Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Membeku

Rohansyah • Jumat, 26 Juni 2026 | 07:00 WIB
Rohansyah
Rohansyah

 

APARAT kepolisian pernah menangkap seorang penjahat kelas kakap yang sudah lama menjadi buronan. Ia dikenal licik, berbahaya, dan tidak segan melukai siapa pun yang menghalangi.

Suatu malam, dalam proses pemindahan tahanan sementara, ia ditempatkan di sebuah ruang penyimpanan dingin yang berada di gudang lama. Ruangan itu tampak biasa saja, hanya sebuah ruang tertutup rapat dengan pintu besi tebal.

Namun di tengah malam, sesuatu terjadi. Saat penjagaan berganti, tanpa sengaja pintu ruang itu terkunci dari dalam. Sang penjahat terjebak di dalamnya.

Ia mulai panik. Ia berteriak, memukul pintu, dan meminta tolong sekuat tenaga. Tetapi tidak ada yang mendengar. Ruangan itu hening, gelap, dan terasa semakin dingin di benaknya.

Beberapa jam kemudian, ia ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Mayatnya seperti membeku, kulit pucat hingga kebiruan, dan wajahnya menunjukkan kepanikan yang belum sempat reda.

Aneh, ketika petugas memeriksa kembali sistem ruangan tersebut, tidak ada aliran listrik yang menyala. Dan ternyata mesin pendingin tidak pernah dihidupkan malam itu.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa manusia bisa dikalahkan oleh sesuatu yang sebenarnya tidak nyata. Bukan oleh dinginnya ruangan, melainkan oleh dinginnya harapan di dalam hati.

Ketika rasa takut menguasai pikiran, seseorang sering kali merasa semua pintu telah tertutup.

Ia melihat dirinya sendirian, tidak berdaya, dan tidak memiliki jalan keluar. Padahal, keadaan yang sebenarnya belum tentu seburuk yang ia bayangkan.

Begitulah manusia ketika jauh dari Allah. Sedikit ujian membuatnya cemas. Sedikit kesulitan membuatnya gelisah.

Sedikit kegagalan membuatnya merasa hidup telah berakhir. Ia lebih percaya pada bisikan ketakutan daripada janji pertolongan Allah.

Padahal, putus asa adalah salah satu jebakan terbesar yang melemahkan manusia. Saat seseorang berputus asa, ia berhenti berusaha.

Ia berhenti berdoa. Ia berhenti berharap. Bahkan terkadang ia lupa bahwa Allah selalu memiliki cara yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

Penjahat dalam kisah itu tidak mati karena suhu ruangan. Ia mati karena keyakinannya sendiri bahwa ia tidak akan selamat.

Demikian pula banyak orang yang "mati" semangatnya, "mati" harapannya, dan "mati" perjuangannya karena lebih sibuk menghitung besarnya masalah daripada mengingat besarnya kuasa Allah.

Allah berfirman, "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Az-Zumar: 53).

Ayat ini bukan hanya untuk mereka yang bergelimang dosa, tetapi juga untuk siapa saja yang sedang menghadapi kesulitan hidup.

Sebab sering kali jalan keluar tidak datang karena kita menemukan kekuatan dalam diri sendiri, tetapi karena kita kembali bersandar kepada Zat Yang Maha Kuat.

Barakallahu fiikum. (*)

Editor : Agus Pramono
#membeku #penjahat kelas kakap #khotbah jumat #Time Out #rohansyah