“Kartini hari ini bukan hanya sejarah—ia ada di sekitar kita.”
KARTINI tidak pernah benar-benar pergi. Ia tidak hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi hadir di tengah kita—dalam langkah-langkah sunyi perempuan yang setiap hari berjuang menjalani hidup dengan segala perannya.
Hari ini, Kartini tidak selalu berdiri di mimbar atau tercatat dalam peristiwa besar. Ia justru hadir dalam sosok yang kerap luput dari sorotan: perempuan yang bangun sebelum fajar, menyiapkan kebutuhan keluarga, lalu bergegas menjalankan tanggung jawab di ruang kerja. Di sana, ia dituntut profesional, disiplin, dan berintegritas. Di rumah, ia tetap menjadi ibu, pendidik pertama, sekaligus penopang kehangatan keluarga.
Di situlah letak kekuatan perempuan—bukan pada kesempurnaan, melainkan pada keteguhan untuk terus berjalan, bahkan ketika lelah tidak sempat diucapkan. Perempuan tangguh bukan mereka yang tak pernah jatuh, tetapi mereka yang terus memilih bangkit, berulang kali, dalam diam.
Namun, ada sisi lain yang jarang dibicarakan. Ketangguhan perempuan sering dirayakan, tetapi beban yang mereka pikul kerap dianggap wajar. Perempuan didorong untuk hadir di ruang publik, tetapi pada saat yang sama tetap memikul hampir seluruh tanggung jawab domestik. Di titik inilah, emansipasi kerap berhenti pada akses—tanpa diikuti keadilan dalam pembagian peran.
Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang menjalani dua dunia sekaligus—tanpa ruang untuk lelah, tanpa ruang untuk gagal.
Dalam situasi ini, keteguhan hati menjadi kekuatan yang tak terlihat, tetapi menentukan. Keteguhan yang menjaga perempuan tetap berdiri di tengah tekanan, tetap sabar dalam dinamika keluarga, dan tetap waras dalam tuntutan yang terus bertambah. Ia tidak mudah goyah, tetapi bukan berarti tidak membutuhkan dukungan.
Menjadi perempuan tangguh seharusnya tidak dimaknai sebagai kemampuan memikul segalanya sendirian. Justru, di sanalah kebijaksanaan diuji—pada kemampuan mengenali batas, mengatur keseimbangan, dan berani meminta ruang. Perempuan yang kuat bukan hanya yang mampu bertahan, tetapi juga yang berani menegaskan bahwa beban hidup harus dibagi secara adil.
Semangat Kartini hari ini tidak cukup dimaknai sebagai simbol atau seremoni. Ia harus hidup dalam kesadaran baru: bahwa perempuan berhak tumbuh tanpa dibebani ekspektasi yang timpang. Bahwa perempuan bukan hanya penopang, tetapi juga manusia utuh yang layak didukung.
Sebab sejatinya, perempuan hebat bukan hanya mereka yang tampak bersinar di depan, tetapi mereka yang tetap teguh berjalan di balik layar—menjalankan peran dengan penuh tanggung jawab, meski tanpa sorotan.
Hari ini, kita tidak hanya mengenang Kartini.
Kita melihatnya—hidup dalam perempuan-perempuan di sekitar kita yang terus berjuang, sering kali tanpa jeda.
Dan kepada mereka, satu kalimat layak ditegaskan: kalian adalah Kartini masa kini
“Perempuan tangguh bukan yang tak pernah lelah, tetapi yang tetap melangkah meski lelah.” (*)
Oleh : Ns. Nita Theresia, S.Kep, M.Kes
Penulis adalah Dosen Keperawatan Poltekkes Kemenkes Palangka Raya