Ketika Ilmu Tidak Selalu Menjadi Pelindung: Membangun Ketahanan Mental Mahasiswa di Tengah Krisis Emosional
Oleh: Maria Magdalena Purba
HARAPAN setiap orang tua saat melepas anaknya ke bangku perkuliahan adalah melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan sukses. Bagi dosen, membimbing mahasiswa bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan upaya membentuk generasi yang tangguh menghadapi tantangan zaman.
Namun, belakangan ini, potret keberhasilan akademik seringkali tertutup oleh awan mendung, krisis kesehatan mental yang melanda lingkungan kampus. Setiap kabar duka tentang kehilangan seorang mahasiswa bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm keras bahwa ada yang sedang retak dalam sistem pendukung kita.
Data terbaru tahun 2024-2025 menunjukkan fenomena ini bak gunung es yang mengkhawatirkan. Studi lintas sektoral pasca-pandemi melaporkan bahwa sekitar 40,83% mahasiswa di Indonesia mengalami depresi dan 44,19% mengalami kecemasan.
Bahkan, penelitian pada tahun 2025 menemukan bahwa ideasi atau pikiran untuk mengakhiri hidup diperkirakan sekitar 16,95% mahasiswa. Fakta ini menjadi tamparan keras bahwa di balik wajah-wajah penuh ambisi di ruang kelas, terdapat beban emosional yang sangat berat yang seringkali dipikul sendirian.
Tema "Ketika Ilmu Tidak Selalu Menjadi Pelindung" menjadi sangat relevan di sini. Seringkali kita berasumsi bahwa mereka yang belajar tentang kesehatan, psikologi, atau ilmu sosial akan lebih kebal terhadap tekanan mental.
Kenyataannya, pengetahuan teori tentang mekanisme koping atau stres tidak serta-merta menjadi perisai yang melidungi perasaan dari rasa kecewa, kehilangan, atau tekanan ekonomi. Mengetahui cara kerja depresi secara medis berbeda jauh dengan merasakannya secara nyata.
Inilah mengapa kesehatan mental tidak boleh dipandang sebagai persoalan kognitif semata, melainkan hasil interaksi kompleks antara faktor individu, sosial, dan lingkungan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan membaca buku teks.
Beban mahasiswa saat ini memang kian kompleks. Mereka dituntut tidak hanya unggul secara IPK, tetapi juga harus beradaptasi dengan perubahan ekonomi yang cepat, ekspektasi keluarga yang tinggi, hingga dinamika hubungan interpersonal yang kian rapuh.
Masalah percintaan atau konflik dengan sahabat seringkali dianggap sepele oleh lingkungan sekitar.
Padahal, bagi dewasa muda, hubungan romantis berkaitan erat dengan identitas diri dan rasa aman.
Ketika hubungan ini runtuh tanpa adanya sistem dukungan (support system) yang kuat, dampak psikologisnya bisa sangat destruktif, memicu rasa hampa yang berujung pada keputusan-keputusan impulsif.
Oleh karena itu, pendidikan kesehatan mental di kampus harus berevolusi dari sekadar "wacana" menjadi "keterampilan hidup". Ada dua keterampilan krusial yang perlu ditanamkan.
Pertama, regulasi emosi. Mahasiswa perlu dilatih untuk mengenali dan menerima emosinya, bukan menekannya. Memberikan "jeda" sebelum bereaksi adalah bentuk pertahanan diri yang sederhana namun kuat.
Kedua, keterampilan mencari bantuan. Kita harus menghapus stigma bahwa mencari psikolog atau konselor adalah tanda kelemahan. Sebaliknya, itu adalah bentuk keberanian dan kesadaran diri yang tinggi.
Pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan masyarakat di Kalimantan Tengah harus bersinergi membangun lingkungan yang transparan tentang kesehatan mental. Dosen tidak hanya menjadi pengajar, tapi juga pendamping yang peka terhadap perubahan perilaku mahasiswanya. Orang tua perlu menjadi pendengar yang hangat tanpa menghakimi, menciptakan rumah sebagai tempat pulang yang paling aman bagi emosi anak.
Sebagai penutup, mari kita sadari bahwa setiap mahasiswa yang sedang berjuang di Kalimantan Tengah adalah aset masa depan daerah kita.
Keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya diukur dari toga dan gelar, tetapi dari seberapa mampu kita menjaga api harapan di mata mereka tetap menyala.
Jangan biarkan mereka berjuang sendirian di dalam kegelapan emosionalnya. Pastikan mereka tahu bahwa ketika dunia terasa begitu berat, selalu ada tangan yang siap menggenggam, telinga yang siap mendengarkan, dan masa depan yang masih sangat layak untuk diperjuangkan. (*)
*) Penulis adalah Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Palangka Raya
References
Setiyadi, N. A., et al. (2025). Mental Health Outcomes and Their Correlates in The Post-COVID-19 Era Among University Students and Staff in Indonesia. National Journal of Community Medicine.
Murdhiono, W. R., et al. (2025). Determinants of Suicide Ideation among University Students in Indonesia: A Cross-Sectional Study. The Malaysian Journal of Nursing.
Astuti, F. D., et al. (2024). Mental Health Screening for University Students in the Special Region of Yogyakarta. Journal of Epidemiology and Public Health.