KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Kasus pelecehan seksual dan pencabulan di lingkungan pesantren yang dilakukan oknum kiai atau pimpinan pondok kembali membuka mata kita.
Betapa banyak kerusakan besar ternyata berawal dari sesuatu yang dianggap kecil dan biasa, yakni sentuhan dengan yang bukan mahram.
Awalnya tampak sepele. Menepuk pundak. Mengusap kepala. Menggenggam tangan. Merangkul dengan alasan perhatian, pendidikan, atau kedekatan emosional (udah seperti anak sendiri).
Lama-kelamaan batas syariat runtuh. Yang dahulu terasa tabu berubah menjadi kebiasaan. Yang haram perlahan kehilangan rasa bersalah.
Padahal Islam sejak awal sudah menutup pintu itu dengan sangat tegas.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh, jika kepala seseorang ditusuk dengan jarum (pasak) dari besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya (bukan mahram)."
(HR. Thabrani).
Hadis ini bukan berlebihan. Justru inilah bukti betapa Islam memahami tabiat manusia. Syahwat jarang muncul secara tiba-tiba.
Ia tumbuh perlahan. Dari kebiasaan yang diulang. Dari kedekatan tanpa batas. Dari sentuhan yang awalnya dianggap aman.
Karena itu, Islam tidak hanya melarang zina, tetapi juga menutup semua jalan menuju zina.
Sentuhan fisik bukan perkara ringan. Tubuh manusia memiliki rasa, naluri, dan respons yang kadang tidak disadari.
Apa yang awalnya disebut “candaan”, “bimbingan”, atau “kasih sayang”, bisa berubah menjadi pintu penyimpangan ketika hati tidak dijaga.
Lebih berbahaya lagi ketika pelakunya adalah orang yang dihormati. Murid sering tidak berani menolak karena takut dianggap tidak sopan.
Korban memilih diam karena merasa pelaku adalah tokoh agama. Di sinilah penyimpangan sering menemukan ruang aman.
Maka jangan heran jika banyak kasus besar ternyata dimulai dari pelanggaran kecil yang terus dimaklumi.
Hari ini, sebagian orang terlalu mudah berkata, “Ah, cuma sentuhan biasa.” Padahal kebiasaan meremehkan batas itulah yang perlahan mengikis rasa malu dan kehormatan.
Ketika sentuhan nonmahram mulai dianggap normal, manusia sedang membuka celah bagi kerusakan yang lebih besar.
Islam menjaga jarak bukan karena membenci interaksi laki-laki dan perempuan, tetapi karena Islam ingin menjaga kehormatan keduanya.
Syariat hadir bukan untuk mengekang, melainkan melindungi.
Kita boleh menghormati guru, ustaz, kiai, atau pemimpin agama. Namun penghormatan tidak boleh membuat kita menoleransi pelanggaran syariat.
Tidak ada manusia yang suci dari hawa nafsu. Semakin seseorang dipuja tanpa batas, semakin besar peluang penyalahgunaan kekuasaan.
Hikmahnya, kita belajar menjaga batas sebelum penyesalan datang. Jangan biasakan hal yang dilarang syariat meski terlihat kecil.
Karena benteng kehormatan manusia sering runtuh bukan karena satu dosa besar, melainkan karena dosa-dosa kecil yang terus diberi toleransi.
Dan salah satu pintu pertama yang harus dijaga adalah sentuhan dengan yang bukan mahram.
Bismillah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita selama ini. (*)
Editor : Agus Pramono