Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2 Mei
Oleh: Kusnida Indrajaya – Dosen Universitas Palangka Raya
Setiap 2 Mei, kita memperingati Hardiknas atau Hari Pendidikan Nasional. Namun, perayaan tersebut bahkan lebih dibutuhkan di tahun 2026 dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya, mengapa? karena dalam sekitar 19 tahun, akan tiba tahun Indonesia Emas 2045, dengan visi yang terkesan berani ! menjadi lima pusat ekonomi dunia dan pendapatan per kapita sebesar US$ 23.190.
Namun, ada satu indikator penting yang sangat kuat yang tidak lagi bisa kita sembunyikan di balik angka-angka yang indah itu yaitu Sumber Daya Manusia (SDM).
Tantangan ini semakin lama semakin berat bagi Kalimantan Tengah (Kalteng), hal tersebut dikarenakan Kalteng menjadi provinsi terbesar dari sisi luas di Indonesia dengan 153.564 km² dimana ukuran tersebut adalah satu setengah kali ukuran Pulau Jawa hal ini terjadi setelah penetapan pembagian wilayah administratif di Papua. Namun, apakah kualitas nalar yang dikembangkan juga sama tingkatnya dalam bentang wilayah seluas itu?
I. Paradoks Geografis dan Darurat Literasi
Menjadi provinsi terluas membawa konsekuensi logistik pendidikan yang berat.
Jarak dari pusat pemerintahan ke pelosok Murung Raya atau hulu Sungai Barito menciptakan disparitas akses yang nyata. Di saat daerah lain mulai mengadopsi kurikulum berbasis Artificial Intelligence, sekolah-sekolah di pelosok kita masih berjuang memastikan buku teks sampai tepat waktu.
Namun, isu yang lebih mendasar adalah kedalaman literasi. Meski angka buta huruf di Kalteng secara formal berada di bawah 1%, namun berdasarkan Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca), Kalteng masih kerap terjebak pada skor rendah hingga sedang (30–40 poin) padahal Literasi abad ke-21 bukan sekadar kemampuan mengeja, melainkan kemampuan berpikir kritis dan menyaring disinformasi. Tanpa fondasi ini, SDM kita akan menjadi kelompok yang paling rentan tergilas oleh arus modernisasi.
II. Pendidikan Tinggi: Lokomotif Kedaulatan SDM
Pendidikan tinggi di Kalimantan Tengah (Kalteng) juga perlu meninggalkan dunia “menara gading” untuk memutus rantai ketertinggalan. Kampus lokal, seperti Universitas Palangka Raya (UPR) dan kampus negeri juga swasta lainnya, dituntut mampu bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan yang adaptif terhadap kebutuhan daerah.
Upaya mendorong Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi agar jauh melampaui rata-rata nasional (sekitar 39%) harus menjadi tujuan utama. Apalagi, fenomena tekanan ekonomi yang mengakibatkan banyak lulusan sekolah menengah di Kalteng lebih memilih untuk bekerja dibanding melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Di sisi lain, pada tahun 2045, 400.000 hingga 600.000 tenaga kerja terampil dibutuhkan di Kalteng, yang nantinya difokuskan pada sektor ketenagakerjaan yang erat berkaitan dengan konsep Ekonomi Hijau (Integrasi Pengelolaan Air dan Lahan), teknologi pertanian modern, serta pengelolaan lahan gambut.
Pendidikan tinggi merupakan strategi penting untuk pengembangan sumber daya manusia, paling tidak dapat diupayakan berdasarkan tiga pilar:
- Relevansi Kurikulum: Kampus di Kalteng harus menjadi pusat riset gambut dan biodiversitas dunia. Kita butuh ahli agronomi yang lahir dari rahim pendidikan lokal untuk mengelola proyek strategis seperti Food Estate serta pengembangan pertanian yang modern dengan berwawasan lingkungan.
- Infrastruktur Digital: Mengingat luas wilayah, hybrid learning dan pengembangan kampus daerah adalah kebutuhan mutlak untuk memastikan mahasiswa di pelosok mendapatkan kualitas materi riset yang setara dengan mereka yang di kota.
- Kualitas Akademik: Menargetkan rasio dosen bergelar Doktor (S3) hingga minimal 25% pada tahun 2026 adalah investasi jangka panjang untuk mendongkrak kualitas riset daerah.
III. Menuju Seabad Indonesia Merdeka
Visi Emas Indonesia 2045 memproyeksikan bahwa kita berada di antara 15 pencapaian PISA (literasi, matematika, dan sains) teratas di dunia. Jika Kalteng puas dengan kondisi seperti sekarang, maka target ini akan sulit diubah. Proyek strategis nasional dan industrialisasi di Negeri Tambun Bungai membutuhkan teknokrat yang memahami karakter tanah, air beserta keseleruhan aspek yang melingkupinya, bukan sekadar pengamat dari rumah.
Bonus demografis bukan hanya sebuah anugerah. Meskipun itu akan menjadi berkah jika sumber daya manusia kita dididik dengan baik, apabila sistem pendidikan mengalami stagnasi dari waktu ke waktu, hal itu akan berubah menjadi liabilitas sosial yang meledak-ledak.
IV. Penutup: Komitmen untuk Bergerak
Hari Pendidikan Nasional 2026 perlu muncul sebagai titik balik bersejarah dalam komitmen kolektif. Pendidikan bukan hanya urusan Dinas Pendidikan atau Rektor; dibutuhkan kerja bersama, bagaikan satu kampung, dengan pemerintah, industri, dan masyarakat yang saling bersinergi.
Jika kita ingin menyaksikan Kalteng yang maju pada tahun 2045, maka peran peran sentral yang saat ini sedang di orkestrasi pada sejumlah kelas, ruang serta wahana pendidikan formal, nonformal dan informal saat ini harus dioptimalkan. Semua upaya tersebut dilakukan agar Kalteng menjadi laboratorium besar untuk menciptakan manusia yang hebat, bukan terikat oleh batas wilayah yang menjadi penghalang. Kita harus memastikan bahwa pada abad kemerdekaan yang akan datang, keturunan Dayak dan semua putra-putri Kalimantan Tengah diberdayakan untuk memimpin dari tanah mereka sendiri.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.
Melangkah ke Kalimantan Tengah yang lebih berkah dan penuh berkah untuk pendidikan serta semakin berkah untul masyarakatnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana