Oleh; Dr. Ihsan Mz, M.Psi
KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Fenomena fatherless, kondisi di mana anak tumbuh tanpa kehadiran fisik atau psikologis seorang ayah (Febriani & Iswinarti, 2025). Bukan sekadar masalah domestik, melainkan krisis sosial yang senyap.
Absennya figur ayah meninggalkan lubang emosional besar yang kerap kali memicu perilaku destruktif pada anak laki-laki maupun perempuan demi mencari validasi yang hilang.
Secara psikologis, ketiadaan figur ayah menciptakan sebuah kondisi yang dikenal sebagai father hunger, yaitu rasa lapar emosional akan kasih sayang, perlindungan, dan pengakuan dari seorang ayah (Perrin dkk., 2009).
Pada anak perempuan, kekosongan ini sering kali termanifestasi dalam pencarian validasi yang keliru dari lawan jenis.
Tanpa adanya standar perlakuan sehat yang dicontohkan oleh seorang ayah, mereka menjadi lebih rentan terhadap eksploitasi, terjebak dalam hubungan yang toksik, atau bahkan memilih jalan pintas yang ekstrem demi rasa aman yang semu.
Mereka keliru mengartikan perhatian instan sebagai bentuk kasih sayang yang selama ini mereka rindukan di rumah.
Di sisi lain, dampaknya bagi anak laki-laki tidak kalah mengkhawatirkan. Ayah adalah cetak biru (blueprint) pertama bagi anak laki-laki dalam memahami bagaimana menjadi seorang pria, mengelola emosi, dan memikul tanggung jawab.
Ketika figur ini absen, anak laki-laki kehilangan kompas moral dan bimbingan untuk menyalurkan energi maskulin mereka secara positif. Akibatnya, mereka rentan mencari kompensasi di luar rumah melalui kelompok sebaya yang destruktif, mengekspresikan kerapuhan mereka lewat tindakan agresif, tawuran, hingga penyalahgunaan zat terlarang sebagai bentuk pelarian sekaligus pembuktian identitas diri yang rapuh.
Krisis ini semakin diperparah oleh stigma sosial dan kurangnya sistem pendukung yang peka terhadap isu kesehatan mental anak-anak korban perceraian atau penelantaran. Ketika lingkungan sekitar justru menghakimi perilaku menyimpang mereka tanpa memahami akar traumanya, anak-anak fatherless ini akan semakin terdorong ke dalam fase apatis ekstrem.
Mereka merasa ditinggalkan oleh dunia, sebagaimana mereka merasa ditinggalkan oleh ayah mereka sendiri, sehingga siklus trauma ini terus berputar dan berpotensi diwariskan ke generasi berikutnya jika tidak segera diputus melalui intervensi yang tepat.
Kisah Bunga dan Realita Ekstrem Fatherless
Penulis mendapat kesempatan berbincang dengan Bunga (red-nama samaran), seorang mahasiswi yang ceria, komunikatif, namun memiliki kisah pilu yang dipicu oleh ketiadaan sosok ayah sejak dia kecil.
Perceraian orang tua di masa Sekolah Dasar (SD) merampas benteng perlindungan utamanya. Tanpa figur ayah kandung yang melindungi, Bunga menjadi korban pelecehan oleh ayah tiri dan paman sendiri.
Trauma beruntun ini memicu gangguan bipolar dan menyeretnya ke fase apatis ekstrem. Demi bertahan hidup, ia terjerumus ke dalam dunia pekerja seks komersial (PSK), yang kini mengharuskannya bergelut dengan risiko penyakit menular seksual (PMS) serta pengobatan psikiatris rutin.
Kisah Bunga adalah alarm keras. Bagi anak perempuan, ayah adalah standar pertama bagaimana mereka seharusnya diperlakukan oleh laki-laki.
Studi oleh Ellis dkk. (2003) dalam Child Development Journal menunjukkan bahwa anak perempuan yang sejak dini tumbuh tanpa sosok ayah, secara fisik atau psikis, memiliki risiko jauh lebih tinggi terjebak dalam aktivitas seksual dini dan kehamilan remaja.
Faktor Pemicu dan Akibat
Kehilangan figur ayah memicu kekosongan identitas, rendahnya self-esteem, dan hilangnya kontrol moral. Anak merasa tidak berharga, sehingga melampiaskannya melalui jalur yang salah.
Kekosongan identitas ini sering kali diperparah oleh hilangnya fungsi kontrol sosial yang biasanya diperankan secara tegas oleh seorang ayah.
Dalam struktur keluarga, ayah idealnya berfungsi sebagai penegak disiplin dan pembatas perilaku normatif. Ketika fungsi ini lumpuh, anak kehilangan orientasi tentang batas-batas moral yang boleh dan tidak boleh dilanggar.
Kondisi ini diperkuat oleh teori kontrol sosial (dikenal juga dengan sebutan “Social Bond Theory”) dari Travis Hirschi, yang menyatakan bahwa melemahnya ikatan emosional anak dengan orang tua akan secara signifikan menurunkan kepatuhan anak terhadap aturan sosial (Hirschi, 1969).
Akibatnya, mereka mengalami disorientasi moral dan memandang perilaku menyimpang sebagai hal yang wajar.
