PADA malam yang gelap dan berkabut, sebuah kapal perang besar tengah berlayar di lautan lepas. Kapal itu dilengkapi teknologi canggih dan dipimpin seorang kapten berpengalaman. Tiba-tiba, dari kejauhan terlihat cahaya redup.
“Kapten, ada cahaya di depan. Sepertinya kapal lain,” lapor petugas jaga.
Kapten pun memerintahkan, “Kirim pesan. Minta mereka mengubah haluan 20 derajat.”
Balasan datang dari sumber cahaya: “Anda yang sebaiknya mengubah haluan 20 derajat.”
Kapten pun tersinggung dan dengan sedikit emosi ia memerintahkan petugas. “Katakan, ini kapal perang. Mereka harus menyingkir!”
Jawaban kembali muncul: “Ini mercusuar. Silakan Anda yang mengubah arah.”
Mendengar itu, seketika wajah kapten langsung berubah dan buru-buru memerintahkan krunya untuk mengubah arah sesuai arahan dari penjaga mercusuar.
Kisah sederhana ini sarat makna. Kapal perang itu merasa besar, kuat, dan berkuasa. Ia yakin semua harus memberi jalan.
Namun, di hadapannya berdiri sesuatu yang tak bisa ditundukkan: mercusuar. Diam, tak bergerak, tetapi kokoh pada posisinya.
Kesombongan sering lahir dari rasa memiliki kuasa. Jabatan, harta, ilmu, atau pengaruh membuat seseorang merasa selalu benar. Ia terbiasa diperhatikan, dituruti, bahkan ditakuti. Lama-lama ia lupa, di luar sana ada “mercusuar-mercusuar” yang tak bisa digeser oleh ego siapa pun.
Alhamdulillah, Ramadan kembali hadir dan siap mengajarkan kita merunduk.
Puasa melatih kita mengakui keterbatasan. Saat lapar dan haus, kita sadar: tubuh ini rapuh. Saat menahan emosi, kita sadar: diri ini masih harus dilatih. Semua atribut dunia yang kita banggakan tak berarti apa-apa di hadapan Allah.
Kesombongan membuat orang seperti kapal perang yang melaju dengan penuh percaya diri, tetapi lupa melihat realitas.
Kerendahan hati membuat kita mampu membaca situasi dan memilih selamat, bukan sekadar menang.
Hidup bukan tentang siapa yang paling keras memerintah, melainkan siapa yang paling bijak membaca tanda. Kadang, mundur sedikit justru menyelamatkan perjalanan panjang.
Rasulullah pun mengingatkan kita dengan tegas dalam hadis-nya.
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim).
Jangan sampai kita sibuk merasa besar, padahal sedang menuju karang. Karena pada akhirnya, bukan seberapa kuat kita berlayar, tetapi seberapa bijak kita menjaga arah. Barakallahu fiikum, selama berpuasa. (*)