak anti kemajuan. Tapi kami menolak pembangunan yang mengorbankan kami. Kami ingin duduk di meja perundingan, bukan disingkirkan ke pinggir sungai dan ladang yang akan dikeringkan.

ilustrasi
ilustrasi

Dari Kalimantan, Kami Menyapa Dunia

Hari Masyarakat Adat Internasional 2025 memberi kita momen penting. Dengan tema “Indigenous Peoples and AI: Defending Rights, Shaping Futures”, dunia ditantang untuk memilih: apakah teknologi akan menjadi alat dominasi baru, atau jembatan ke masa depan yang adil?

Sesungguhnya dari Kalimantan, masyarakat adat Dayak menyampaikan suara:

“Kami tidak menolak masa depan. Kami hanya ingin masa depan itu memuat nama kami. Nilai kami. Dan pohon-pohon kami.”

“Jika dunia ingin belajar tentang keberlanjutan, belajarlah dari kami.”

Masa Depan Dimulai dari Nilai

Sebagai penutup dapat dikatakan bahwa saat dunia bicara tentang transisi energi, ekonomi hijau, dan kecerdasan buatan, kami bicara tentang nilai. Karena tanpa nilai, semua transisi hanyalah pengulangan dominasi dalam kemasan baru.

Masa depan bukan hanya soal teknologi, tapi soal arah. Dan arah itu hanya bisa ditemukan jika kita bersedia menengok akar.(*)

Sani Lake
Sani Lake

*Penulis merupakan pegiat HAM dan Lingkungan di Lembaga Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Kalimantan

 

Photo
Photo
Editor : Yunizar Prajamufti
#Algoritma #kearifan lokal #masyarakat adat