Rendahnya self-esteem atau harga diri juga membuat anak-anak fatherless sangat rentan terhadap tekanan kelompok sebaya (peer pressure).
Demi mendapatkan pengakuan yang tidak mereka peroleh di rumah, mereka rela melakukan tindakan berisiko tinggi demi dianggap "hebat" atau "ada" oleh lingkungannya.
Pada anak laki-laki, pelampiasan ini sering kali mewujud dalam bentuk kriminalitas remaja, tawuran, kecanduan judi online, hingga jeratan narkotika.
Mereka menggunakan zat-zat adiktif atau perilaku agresif sebagai mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang keliru untuk mematikan rasa sakit, kemarahan, dan penolakan yang mereka rasakan sejak kecil.
Penelitian Kao (2018) yang dikutip dari laman The Heritage Foundation mengungkapkan bahwa anak laki-laki yang tumbuh tanpa ayah berisiko dua kali lipat lebih besar terlibat dalam tindakan kriminal dan berakhir di lembaga pemasyarakatan.
Mereka menggunakan agresi sebagai topeng untuk menyembunyikan kerapuhan emosionalnya.
Sementara itu, bagi anak perempuan, kehancuran harga diri ini kerap membawa mereka pada keputusan untuk mengomodifikasi diri sendiri karena merasa tidak ada lagi hal berharga yang mereka miliki. Ketika seorang anak perempuan merasa "tidak diinginkan" oleh cinta pertama dalam hidupnya, yaitu ayahnya.
Ia akan memandang dirinya dengan sangat rendah. Rasa tidak berharga inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi munculnya keputusan-keputusan nekat yang merusak masa depan, karena dalam pikiran mereka yang terdistorsi oleh trauma, tidak ada lagi kesucian atau masa depan yang layak untuk dipertahankan.
Solusi Memutus Mata Rantai Fatherless
Sebagai upaya untuk menyelamatkan anak-anak yang kehilangan arah seperti Bunga dan anak-anak lainnya yang mengalami krisis identitas, diperlukan solusi multidimensi yang konkret.
Langkah pertama yang paling mendesak adalah menyediakan akses intervensi psiko-sosial yang terjangkau. Anak-anak yang mengalami trauma beruntun hingga mengidap gangguan mental tidak bisa pulih hanya dengan penghakiman sosial.
Pemerintah melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas) atau lembaga swadaya masyarakat harus menghadirkan layanan terapi mental gratis.
Pendekatan klinis seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) sangat diperlukan untuk menyembuhkan luka masa kecil (inner child), membangun kembali self-esteem yang hancur, serta menghentikan pelarian destruktif seperti kecanduan atau profesi berisiko tinggi yang mengancam kesehatan fisik mereka.
Kedua, fokus pada pembentukan sistem pendukung (support system) melalui figur pengganti (surrogate father). Ketika seorang ayah absen, komunitas, lembaga keagamaan, atau keluarga besar harus mengambil peran aktif untuk mengisi kekosongan emosional tersebut.
Kehadiran paman, kakek, guru, atau mentor komunitas sangat krusial bagi anak perempuan maupun laki-laki. Bagi anak perempuan, figur ini akan menjadi standar pelindung agar mereka tidak mencari validasi semu dari laki-laki yang salah.
Sementara bagi anak laki-laki, mentor ini berfungsi sebagai kompas moral dan contoh maskulinitas yang sehat, sehingga energi terpendam mereka tidak dilampiaskan pada tindakan agresif atau kriminalitas kelompok.
Selanjutnya langkah ketiga, sebagai upaya preventif jangka panjang wajib menyasar pada edukasi pranikah dan komitmen co-parenting.
Pemerintah dan lembaga agama harus mereformasi bimbingan pranikah menjadi kelas kesiapan mental yang ketat, bukan sekadar formalitas administratif. Calon orang tua harus memiliki pemahaman mendalam bahwa ayah bukan sekadar mesin pencari nafkah, melainkan pilar pelindung psikologis anak.
Bahkan dalam situasi perceraian sekalipun, mantan suami istri harus diedukasi untuk melakukan pengasuhan bersama (co-parenting) yang damai, demi memastikan anak tidak pernah kehilangan haknya atas kasih sayang dan bimbingan kedua orang tua kandung mereka.
Pada akhirnya, fenomena fatherless adalah luka psikologis yang dalam dan sunyi, namun dampaknya nyata meruntuhkan masa depan anak.
Kisah getir yang dialami Bunga dan kecenderungan destruktif anak laki-laki tanpa ayah adalah alarm keras bahwa absennya figur pelindung ini mampu mengubah jalan hidup anak menjadi begitu memilukan.
Menyelamatkan anak-anak fatherless bukan lagi sekadar urusan domestik sebuah keluarga, melainkan tanggung jawab moral kita bersama.
Tanpa penanganan yang tepat dan sistematis, anak-anak ini akan terus mencari sosok "ayah" di tempat yang salah. Dengan mengulurkan tangan, menyediakan ruang aman, dan memulihkan harga diri mereka, kita tidak hanya sedang menyembuhkan satu jiwa, tetapi juga sedang memutus mata rantai trauma agar tidak terwariskan ke generasi berikutnya.(*)
*)Penulis adalah Dosen Prodi BKI UIN Palangka Raya
Editor : Agus Pramono