Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Permainan

Rohansyah • Jumat, 5 Juni 2026 | 08:48 WIB
Rohansyah
Rohansyah

 KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Di sebuah pasar malam, seorang anak kecil tersenyum lebar. Dengan uang Rp10.000 dari ayahnya, ia mencoba melempar gelang ke botol. Jika masuk, ia mendapat hadiah. Jika gagal, uangnya hilang.

Di sudut lain, ada permainan memancing ikan plastik berhadiah. Ada mesin capit boneka. Ada roda keberuntungan. Ada permainan menebak angka. Semua tampak biasa. Semua tampak menghibur.

Tak ada yang menyebutnya judi.

Padahal pola yang sedang ditanamkan sama: mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan hadiah yang nilainya lebih besar dengan mengandalkan keberuntungan.

Banyak orang tua tanpa sadar memperkenalkan konsep ini sejak dini. Dimulai dari permainan tradisional yang mempertaruhkan uang receh. Berlanjut ke permainan berhadiah di pasar malam. Kemudian ke pusat hiburan modern yang ada di Mall dan sejenisnya dengan menawarkan tiket, poin, dan hadiah sebagai imbalan permainan.

Tentu tidak semua permainan adalah judi. Banyak permainan yang murni menguji keterampilan.

Namun masalah muncul ketika anak mulai terbiasa dengan sensasi yang lebih berbahaya: berharap mendapat keuntungan besar dari peluang yang kecil.

Otak manusia menyukai kejutan. Ketika menang, tubuh melepaskan dopamin yang menimbulkan rasa senang. Sensasi inilah yang dicari berulang-ulang. Bukan hadiahnya, tetapi perasaan saat menang.

Lama-kelamaan, pola pikir itu tumbuh. Sedikit modal, berharap untung besar. Sedikit usaha, ingin hasil luar biasa.

Ketika dewasa, lingkungan berubah. Permainan pasar malam berganti menjadi aplikasi di ponsel. Mesin capit berganti slot digital. Tiket hadiah berganti saldo elektronik.

Yang berubah hanya medianya. Cara berpikirnya tetap sama.

Tidak heran banyak pelaku judi online pertama kali menganggap aktivitas itu sekadar permainan. Mereka tidak merasa sedang berjudi. Mereka hanya mengejar sensasi yang sudah akrab sejak kecil.

Padahal Islam sejak 14 abad lalu telah memberikan peringatan yang sangat tegas tentang bahaya perjudian. Allah SWT berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung." (QS. Al-Maidah: 90).

Menariknya, Allah tidak hanya memerintahkan untuk tidak berjudi, tetapi memerintahkan untuk menjauhi judi. Para ulama menjelaskan, kata "jauhilah" menunjukkan larangan yang sangat kuat, termasuk menjauhi segala jalan yang dapat mengantarkan seseorang kepada kebiasaan berjudi.

Peringatan itu dilanjutkan pada ayat berikutnya:

"Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat." (QS. Al-Maidah: 91).

Realitas hari ini membuktikan kebenaran ayat tersebut. Berapa banyak keluarga yang retak karena judi online? Berapa banyak anak kehilangan biaya sekolah? Berapa banyak orang terjerat utang, kebohongan, bahkan tindak kriminal demi menutup kekalahan?

Hikmahnya, pendidikan karakter ternyata tidak dimulai ketika anak sudah remaja. Ia dimulai dari hal-hal kecil yang dianggap sepele.

Anak perlu belajar keberhasilan lahir dari proses, bukan keberuntungan. Rezeki datang melalui usaha, bukan spekulasi. Kemenangan sejati bukanlah memperoleh banyak dengan cepat, melainkan mendapatkan sesuatu secara halal dan bermartabat.

Allah SWT mengajarkan prinsip kehidupan yang sangat berbeda dari mentalitas judi: 

"Dan manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm: 39).

Ayat ini mengajarkan budaya kerja, kesungguhan, dan tanggung jawab. Bukan budaya untung-untungan.

Karena apa yang terlihat sebagai permainan hari ini bisa menjadi kebiasaan besok. Dan kebiasaan yang dibiarkan bertahun-tahun sering kali berubah menjadi nasib.

Maka sebelum mengajarkan anak cara menang, mungkin yang lebih penting adalah mengajarkan cara berjuang.

Sebab hidup bukan tentang mencari keberuntungan. Hidup adalah tentang membangun nilai melalui usaha yang benar. Bukan mengejar hasil instan, melainkan menempuh jalan yang halal dan penuh keberkahan.

Bismillah, semoga keluarga kita terhindar dari segala macam bentuk perjudian. (*)

Editor : Agus Pramono
#permainan bola anak #permainan #rezeki